Because I Love Her (fan fiction)

Standard

Saat pertama kali melihatnya aku tahu aku tertarik padanya. Tapi aku tidak pernah menyangka perasaan ini akan begitu dalam dan menyesakkan.

“Because I Love Her”

Dia bukan seseorang yang aku kenal cukup dekat, aku hanya bertemu dengan beberapa kali saja, tidak banyak yang kami bicarakan, aku dengannya hanya saling menyapa. Kenyataan yang sangat aku sesalkan.

“Kau sudah datang.” Kata yang pasti diucapkan Seok Hoon hyeong untuk menyambutku setiap kali aku muncul di ruang siarannya. Dan dia akan mengguratkan senyum paling sempurnanya seperti biasa, seakan aku ini fans yang mengidamkan senyumannya.

            Entah kenapa, ada sesuatu yang tidak aku sukai darinya belakangan ini, membuat perasaanku selalu tidak nyaman setiap kali aku melihat orang ini. Dia terlalu diberkahi banyak hal oleh Tuhan, dan piciknya aku marah dengan semua itu.

“Kau sudah makan.” Kembali Seok Hoon hyeong bertanya padaku, dan rasanya aku masih enggan untuk menjawabnya. “Hei Kim Jin Ho, ada apa denganmu, kau sakit?”

            Aku mengerjapkan mataku, tersenyum kaku padanya.

“Aku baik-baik saja hyeong, hanya sedikit lelah.” Jawabku akhirnya.

“Ya kita semua lelah akhir-akhir ini, banyak hal yang harus kita lakukan untuk persiapan konser SG Wannabe, tapi semua akan kita lalui dengan baik.”

            Ia menepuk pundakku seperti biasanya, menempatkan dirinya sebagai anggota tertua yang sangat bijaksana. Satu hal yang membuatku tidak punya alasan untuk tidak menyukai.

Annyeonghaseyo…” Seseorang masuk ke dalam ruang siaran, membungkuk sopan untuk menyapa semua orang. “Maaf aku datang terlambat malam ini.”

            Wajahnya begitu cantik dengan senyum di wajahnya. Ya memang ia selalu terlihat sangat cantik, paling tidak itu yang terlihat di mataku.

“Ah Jin Ho ssi, kau datang lagi… apa kabar?” Sapanya, seraya menghampiriku dengan wajah penuh senyumnya. Andai dia tahu yang dilakukannya membuat jantungku berdetak begitu cepat.

“Iya Hye Jin ssi, aku diminta Seok Hoon hyeong untuk bergabung dalam siaran malam ini.” Jelasku, bersyukur sekali aku tidak tergagap saat mengatakan semuanya.

            Han Hye Jin, gadis itu mengangguk cantik menyusul perkataanku. Entah sejak kapan ia selalu terlihat cantik di mataku apapun yang dilakukannya. Sejak pertama kali aku bertemu dengannya mungkin. Aku mengenalnya sebagai salah satu staf Ten Ten Club, dimana Lee Seok Hoon yang menjadi DJ tetap program siaran ini setiap malamnya. Awalnya aku hanya datang bersama SG Wannabe sebagai bintang tamu yang datang untuk memberi dukungan pada Seok Hoon hyeong diawal masa siarannya. Kini aku datang sebagai diriku sendiri, mengatakan aku bersedia menjadi pendamping tetap Lee Seok Hoon di siaran Ten Ten Club hari Rabu, menggantikan seniorku, salah satu anggota group vokal terkenal V.O.S yang akan masuk Wajib Militer bulan ini.

“Aku senang kau datang. Aku sangat suka kau bernyanyi dalam siaran ini, aku seperti dalam sebuah konser jika mendengar kau bernyanyi disini.”

            Aku tersenyum, berharap wajahku tidak terlihat seperti udang rebus saat ia mengatakan semua itu padaku. Karena semua pujian darinya tanpa alasan yang jelas selalu membuatku merasa senang sekaligus malu. Dia menyukai suaraku itu yang selalu dia katakan padaku.

“Kita harus segera memulai siaran.” Seok Hoon hyeong memukul kepalaku dengan gulunga kertas yang dipegangnya, membuyarkan segala hal berbunga-bunga dalam pikiranku.

            Tanpa banyak kata aku beranjak dari kursi yang aku duduki, berjalan masuk ke ruang siaran mengikuti Lee Seok Hoon.

“Semoga berjalan baik Jin Ho ssi.” Hye Jin mengatakan kalimat yang sama setiap kali aku akan masuk ruang siaran, seakan ia melakukan itu semua untuk memberikan semangat untuk amatiran sepertiku, dan itu menyenangkan.

“Mohon bantuannya Hye Jin ssi.”Aku membungkuk sopan, menyembunyikan senyum senang dari tatapannya.

            Seperti biasa siaran Ten Ten Club dimulai dari jam 8 malam sampai jam 10 malam. Dua jam yang rasanya menjadi rentan waktu yang penuh debaran bagiku. Mungkin terkesan aneh kalau aku mengatakan aku tegang sepanjang siaran ini, orang yang biasa berdiri di depan begitu banyak penonton, rasanya janggal harus gugup saat berada di ruang siaran selama 2 jam, untuk bernyanyi di depan pendengar yang tidak melihatku. Tapi dengan keberadaan Han Hye Jin yang selalu memperhatikan ruang siaran, dimana aku berada di dalamnya, itu rasanya sama seperti saat naik ke atas panggung diawal aku debut dulu. Dan satu hal paling menyenangkan dari semuanya, aku sangat suka saat ia bertepuk tangan dari luar ruang siaran selesai aku bernyanyi dalam siaran ini. Itu rasanya seperti aku mendapat tepukan tangan meriah dari ribuan penonton konser SG Wannabe saat aku tampil solo.

*          *          *

“Aku sedang tidak bisa memakan ini semua.” Kata Seok Hoon hyeong, saat kami duduk diluar ruang siaran, 10 menit setelah siaran selesai. “Kau tahu, aku harus mengontrol makananku mulai sekarang ini.”

            Han Hye Jin terlihat menunduk menatap kotak bekal yang dibawanya, aku melihat ada sedikit kekecewaan di wajahnya.

“Maaf kan aku seonbae aku tidak tahu kau sudah mulai diet-mu hari ini.” Katanya pelan. “Kalau aku tahu kau memulai diet hari ini, aku tidak akan membawakan makanan yang tidak bisa kau makan seperti ini.”

“Ini jelas bukan salahmu, aku hanya mengambil saat yang tidak tepat untuk mengontrol makanku.” Seok Hoon hyeong berkata sambil sekali lagi memberikan senyum sempurnanya. “Terima kasih kau sudah membawakan bekal ini untukku, lain kali aku pasti memakannya. Aku sangat menyesal tidak bisa memakannya hari ini, itu semua terlihat lezat.”

“Tidak apa-apa seonbae, lain kali aku akan membawakan menu lain yang baik untuk diet-mu.” Hye Jin berkata pelan, masih ada sedikit kekecewaan terlihat. Membuatku hanya bisa menatapnya dan semua makanan yang dibawanya dengan prihatin.

            Ponsel Lee Seok Hoon berdengung, membuatnya segera beranjak dari kursinya.

“Aku harus bertemu dengan seseorang di lobi bawah. Kalian makanlah dulu, aku akan kembali setelah ini. Jin Ho kau harus menungguku, kita keluar sama-sama.” Kata Seok Hoon hyeong sebelum berjalan bergegas keluar, meninggalkan aku berdua bersama Hye Jin dan beberapa staf radio yg sepertinya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Terima kasih untuk bekalnya Hye Jin ssi.” Kataku, sekedar untuk mengembalikan perhatian Hye Jin yang sedari tadi hanya diam setelah Seok Hoon hyeong pergi.

“Oh iya… makan yang banyak Jin Ho ssi.” Katanya seakan baru saja menyadari keadaan di sekitarnya. “Aku sengaja membuat banyak karena kau akan datang hari ini.”

“Seok Hoon hyeong belakangan memang sedang kembali memulai dietnya, kau tahu dia sangat serius dalam hal ini, karena dia bersusah payah untuk mendapat berat badannya yang sekarang ini.”

            Han Hye Jin hanya mengangguk mendengar semua yang aku katakan. Senyum kecil tetap terlihat di wajahnya.

“Aku tahu… aku mengenalnya pada masa-masa itu, aku sering melihatnya begitu pucat dengan diet ketatnya saat kami masih di universitas dulu.”

“Kalau begitu kau tidak akan kecewa kalau bagian Seok Hoon hyeong aku yang makan.”

“Tentu saja tidak… aku senang kalau ada yang memakan apa yang aku buat, aku malah akan sangat berterima kasih kalau kau mau menghabiskannya.”

“Aku akan menghabiskannya. Porsi makanku cukup besar, dan aku sedang tidak diet.” Kataku, mengambil satu potong kimbab dengan sumpit yang ku pegang, memasukkannya ke dalam mulut. “Kau pandai memasak Hye Jin ssi, selalu menyenangkan siaran disini dan memakan bekal buatanmu setelahnya.”

“Kalau kau menyukainya, aku akan membuatkannya untukmu setiap minggunya.”

“Benarkah… aku akan sangat berterima kasih untuk itu.”

            Han Hye Jin mengangguk mengiyakan, senyum tetap mengembang di wajah cantiknya, membuat rasa menyenangkan tidak terjelaskan memenuhi benakku. Lee Seok Hoon mungkin tidak tahu apa yang baru saja dia lewatkan. Perhatian dari seorang gadis yang begitu baik, seorang yang gadis yang diam-diam aku sukai tapi malah menyukai orang lain.

*          *          *

            Aku menatap kearah Seok Hoon hyeong yang duduk di salah satu sudut ruang latihan vokal kami, wajahnya terlihat menunduk lesu. Aku sudah terbiasa melihatnya seperti ini, tepatnya sejak 2 tahun lalu.

“Ajak dia untuk makan siang bersama kita.” Kata Yong Jun hyeong. “Sejak pagi tadi aku belum melihatnya memasukkan apapun ke dalam mulutnya, ia hanya berlatih keras seperti orang gila.”

             Aku mengangguk mengerti. Aku berjalan mendekati Seok Hoon hyeong sesaat setelah Yong Jun hyeong meninggalkan ruang latihan. Aku selalu tidak nyaman melihat Lee Seok Hoon yang seperti ini, kesedihan di wajahnya membuatku ikut sedih juga, mungkin ada teori yang mengatakan kalau rasa sedih itu menular.

Hyeong…” Aku duduk di sampingnya, tersenyum saat wajah lusuh itu menoleh kearahku. “Kita harus makan siang sebelum melanjutkan latihan, Yong Jun hyeong bilang kita makan bersama di bawah.”

“Kalian makanlah dulu, aku belum ingin makan.” Katanya dengan suaranya yang begitu datar.

            Aku menghela nafas pelan, sulit untuk menghadapi keadaan seperti ini. aku jelas bukan tipe orang yang pandai menghibur seseorang.

“Kau harus memakan sesuatu, sejak pagi tadi kau belum makan bukan. Kau harus memakan sesuatu kalau kau ingin punya tenaga.”

“Kau terdengar seperti ibuku.” Katanya, senyum kaku tergurat di wajahnya. “Aku akan pulang ke Incheon setelah ini, aku bisa makan disana nanti.”

“Kau akan pingsan sebelum sampai ke Incheon.” Kataku serius.

“Itu tidak akan terjadi.” Seok Hoon hyeong mendorong kepalaku seperti biasanya. “Aku tidak selemah yang kau kira.”

            Lee Seok Hoon bangun dari duduknya, kembali tersenyum. Ya memang akan terkesan sia-sia menunjukkan perhatianmu pada orang satu ini.

“Kau tidak apa-apa pergi sendiri?” Tanyaku lagi seraya beranjak dari dudukku.

“Aku baik-baik saja. Besok aku akan kembali kesini pagi-pagi sekali… aku pergi.” Seok Hoon hyeong melangkah keluar setelah menepuk bahuku.

“Aku akan neneleponmu nanti.” Kataku pada punggung Seok Hoon hyeong yang menjauh. Tanpa menoleh ia hanya melambaikan sebelah tangannya.

            Setiap tahun Seok Hoon hyeong memang akan berubah seperti ini. Di hari peringatan kematian Lee Yoon Hee (Baca–> Goodbye With Smile), ia akan berubah menjadi begitu murung. Tidak mengherankan memang, siapa pun akan sama sepertinya jika diingatkan kembali dengan hari dimana ia kehilangan seseorang yang begitu berarti untuknya. Walaupun semua itu sudah berlalu selama 2 tahun, itu tidak menjadikan Lee Seok Hoon lupa dengan kesedihan dan kehilangan yang dirasakannya saat itu.

*          *          *

            Aku melihat Han Hye Jin sedang menatapnya sekarang, pandangan mata gadis itu menyiratkan begitu banyak rasa. Dan sayangnya tatapan itu diberikan untuk Lee Seok Hoon.

Annyeonghaseyo… Hye Jin ssi.” Kataku sekedar untuk mengumumkan kedatanganku di ruang siaran.

Han Hye Jin menoleh kearahku, senyum seperti biasa mengembang di wajahnya.

“Kau sudah datang Jin Ho ssi.”

            Aku mengangguk, membalas senyumnya. Matanya kembali beralih kearah Seok Hoon hyeong yang duduk di salah satu sudut di dalam ruang siaran, terlihat sangat berkonsentrasi dengan kertas-kertas yang sedang dilihatnya, ia bahkan seperti tidak menyadari kedatanganku.

“Seok Hoon hyeong sudah datang rupanya.” Kataku lagi.

“Dia datang sejak satu jam yang lalu.” Jawab Hye Jin. “Tapi tidak banyak yang dikatakannya sejak ia berada disini, ia hanya duduk menyendiri seakan sibuk dengan semua hal yang dikerjakannya.”

            Aku menghela nafas pelan, tidak mengherankan akan seperti ini. Lee Seok Hoon memang akan seperti itu setelah peringatan hari kematian Lee Yoon Hee, aku sangat tahu ekspresi yang diperlihatkannya sekarang, karena aku sudah sangat akrab dengan ekspresi itu sejak dua tahun lalu.

“Dia terlihat sangat sedih.” Hye Jin tiba-tiba bicara. “Dua tahun belum cukup membuatnya melupakan kepergian Yoon Hee.”

“Ya… mungkin sangat sulit untuk Seok Hoon hyeong melupakannya, dia sangat mencintai Yoon Hee, aku rasa butuh waktu lebih banyak baginya untuk melupakan Yoon Hee.”

            Hye Jin mengangguk pelan seakan dia mengerti benar apa yang dirasakan Lee Seok Hoon sekarang. Tapi tak berapa lama setelah itu aku melihatnya menunduk sedih, dan aku tahu itu karena apa.

“Kau menyukai Seok Hoon hyeong Hye Jin ssi.” Kata-kata itu keluar begitu saja.

Wajah Hye Jin langsung menatap tegang kearahku, terlihat sekali kalau dia terkejut mendengarku mengatakan itu semua.

“Jin Ho ssi… aku…”

“Jin Ho kau sudah datang.”

Lee Seok Hoon keluar dari ruang siaran, menghentikan kata-kata yang akan dikeluarkan Hye Jin.

“Aku harus keluar sebentar.” Kata Hye Jin kemudian, sebelum bergegas keluar ruangan.

            Aku menatap lesu Han Hye Jin yang berjalan keluar seakan tidak ingin berada begitu lama ditempat yang sama denganku. Harusnya aku memang tidak mengatakan itu semua padanya.

“Apa yang sedang kalian bicarakan tadi? Mengapa Hye Jin terkesan menghindar?”

            Aku mengerling kesal kearah Lee Seok Hoon, rasa kesal tak terjelaskan ini kembali terasa. Untuk orang perasa seperti Lee Seok Hoon yang selalu menangis di lagu terakhir konser saat melihat betapa tulusnya fans mencintai SG Wannabe, menggelikan sekali kalau dia sampai tidak menyadari ada seseorang yang menyukai dan memperhatikan selama bertahun-tahun.

*          *          *

“Aku tidak pernah mengerti apa yang kau maksud.” Seok Hoon hyeong mengerutkan keningnya. “Kau baru saja mengatakan aku tidak peka.”

            Matanya yang tidak dihiasi kaca mata yang menjadi ciri khas-nya membesar menatapku seakan aku baru saja mengatakan hal buruk tentangnya.

“Kau memang tidak peka hyeong, tanpa kau sadari kau sudah menyakiti perasaan seseorang, karena kau terlalu lama larut dalam kesedihan.” Sekali lagi aku mengatakan kalimat yang sama.

            Entah apa yang terjadi pada diriku hari ini, aku sendiri tidak tahu alasan pasti mengapa aku harus mengatakan ini semua pada Seok Hoon hyeong. Hanya saja aku merasa, harus ada seseorang yang membuat Lee Seok Hoon tahu bahwa ada seorang gadis yang terluka karena ketidakpekaannya.

“Lalu kemana arah pembicaraan ini sebenarnya.” Seok Hoon hyeong menatap tajam kearahku, “Siapa yang sudah aku sakiti?”

“Han Hye Jin menyukaimu hyeong.” Kataku akhirnya, seraya menghela nafas pelan. “Apa kau tidak pernah menyadarinya.”

            Mata Lee Seok Hoon membesar, terlihat sekali kalau dia sangat terkejut dengan apa yang aku katakan. Tapi sepertinya bukan hanya ia yang terkejut dengan yang kukatakan. Suara barang jatuh mengalihkan perhatian kami, seketika kami berdua refleks menoleh ke belakang, kearah pintu masuk ruang latihan vokal. Betapa terkejutnya aku saat melihat Han Hye Jin berdiri disana.

“Aku… aku datang untuk…” Ia berkata terbata, matanya menatap bergantian kami berdua. “Aku sebaiknya kembali nanti… permisi.”

            Han Hye Jin berjalan bergegas meninggalkan kami, setengah berlari yang aku lihat. Kotak bekal yang biasa dibawanya tergeletak di lantai ruang latihan. Aku dan Seok Hoon hyeong betukar pandang, seakan dalam hati kami saling bertanya apa yang harus dilakukan untuk ini.

*          *          *

            Han Hye Jin tidak muncul di stasiun Radio sehari setelah apa yang terjadi di ruang latihan. Itu yang dikatakan Seok Hoon hyeong saat aku meneleponnya. Han Hye Jin meminta ijin untuk tidak masuk kemarin, mungkin kah ini semua karena kelancanganku memberitahukan mengenai perasaannya pada Lee Seok Hoon.

            Aku menatap ponselku, hanya tinggal sekali sentuh untuk menelepon Han Hye Jin. Tapi seperti beberapa jam lalu, aku tidak berani melakukannya. Aku bersalah padanya, mungkin itu yang membuatku takut untuk menghubunginya, dia mungkin sama sekali tidak ingin bicara padaku setelah kejadian kemarin. Berkat kebodohanku semua jadi berjalan kacau sekarang.

            Aku menyenyakkan diriku di atas tempat tidur, perasaan bersalah ini membuatku merasa lebih lelah dari menjalankan rangkaian tour konser SG Wannabe.

 

*          *          *

            Lee Seok Hoon dan Han Hye Jin duduk di salah satu kursi taman, di depan gedung stasiun radio. Mereka akhirnya bicara berdua setelah kejadian kemarin. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sekarang, aku hanya melihat mereka dari kejauhan, mereka bahkan memunggungiku, membuatku sama sekali tidak bisa melihat ekspresi mereka. Berdiri  menatap kearah dua orang ini membuatku sangat cemas, bisa kah Seok Hoon hyeong memberikan pengertian yang baik untuk Hye Jin, akan tetap terluka kah ia setelah sekali lagi Lee Seok Hoon mengatakan ia tidak bisa membalas perasaan gadis itu. Semua itu memenuhi kepalaku, membuatku begitu ingin… ah aku tidak tahu ingin apa.

            Tidak berapa lama setelah itu, aku melihat Lee Seok Hoon beranjak pergi, meninggalkan Han Hye Jin yang masih duduk di kursi taman, setelah tangannya terlihat mengusap pelan kepala Han Hye Jin.

“Mengapa Seok Hoon hyeong pergi begitu saja? Mengapa Hye Jin masih duduk disana? Terjadi sesuatu kah antara mereka?”

Semua tanya itu berputar di kepalaku. Ini benar-benar situasi yang tidak aku sukai, perasaan serba salah, dan cemas ini bukan hal yang menyenangkan untuk dirasakan dalam satu waktu. Akhirnya dengan semua hal yang aku rasakan, aku memberanikan diri untuk berjalan menghampiri Hye Jin.

“Hye Jin ssi..” Aku bicara agar Hye Jin menyadari kedatanganku.

            Gadis itu mengdongak, tatapan tertuju lurus kearahku. Tidak ada ekspresi yang bisa aku baca dari raut wajahnya, karena gadis itu menundukkan kepalanya setelah itu. Aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya.

“Hye Jin ssi, aku minta maaf atas semua yang terjadi tempo hari. Aku tidak pernah bermaksud untuk lancang memberitahukan itu semua pada Seok Hoon hyeong, aku hanya…”

“Sudahlah Jin Ho ssi, itu semua sudah terjadi, dan aku baik-baik saja.” Hye Jin memotong kata-kataku.

            Entah betapa leganya aku saat melihatnya tersenyum padaku seperti biasa, bisa kah aku menganggap senyumannya ini sebagai pemberian maaf.

“Aku seharusnya tidak mengatakan itu pada Seok Hoon hyeong.” Kataku sepenuhnya menyesal dengan apa yang terjadi. “Jika aku jadi kau, aku akan marah sekali… maafkan aku.”

“Awalnya mungkin aku marah padamu, karena aku merasa suatu hari nanti aku ingin mengatakan itu sendiri. Tapi setelah aku banyak berpikir, ini lebih baik.” Hye Jin kembali tersenyum kearahku disela perkataannya. “Mungkin jika menunggu keberanianku untuk mengatakannya sendiri, semua akan terasa makin dalam, dan akan sulit bagiku untuk menata semua perasaan ini nantinya… terima kasih Jin Ho ssi.”

“Apa yang dikatakan Seok Hoon hyeong padamu?”

“Menurutmu apa yang bisa dikatakannya… rasanya mustahil aku bisa mengalahkan Lee Yoon Hee di hatinya.”

            Aku melihat ada sedikit kesedihan di balik wajah tersenyumnya, dan itu membuatku merasakan sesuatu juga. Aku tahu benar rasanya cinta yang tak terbalas.

“Kau menyukaiku.”

Aku langsung mendongak mendengar Han Hye Jin tiba-tiba mengatakan itu.

“Apa yang kau maksud… bagaimana kau bisa?” Kataku terbata.

“Seok Hoon seonbae baru saja mengatakan itu padaku.”

            Aku bisa merasakan wajahku memanas, aku yakin sekali Han Hye Jin bisa melihat wajahku sudah berubah serupa udang rebus saat ini. Lee Seok Hoon ini memang benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Aku… aku sebenarnya… ah ini sulit untuk dikatakan, Lee Seok Hoon benar-benar.” Kataku dengan kecangguan yang luar biasa terasa. “Sebenarnya aku…”

“Sudahlah, aku tahu bagaimana tidak nyamannya saat seseorang mengetahui apa yang kita rasakan pada orang itu. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa jika belum ingin bicara.”

            Aku tetap menunduk tidak berani menatap wajah gadis itu, kali ini karena malu.

“Ayo kita ke atas, sebentar lagi siaran akan segera dimulai. Aku membawa sedikit bekal, kau bisa memakannya setelah siaran nanti.”

Han Hye Jin bangun dari duduknya, senyum itu tetap tearah untukku, membuat perasaan ini menjadi semakin tidak menentu.

“Kau baik sekali masih mau membuatkan makanan untuk orang yang membocorkan rahasiamu.”

“Aku bukan tipe wanita pendendam Jin Ho ssi.” Katanya masih dengan senyum lebarnya. “Tapi untuk hari ini aku mau kau memakan bekal itu sendiri, termasuk bagian Seok Hoon seonbae juga. Aku sedang tidak ingin masakanku di makan olehnya.”

“Dan untuk itu kau masih menyebut dirimu bukan gadis pendendam.”

“Aku mengatakan hanya untuk hari ini, besok aku akan kembali menjadi gadis yang sangat baik.”

            Aku tertawa kecil mendengar apa yang baru saja dikatakan Han Hye Jin, gadis ini memang benar-benar istimewa, dia bisa dengan mudah merubah kekecewaan dan kesedihan yang dirasakan menjadi sesuatu yang terkesan bisa ditoleransi olehnya.

“Baiklah, aku tidak akan memberi sepotong kimbab pun, walaupun dia memohon padaku.”

“Kau perngertian sekali Jin Ho ssi… kalau begitu, ayo kita ke atas.”

            Han Hye Jin menggerakkan tangannya, seakan memberi isyarat agar aku mengikuti langkahnya. Tanpa banyak pertimbangan aku mengikuti gadis itu.

Sekarang ini mungkin Han Hye Jin belum bisa melupakan perasaannya pada Lee Seok Hoon sepenuhnya, mungkin dia belum bisa membalas perasaanku dengan semestinya. Tapi itu bukan masalah untukku, asalkan perasaan nyaman dan menyenangkan ini tetap ada saat aku bersamanya, aku akan tetap ada di dekatnya untuk mengaguminya.

Advertisements

4 responses »

  1. nah akhirnya… bisa leave komen jg..
    deg2an tkut wp aku yg eror XDD

    keren chingu ffnya..
    kasian Jinho oppa…
    Jinho oppa udh sama aku aja sini.
    hihii.. *ngarep*
    cinta ga berbalas emang ga enak.. *curcol*

    sukses trs bwt SG Wannabe Indo..

  2. aih. . . Pemalunya Jin Ho oppa. . Seok Hoon emang perasa,tpi perasa sama prasaan cowok plus fans2nya,klw ma cewek mah gak. . Wkwkwk *plak,digamparAuthor*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s