Goodbye With Smile (fan fiction)

Standard

Goodbye With Smile

Dia menundukkan kepalanya, sementara kemeriahan di atas panggung begitu memekakkan telinga orang-orang yang berada di sekitarnya.

“Seok Hoon ssi, kau akan naik setelah mereka selesai.” Kata seorang staf acara musik yang terlihat sangat sibuk dengan beberapa kertas dan walkie talkie yang di pegangnya.

            Ia hanya mengangguk singkat, tidak ada kata yang dikeluarkannya untuk merespon apa yang dikatakan orang yang baru saja bicara padanya, ia seperti selongsong kosong yang tidak tahu dimana setengah jiwanya tertinggal.

Hyeong* kau baik-baik saja?” Kim Jin Ho mendekatinya, “Apa kau bisa melakukannya saat ini?”

Senyum kaku tergurat diwajahnya, seakan ingin mengatakan pada teman SG Wannabe-nya bahwa ia baik-baik saja.

“Kami akan menemanimu sampai kau selesai, sebelum kembali untuk latihan konser besok.” Tambah Jin Ho “Yong Jun Hyeong mengatakan kami perlu bersamamu hari ini, dan aku pun berpikiran sama.”

            Lee Seok Hoon hanya mengangguk pelan, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada sahabat-sahabatnya ini bahwa ia sangat berterima kasih pada mereka, karena mereka bersedia menemaninya hari ini, bersedia membantunya melewati saat-saat yang dia sendiri merasa tidak sanggup untuk melewatinya.

“Seok Hoon ssi, sekarang saatnya kau untuk naik ke atas.” Staf yang tadi, kembali bicara padanya.

            Seok Hoon menghela nafas berat, mungkin ini saat baginya untuk kembali mengangangkat wajahnya. Ia harus bisa melewati semuanya, demi semua hal yang sudah dilaluinya, dan demi seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya.

            Jin Ho menepuk sebelah bahunya, tersenyum untuk memberikan semangat, sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya naik ke atas panggung acara musik mingguan ini. Sorakan dan jeritan meriah menyambut saat kakinya melangkah ke tengah panggung. Seok Hoon menebarkan arah mata dibalik kaca mata tipisnya kearah penonton. Beberapa diantara mereka membawa poster dirinya, meneriakan namanya dengan keras. Itu semua seperti memberinya sedikit kekuatan, membuatnya merasa dia harus bertahan untuk orang-orang yang mendukungnya. Walaupun itu sama sekali tidak mudah dilakukannya.

*          *          *

            Tiga bulan yang lalu mungkin awal dari semua hal yang begitu menyiksanya sekarang ini.

“Aku baik-baik saja.” Itu yang selalu dikatakan Lee Yoon Hee setiap kali Seok Hoon menatapnya dengan khawatir.

            Gadis itu memang mengatakan ia baik-baik saja, tapi Seok Hoon tahu sepenuhnya itu hanya upaya untuk menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan. Karena dalam pikiran Seok Hoon, tidak mungkin seseorang yang di diagnosa mengidap Leukemia stadium… (ah Seok Hoon tidak suka mengingat itu stadium berapa) akan baik-baik saja.

“Kau terlihat begitu lelah, dan kau sangat pucat.” Kata Seok Hoon, mengamati wajah kuyu Yoon Hee.

“Aku tidak bisa bilang kalau Kemoterapi itu tidak melelahkan.” Katanya, senyum kecil tetap tergurat di wajahnya. “Tapi setelah aku tidur sebentar, aku akan baik-baik saja.”

            Seok Hoon mengangguk pelan, sahabatnya ini memang begitu kuat melawan apa yang dirasakannya. Ia tidak pernah mengeluhkan kondisinya yang dari hari ke hari terlihat begitu lemah, berat badannya menurun dengan sangat drastis. Dia selalu berhasil menyembunyikan rasa sakit dan keluhan dari semua orang, termasuk dari Lee Seok Hoon sendiri, orang yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka kecil. Mungkin karena ibunya meninggal sejak ia kecil dan Yoon Hee hanya dibesarkan oleh ayahnya ia menjadi begitu tegar.

“Kau sebaiknya segera pergi, kau harus segera terbang ke Jepang bersama SG Wannabe untuk promo album Jepang kalian bukan.”

“Aku akan berada di Jepang selama 4 hari… berjanjilah kau akan baik-baik saja selama aku tidak ada disini.”

“Aku tidak akan mati begitu mudah, kau tidak perlu khawatir.” Kata Yoon Hee ringan tidak mempertimbangkan kalau apa yang baru saja dikatakanya memberi arti yang lain untuk orang yang peduli padanya. “Pergilah aku ingin tidur sebentar… bawakan aku syal yang hangat dan tebal untuk oleh-oleh nanti, kabarnya musim dingin tahun ini akan lebih dingin dari tahun kemarin.”

            Lee Yoon Hee mengatakan itu semua dengan matanya yang terpejam, mungkin benar dia sangat lelah. Seok Hoon mengusap pelan rambut gadis itu, berharap semua akan baik-baik saja.

*          *          *

“Untuk siapa itu?” Yong Jun bertanya saat mereka duduk dikursi pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Korea. “Kau sepertinya membelinya secara khusus.”

            Seok Hoon tersenyum, tangannya tetap memegang syal lembut berwarna putih dipangkuannya.

“Ini untuk Yoon Hee.” Jawabnya pelan. “Dia memintaku membelikannya ini untuk oleh-oleh.”

“Kau sudah mengatakan padanya bahwa kau memiliki perasaan yang lain untuknya?”

Seok Hoon langsung menoleh kearah Yong Jun, heran mengapa Yong Jun sampai bisa bertanya seperti itu padanya.

“Perasaan apa?”

“Kau tidak usah berpura-pura tidak tahu, hanya dengan melihat semua hal yang kau lakukan belakangan ini. Aku tahu kau menyukai sahabat kecilmu itu.”

            Tidak ada bantahan, rasanya percuma menutupi semuanya sekarang, terutama dari Yong Jun yang biasanya tahu segalanya walaupun ia tidak pernah bercerita.

“Penggemarmu akan menangis histeris jika mengetahui kau mencintai seseorang, dan fans-mu itu akan tiba-tiba menjadi antifans setelah mengatakan kau mengkhianati mereka.”

            Seok Hoon hanya tersenyum mendengar semua perkataan Yong Jun, mungkin Yong Jun tahu benar seperti apa tepatnya saat itu. Dulu mungkin dia melewati hal yang sama, saat Yong Jun mengumumkan hubungannya dengan artis Hwang Jung Eum, Seok Hoon memang belum bergabung dengan SG Wannabe, tapi ia tahu cerita keseluruhannya dari Jin Ho. Bahkan Jin Ho mengatakan ada seorang fans yang datang ke rumah Yong Jun, menangis dan meminta Yong Jun segera memutuskan hubungannya dengan pacarnya, dan tidak lama fans itu membentuk semacam situs antifans untuk Yong Jun, saat keinginannya tidak terpenuhi.

“Aku belum memulai apapun, dia bahkan belum menyadari apapun tentang ini semua.” Seok Hoon menunduk lesu, tangannya meraba syal halus dipangkuannya “Aku takut perasaan ini membebaninya.”

“Kau harus mengatakannya… melihat kondisi Yoon Hee, aku rasa akan sangat baik jika kau segera mengatakan semuanya.”

            Seok Hoon terdiam, benar yang dikatakan Yong Jun, mungkin hal terbaik untuknya menyatakan semua yang dirasakannya sebelum semuanya terlambat.

*          *          *

“Kau yakin tidak akan pulang bersama kami?” tanya Yong Jun, sesaat setelah mereka keluar Bandara Incheon.”

“Aku akan langsung pergi ke rumah sakit, aku akan menggunakan taksi.” Jawab Seok Hoon. “Aku menitipkan barang-barangku saja.”

“Baiklah… kami mungkin akan datang menjenguk kesana setelah beristirahat dan membereskan semuanya.”

            Seok Hoon mengangguk, melambai sekenanya saat rombongan SG Wannabe jalan lebih dulu, meninggalkannya yang masih terdiam, sebelum akhirnya beranjak untuk meninggalkan Bandara.

            Di dalam taksi Seok Mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang dibawanya, menghidupkan ponsel yang dimatikan selama di dalam pesawat tadi. Ada begitu banyak pesan selama ia mematikan ponselnya. Tapi hanya ada satu pesan yang membuatnya seperti begitu sulit untuk bernafas. Hanya satu kalimat singkat dari ayah Yoon Hee, yang mengatakan ‘Keadaan Yoon Hee memburuk.’

Ahjussi bisa tolong dipercepat.” Seok Hoon meminta sopir taksi, seraya setengah panik terus berusaha menghubungi, nomor siapa saja yang kemungkinan sedang berada di rumah sakit, siapa saja yang bisa ditanyainya tentang kondisi Yoon Hee. Tapi tidak ada satu pun yang menjawab teleponnya.

            Kepanikan Seok Hoon semakin terasa saat ia berjalan di koridor rumah sakit menuju kamar rawat, dadanya terasa nyeri merasakan detak jantungnya yang begitu cepat. Matanya menangkap sosok ayah Yoon Hee duduk di luar ruang rawat Yoon Hee, wajahnya terlihat tertunduk lesu. Seok Hoon tidak mau ngartikan apapun untuk apa yang dilihatnya sekarang, yang ia perlukan hanya bertanya, bukan menduga-duga.

Ahjussi apa yang terjadi?”

Ayah Yoon Hee mendongak, Seok Hoon bisa melihat mata ayah Yoon Hee begitu merah, membuat perasaannya semakin tidak karuan saja.

“Kau sudah sampai.” Katanya lirih, “Kau seharusnya beristirahat setelah sampai ke Korea, maaf aku meninggalkan pesan itu untukmu.”

“Apa yang terjadi pada Yoon Hee?” Seok Hoon mengabaikan semua kata-kata ayah Yoon Hee.

Tidak langsung menjawab ayah Yoon Hee menghela nafas berat, mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

“Yoon Hee… Yoon Hee, mungkin tidak akan sadarkan diri beberapa saat.” Kata ayah Yoon Hee akhirnya.

            Seok Hoon sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan ayah Yoon Hee padanya, untuknya akan sangat baik kalau ayah Yoon Hee mengatakan semua dengan jelas. Namun setelah semua akhirnya terjelaskan, Seok Hoon berpikir akan lebih baik jika ini tidak terjelaskan.

*          *          *

            Ini rasanya seperti… ah Seok Hoon tidak tahu dengan pasti ini rasanya seperti apa. Melihat gadis yang biasa tersenyum ceria padanya mendadak terbaring tanpa reaksi membuatnya merasa begitu kosong.

            Tidak banyak yang dimengerti Seok Hoon dari semua penjelasan dokter tentang keadaan Yoon Hee, yang ia tahu dan mengerti sekarang ini adalah, Yoon Hee terbaring koma.

            Saat awal ia melihat Yoon Hee begitu sering jatuh pingsan, dan terkadang mimisan saat mereka masih bersekolah di Incheon dulu, ia tidak pernah menyangka Yoon Hee menderita penyakit yang begitu parah. Tadinya saat membopong Yoon Hee ke ruang kesehatan sekolah dulu, Seok Hoon hanya mengira sahabatnya ini hanya kelelahan atau semacamnya, nyatanya…

“Aku sudah membawakan apa yang kau mau, aku membeli yang sangat tebal dan hangat.”

            Seok Hoon tersenyum kearah Yoon Hee yang terbaring dengan alat bantu pernafasan dan berbagai alat medis lainnya yang Seok Hoon sendiri tidak begitu mengerti fungsinya untuk apa. Syal putih yang dibawanya dari Jepang tergenggam ditangannya.

“Kau harus membuka matamu untuk melihatnya, dan kau harus bangun dari tidurmu agar aku bisa memakaikan syal ini.”

            Seok Hoon mendongakkan wajahnya, berharap ia bisa menahannya sekarang, ia tidak ingin airmatanya jatuh dihadapan Yoon Hee, karena ia yakin Yoon Hee akan mengejeknya jika mendapati Seok Hoon menangis di depannya, seperti yang biasa dilakukannya ketika Seok Hoon sering menangis saat melewati masa sulitnya dulu.

“Lee Yoon Hee bangunlah… aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku mohon.” Kata Seok Hoon, seraya mengenggam tangan lemas Yoon Hee.

*          *          *

Langkah Seok Hoon terhenti saat melihat ayah Yoon Hee, berdiri menangis di luar ruang rawat Yoon Hee.

“Tuhan, tolong jangan… jangan terjadi.” Batin Seok Hoon, hanya itu kata-kata yang berputar dalam pikirannya sejak ia keluar dengan tergesa-gesa dari Kyunghee University Peace Center, selesai SG Wannabe membuka konser nasional mereka tahun ini.

Ahjussi… apa yang terjadi, aku tidak mendengar suaramu dengan baik ditelepon tadi.”

            Ayah Yoon Hee hanya mendongak, menatap Seok Hoon dengan mata merahnya. Tidak ada kata yang keluar darinya, ia hanya diam, dan Seok Hoon merasa tubuhnya melemas saat ayah Yoon Hee menggeleng putus asa sebelum kembali menundukkan wajahnya.

            Seok Hoon segera masuk ke dalam ruang rawat Yoon Hee, ia tidak ingin semua tanpa jawaban seperti ini, ia harus melihat sendiri apa yang terjadi dengan Yoon Hee… Apa yang dilakukan petugas rumah sakit itu, mengapa mereka mencopot semua alat yang tadinya melekat ditubuh Yoon Hee. Tanpa banyak berpikir Seok Hoon langsung mendekati tubuh Yoon Hee yang masih terbaring di atas ranjang rawatnya. Tangannya langsung menggenggam tangan Yoon Hee, tangan ini masih hangat, sangat hangat, jadi tidak mungkin Yoon Hee sudah… demi Tuhan tolong jangan.

“Demi Tuhan Yoon Hee bangunlah… kau pernah melakukan ini saat kita kecil, kau hanya berpura-pura seperti biasanya bukan.”

            Seok Hoon sendiri tidak mengerti apa yang dilakukannya, ia sadar ini semua bodoh, tapi demi Tuhan ia tidak ingin ini terjadi. Air mata yang gagal ditahannya sudah mengaburkan penglihatannya, membasahi kaca mata yang dipakainya. Tangannya tetap menggenggam kuat tangan Yoon Hee, seakan jika ia melepaskan genggaman itu Yoon Hee akan benar-benar pergi untuk selamanya.

            Ayah Yoon Hee memegang bahu Seok Hoon, seraya berkata lirih.

“Ia sudah tenang sekarang.”

            Kalimat itu terasa begitu menyesakkan untuknya, menghancurkan upayanya untuk menyangkal semua hal mengerikan yang terjadi sekarang. Seok Hoon tidak bisa lagi menahan semua kesedihannya, ia tidak bisa berpura-pura menjadi orang yang kuat. Ini terlalu menyesakkan untuk hanya dirasakan, ini terlalu menyiksa, hingga ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghadapi semuanya.

            Gadis terpenting dalam hidupnya kini tidak mungkin tersenyum lagi padanya, tidak mungkin lagi menyapanya… dan yang paling menyedihkan dari semuanya gadis itu pergi sebelum ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

*          *          *

            Seok Hoon mendongakkan wajahnya, mengguratkan senyum untuk menyapa semua orang yang sedang menatapnya di atas panggung. Dia harus bisa melakukan ini, dia tidak boleh menjadi Lee Seok Hoon yang lemah, seperti yang dulu pernah diminta Yoon Hee padanya.

            Hari ini adalah hari pertamanya tampil sendiri tanpa dua member SG Wannabe lainnya. Untuk menyanyikan single solo pertamanya yang ditulis komposer terkenal Korea. Kesedihan ini selalu kembali terasa setiap kali ia menyanyikan lagu ini, dan hari ini untuk pertama kali ia harus menyanyikan lagu ini di depan begitu banyak penonton.

            Dentingan piano segera terdengar, Seok Hoon menghela nafas pelan, ia harus bisa menyanyikan lagu ini dengan baik. Dan dengan segala yang dirasakannya ia mulai mengalunkan tiap bait yang pelan-pelan membawa kesedihan itu kembali padanya.

나의 기억 다른 건 다 지운다 해도
walaupun kukatakan akan melupakan semua kenanganku yg lain
마지막 모습만은 남겨지게..
aku ingin kenangan indah tentangmu yg terakhir masih tertinggal
세상 가장 멋진 미소로 떠나는
meninggalkan dunia ini dengan senyuman yg terindah
그 길에 배웅하고 싶어..
kuingin menyimpan jalan yg kau tinggalkan

행복하길.. 그 어디에서든..
berbahagialah…dimanapun kau berada
아름답길.. 그 언제까지나..
selalu cantik…sampai kapanpun
새로 시작될 니 사랑과 지난 추억을 위해
untuk memulai cinta yg lain dan meninggalkan semua kenangan
가슴 미어져도 웃으며 안녕..
walaupun hatiku menangis, kuucapkan perpisahan dengan senyuman

너를 위해서 웃으며 안녕..

untukmu, kuucapkan perpisahan dengan senyuman

 

Air mata mendadak mengalir dari mata Seok Hoon, selesai ia menyanyikan bait terakhir lagu itu, membuatnya terpaksa membalikkan tubuh untuk menutupi semuanya.

Gwencana*…gwencana.” Seok Hoon bisa menangkap penonton berteriak dari arah tempat duduk mereka. Membuat Seok Hoon sepenuhnya berterima kasih atas dukungan mereka.

            Ia kembali membalikkan tubuhnya kearah penonton, membungkukkan tubuhnya untuk berterima kasih, sebelum berjalan menuruni panggung. Cukup baginya untuk terlarut dengan semua kesedihan ini, ia yakin Yoon Hee tidak ingin melihatnya terpuruk terlalu lama. Kenangannya bersama Yoon Hee akan teringat indah selamanya, perasaannya untuk Yoon Hee akan ia simpan di dalam bagian hatinya. Hingga suatu hari nanti ia dapat melepas kepergian Yoon Hee dengan senyuman.

-The End-

Dedicated to SG Wannabe

 

*Hyeong (형) : Panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari laki-laki yang lebih muda.

*Ahjussi (아저씨): Panggilan Bapak/Paman, seseorang yang lebih tua

*Gwencana (괜찮아) : Tidak apa-apa.

 

credit : nyonyakim

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s