Story of Us (Part 2) – Glasses Boy In Love (Part 1) [fan fiction]

Standard

Story of Us,

Glasses Boy In Love 

Lee Seok Hoon menyandarkan dirinya ke tembok dingin ruang latihan vokal. Hari yang begitu melelahkan, hingga saking lelahnya Seok Hoon merasa ia bisa terbaring tidur di lantai ruang latihan tanpa alas sekalipun. Semua persiapan konser nasional SG Wannabe tahun ini memang nyaris membuatnya hampir gila.

“Kau sebaiknya turun ke bawah, kita makan bersama disana.” Kim Yong Jun, duduk di sampingnya, tersenyum melihat betapa lelahnya Seok Hoon hari ini. “Aku sudah menyiapkan satu kotak yang berisi semua makanan kesukaanmu.”

            Seok Hoon tersenyum, sejak memiliki usaha yang berhubungan dengan makanan, salah satu member SG Wannabe ini memang bertanggung jawab dalam masalah perut anggota SG Wannabe dan staf lainnya. Kim Yong Jun menjadi orang yang paling cerewet mengingatkan semua orang untuk makan, dan dia tetap menjadi orang yang rajin sekali memberi teladan untuk makan dengan baik, walaupun sebenarnya Seok Hoon berpikir, Yong Jun sudah harus memulai dietnya.

“Pergilah makan lebih dulu, aku belum ingin makan apa pun sekarang.” Seru Seok Hoon. “Aku ingin berbaring sebentar disini.”

“Baiklah… tapi segeralah turun, jika kau tidak turun aku akan memberikan bekal special itu pada Jin Ho.”

“Aku akan segera turun dan memakan semua bekal yang kau bawa untukku Yong Jun ahjumma.”

            Kim Yong Jun, melangkah pergi setelah memukul pelan bahu Seok Hoon karena memanggilnya ahjumma, sebutan yang paling ia tidak suka, tapi sangat cocok dengannya.

            Seok Hoon kembali memejamkan matanya sementara tubuhnya masih bersandar ke tembok. Ia seperti tidak memliki cukup tenaga untuk bangun dari duduknya sekarang ini, ada apa dengan tubuhnya sekarang ini.

            Seseorang muncul di ruang latihan, membawa beberapa botol air mineral di dekapan tangannya. Seok Hoon segera menegakkan tubuhnya, gadis yang baru masuk ke ruang latihan itu tidak pernah ia lihat sebelumnya, tapi rasanya ia pernah melihat wajah itu, tapi entah dimana..

“Maaf menggangu, aku kira sudah tidak ada orang disini.” Gadis itu membungkuk meminta maaf.

“Ah tidak apa-apa… kau baru disini? aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

“Ini aku mulai berkerja kemarin disini, aku salah satu staf junior disini.”

            Seok Hoon mengangguk paham, gadis ini rupanya salah satu staf baru yang diceritakan manager SG Wannabe kemarin.

“Boleh aku minta satu botol air mineral yang kau bawa.”

            Tanpa banyak bicara gadis itu langsung berjalan cepat mendekati Seok Hoon, meletakan satu botol air mineral di depan Seok Hoon.

“Silakan…” Katanya pelan.

“Terima kasih.” Ucap Seok Hoon.

            Gadis itu hanya mengangguk, ia terlihat salah tingkah di mata Seok Hoon. hal yang wajar memang, untuk staf baru sepertinya merasa tidak nyaman di depan seseorang yang mereka anggap terkenal atau semacamnya. Seok Hoon sangat mengerti rasa itu karena ia pernah merasakannya dulu.

“Kalau begitu aku permisi dulu.” Gadis itu membungkuk singkat, sebelum membalikan badannya berniat pergi.

“Siapa namamu?” Seok Hoon menahan langkah menjauh gadis itu.

            Gadis itu berbalik, kembali menatap ke arahnya.

“Aku, Park Hye Jin.” Jawabnya singkat.

“Kalau begitu selamat bergabung, Park Hye Jin ssi.” Seru Seok Hoon, tersenyum lebar, berharap dengan memberikan senyum itu ia bisa membuat gadis itu bisa lebih santai.

“Terima kasih, Seonbaenim.” Senyum kaku tergurat di wajah gadis itu, sebelum ia benar-benar melangkah keluar ruang latihan.

            Seok Hoon mengambil botol air itu, membuka tutupnya, langsung menghabiskan hampir setengah isinya, sebelum beranjak keluar ruang latihan.

*          *          *

“Hyung Soo hyeong meneleponku kemarin, sekarang dia sedang berada di Cina.” Lee Jin Sung bicara, “Kalian tahu kurasa dia benar-benar tidak akan  berada di Korea sepanjang akhir tahun ini, managernya bilang padaku, dia mengambil banyak sekali pekerjaan diluar Korea.”

“Itu bagus untuknya.” Kata Seok Hoon, seraya mengambil sepotong buah di atas meja. “Ia membutuhkan banyak sekali waktu untuk menata hatinya.”

“Apa Hyung Soo hyeong akan baik-baik saja saat ia kembali lagi kesini.” Kim Won Joo bertanya dengan ragu.

            Baik Seok Hoon maupun Jin Sung tidak menjawab, keduanya lebih memilih diam menyandarkan tubuh masing-masing ke sandaran empuk sofa. Malam ini mereka kembali berkumpul, satu minggu setelah acara pernikahan di pulau Jeju itu berlangsung. Kim Hyung Soo memang lebih banyak menghabiskan waktu diluar Korea, di mata Seok Hoon, Kim Hyung Soo membuat pekerjaan yang dijalani menjadi semacam pelarian untuk rasa sakitnya. Dia bekerja keras seperti orang gila, mengambil semua tawaran kerja yang datang padanya. Asistennya bahkan sangat mengkhawatirkan kesehatan Kim Hyung Soo, jika ia terus menggila seperti ini.

            Seok Hoon sangat mengerti mengapa Kim Hyung Soo melakukan itu, memberi dirimu banyak waktu luang untuk kembali merasakan kepedihan, jelas bukan pilihan bijak untuk seseorang yang ingin melupakan sakitnya. Kim Hyung Soo sudah melakukan pilihan benar dengan menenggelamkan semua rasa yang mungkin masih terasa dalam kesibukan yang dapat membuatnya menjadi terlalu lelah untuk merasakan apa pun.

“Aku mampir tempat latihanmu siang tadi.” Jin Sung kembali bicara setelah lama diam.

“Ke tempat latihanku?” Seok Hoon mengerutkan keningnya. “Ada apa kau kesana?”

“Aku ada sedikit urusan dengan seorang senior disana.” Jawab Jin Sung, “Kau tahu hyeong, aku bertemu dengan teman sekelasku disana, sebenarnya dia tadinya juniorku yang sekarang menjadi teman sekelasku.”

            Seok Hoon tersenyum kecil melihat ekspresi Jin Sung, ia tahu sekali hal yang paling tidak bisa dibanggakan oleh Jin Sung adalah kuliahnya yang tidak selesai-selesai. Sebenarnya ia dan Jin Sung dulu hanya berbeda satu tingkat, hanya saja dengan berbagai alasan Jin Sung berhasil tertinggal beberapa tingkat di bawahnya, sampai sekarang pun Jin Sung masih berusaha menyelesaikan kuliahnya.

“Kau seharusnya segera menyelesaikan kuliahmu hyeong, magnae 4Men Shin Yong Jae saja sudah akan menyelesaikan kuliahnya tahun ini.” Celetuk Won Joo, dari sandaran sofanya, padahal sebelumnya anak itu memejamkan matanya.

“Berhenti bicara! Kembali pejamkan matamu, kau lebih baik tidur.” Kata Jin Sung seraya memukul kepala Won Joo dengan bantal sofa.

“Baiklah… kau selalu berubah sensitif jika aku singgung soal itu.”

            Won Joo merebahkan tubuhnya memakai bantal yang dipakai Ji Sung untuk memukulnya sebagai alas tidur kepalanya, ia terlihat sangat lelah malam ini, tidak seperti biasanya.

“Siapa nama temanmu itu, mungkin aku mengenalnya?”

“Namanya Park Hye Jin, dia baru mulai bekerja dua hari yang lalu.” Jelas Jin Sung.

            Seok Hoon mencoba mengingat-ingat, rasanya nama itu pernah di dengarnya, tapi dimana. Seketika saja sosok gadis yang tadi siang bertemu dengannya di ruang latihan teringat dibenaknya.

“Aku mengenalnya, aku bahkan bertemu dengannya siang ini.” Seok Hoon tersenyum saat mengingatnya. “Benarkah dia teman sekelasmu, pantas saja dia memanggilku seonbae tadi.”

“Dia juga adik dari teman satu angkatanmu dulu… Park Hye Won, kau pasti mengenalnya bukan?”

            Park Hye Won, ada yang salah dengan kinerja jantung Seok Hoon saat nama itu disebutkan oleh Jin Sung. Mengenalnya, tentu saja ia sangat mengenalnya. Nama itu terlalu sulit untuk dihilangkan dari ingatannya, padahal Seok Hoon sudah sangat berusaha untuk melupakan nama yang bahkan hanya dengan mendengarnya saja, ada kemarahan terasa dalam dirinya.

“Kau harus baik padanya, dia teman terdekatku di kampus sekarang ini.”

            Kata-kata Jin Sung hanya terdengar samar di telinga Seok Hoon, kepalanya memikirkan terlalu banyak hal sekarang, entah itu ketidaksukaan atau malah kebencian.

*          *          *

“Aku sudah mengatakan, aku tidak suka Jus Jeruk, mengapa kau tetap membawakanku ini.” Seok Hoon berkata keras, Park Hye Jin berdiri di depannya, kepalanya menunduk dalam, diam menerima kekesalan Seok Hoon padanya. Sementara orang-orang yang kebetulan berada dalam ruang latihan menatap heran ke arah mereka.

“Maaf seonbae, aku tidak tahu kalau kau tidak suka Jus Jeruk.” Park Hye Jin membungkuk singkat, wajahnya sudah memerah sekarang, “Aku akan membawakan air mineral untukmu.”

            Gadis itu segera membalikkan badannya, tanpa berani mendongak menatap Seok Hoon dia segera keluar meninggalkan ruang latihan. Seok Hoon menghela nafas dalam, entah apa yang mengusai dirinya hari ini, mengapa ia harus bertingkah seperti itu pada seseorang yang seharusnya tidak menerima semua limpahan kemarahannya.

“Ya Tuhan… ini gila.” Ratap Seok Hoon dalam hati, seraya mendudukan dirinya di lantai ruang latihan dan menyandarkan tubuhnya ke tembok dingin ruang latihan dengan mata terpejam.

“Apa yang terjadi denganmu hyeong?” Suara Jin Ho terdengar, anak itu pasti sudah menghampirinya setelah keanehan yang dilakukannya tadi. “Apa kau sedang kesal akan sesuatu?”

            Seok Hoon membuka matanya, Jin Ho memang sudah duduk di depannya, mengamatinya dengan seksama, membuat Seok Hoon merasa begitu tidak nyaman.

“Jauhkan wajahmu dari wajahku.” Kata Seok Hoon, sambil mendorong bahu Jin Ho, agar wajah anak itu tidak terlalu dekat dengannya.

“Kau aneh sekali hyeong, baru kali ini aku melihatmu begitu tidak bersahabat dengan orang-orang di sekitarmu.”

            Seok Hoon tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mendesah pelan menanggapi semua perkataan Jin Ho padanya, wajahnya membentuk senyum kaku saat beberapa orang yang berada di ruang latihan bersamanya, berjalan melewatinya untuk meninggalkan ruang latihan, meninggalkan hanya bersama dengan Jin Ho.

“Apa kau mengenal gadis baru itu?” Jin Ho kembali bertanya, setelah beberapa pertanyaannya tidak mendapat jawaban.

            Seok Hoon menggeleng sekenanya, sebelum berdiri, melangkah ke arah ke sofa di ruang latihan, untuk mengambil handuk dari tas ransel yang ia letakan di atas sofa.

“Aku tidak mengenalnya.” Jawab Seok Hoon, setengah berbohong, karena secara tidak langsung ia mengenal gadis itu. “Aku baru bertemu dengannya kemarin di ruangan ini.”

“Lalu kalau kau tidak mengenalnya mengapa kau bertingkah seperti itu padanya.”
”Bertingkah seperti apa maksudmu?” Seok Hoon membalikan badannya, menatap lurus Jin Ho yang masih terduduk di lantai ruang latihan vokal.

“Kau bertingkah seperti kau sangat tidak menyukainya, dari yang aku lihat barusan, kau malah terlihat begitu membencinya… pagi tadi kau memarahinya hanya karena ia menumpahkan sedikit air ke sepatumu. Tadi itu, baru saja kau membentaknya dengan begitu keras hanya karena Jus Jeruk.” Jelas Jin Ho panjang lebar. “Kalau aku tidak mengenalmu aku pasti sudah menyangka kau punya dendam yang sangat dalam pada gadis itu.”

            Seok Hoon terdiam, setelah Jin Ho menceritakan bagaimana perlakuannya pada Park Hye Jin hari ini, ia mulai berpikir, layak kah Park Hye Jin menerima itu semua, pantaskah ia menerima kemarahan untuk kesalahan yang ia lakukan pun tidak.

“Kau tidak seperti dirimu yang biasanya hyeong… kau tidak pernah marah untuk hal-hal sepele sebelumnya, bahkan dulu kau tidak marah saat ada staf baru yang menumpahkan jus tomat ke kemeja putihmu, mengapa sekarang hanya beberapa tetes air putih di sepatumu saja kau begitu marah.”

            Tidak ada bantahan, hari ini Seok Hoon mengakui ia memang terlewat kasar memperlakukan seseorang. Park Hye Jin pasti merasa tidak nyaman, atau bahkan mungkin gadis itu marah dengan perlakuan Seok Hoon padanya. Seharusnya Seok Hoon menyesal sudah memperlakukan Park Hye Jin seperti itu, tapi mengingat apa yang pernah dirasakannya dulu, ia sama sekali tidak merasa menyesal… Demi Tuhan Seok Hoon tidak ingin merasakan ini semua, ia tidak ingin kebencian ini kembali menjajah hatinya, namun disaat kebencian itu membutuhkan pelampiasan, Lee Seok Hoon tidak kuasa untuk mencegahnya.

*          *          *

            Lee Seok Hoon berdiri tidak jauh dari sebuah meja yang dikelilingi empat orang gadis-gadis, salah satu diantara gadis-gadis itu ada Park Hye Won, seseorang yang disukainya sejak semester pertama ia berkuliah. Lee Seok Hoon berdiri dengan senyum mengembang di wajahnya, tangan-tangan gemuknya memegang buket mawar berwarna merah muda, warna bunga yang dipegangnya seperti menggambarkan rasa yang sedang dirasakannya, berbunga-bunga dan penuh bahagia. Saat itu tentu Lee Seok Hoon merasa sangat bahagia, bagaimana tidak gadis yang disukainya sejak pertama kali melihatnya, hari itu mengajaknya bertemu untuk melakukan semacam kencan pertama mereka.

            Lee Seok Hoon tidak pernah menyangka Park Hye Won yang terbilang salah satu gadis paling cantik di kampusnya saat itu mau membalas perasaannya. Laki-laki yang belum menjadi siapa-siapa, laki-laki yang terkadang selalu mendapat ejekan karena berat badannya yang di atas normal. Seok Hoon merasa ini semua bagai mimpi indah, mimpi indah yang tidak lama setelahnya berubah menjadi mimpi buruk yang terus menghantuinya.

            Saat itu senyum dan perasaan bahagia yang dirasakan Lee Seok Hoon tidak bertahan lama, semuanya hilang saat tawa keras yang penuh dengan ejekan mendera telinganya. Gadis yang disukainya, yang pada awalnya ia kira akan dengan tulus membalas perasaannya, nyatanya hanya menjadikannya tidak ubahnya sebuah lelucon untuk menghibur teman-temannya.

“Kau terlalu mudah di bodohi.” Suara Park Hye Won terdengar begitu getir di telinga Seok Hoon. Sama getirnya dengan menerima kenyataan bahwa gadis yang semula diharapkannya kini malah menghancurkan segalanya. Park Hye Won yang sebelumnya selalu menghabiskan waktu bersamanya, Park Hye Won yang mengatakan ia juga menyukai musik seperti yang disukai Seok Hoon, Park Hye Won yang membuatnya merasa perasaannya tersambut dengan baik, kini berubah menjadi Park Hye Won yang hanya ingin bersenang-senang dengan mempermainkan seorang laki-laki dengan berat badan 100kg, sebagai lelucon yang ia suguhkan pada teman-temannya.

            Lee Seok Hoon, berdiri diam, tangannya masih memegang buket mawar merah muda, tangan gemuknya perlahan-lahan mengecil, kaku tidak bisa digerakan sementara badannya terasa mengeluarkan keringat dingin yang menyakitkan. Pelan-pelan dadanya terasa sesak, hingga ia nyaris tidak dapat bernafas, matanya terasa basah saat melihat tawa penuh ejekan di wajah Park Hye Won. Seok Hoon ingin tawa itu berhenti terdengar, ia ingin Park Hye Won berhenti menyiksanya dengan tawa itu, ia bahkan sanggup untuk memohon.

“CUKUP…” Seok Hoon terlonjak dari tidurnya. Keringat dingin merembes turun dari dahi ke pipinya, nafasnya naik turun  tidak beraturan, badannya rasanya begitu lelah seolah ia baru saja berlari mengelilingi lapangan Baseball yang paling luas yang pernah ada.

            Lee Seok Hoon mengusap keringat di dahinya dengan telapak tangannya. Akhirnya setelah entah berapa lama, hal yang begitu ingin ia lupakan teringat kembali, mimpi buruk itu bahkan datang lagi untuk mengusiknya.

Dengan sisa tenaganya, Seok Hoon beranjak dari tempat tidurnya, mengambil sebotol air dingin dari dalam lemari es dan mendudukan dirinya di atas sofa. Seok Hoon meneguk air dingin dari dalam botol, satu teguk air yang menyadarkanya betapa rapuh dirinya, betapa lemah dirinya. Sangat memalukan mendapati dirinya masih sangat terpengaruh dengan kenangan pahit masa lalunya.

“Kau benar-benar laki-laki yang sangat mengeewakan.” Kata Lee Seok Hoon datar lebih pada dirinya sendiri, sekali lagi ia meneguk air dalam botol. Senyum getir tersungging di wajahnya sekarang.

            Ingatan itu memang sulit untuk dihilangkan begitu saja. Apa yang pernah terjadi antara dirinya dengan Park Hye Won, membawa dampak yang besar untuknya. Kenangan buruk yang merubah Lee Seok Hoon menjadi seseorang yang rela nyaris mati dalam usaha untuk tampil sempurna dengan diet yang menyiksa. Kenangan buruk yang menjadikannya tidak pernah percaya jika ketulusan cinta yang sebenarnya itu ada.

            Seok Hoon mengusap wajah dengan kedua tangannya, ini benar-benar sangat melelahkan untuk dirasakan. Tadinya ia mengira setelah mendengar kabar Park Hye Won bertunangan dan menetap di Amerika bersama dengan calon suaminya, kenangan atas wanita itu akan pergi begitu saja. Nyatanya ia salah, kemunculan Park Hye Jin, yang secara mengejutkan merupakan adik dari Park Hye Won, membawa kenangan buruk itu kembali terasa, membuat kebencian yang semula tersimpan kembali terasa. Bagaimana mungkin Seok Hoon bisa bersikap baik pada Park Hye Jin, jika setiap kali melihatnya Seok Hoon mengingat seseorang yang begitu menyakitinya. Ia bahkan tidak bisa menyalahkan dirinya, kalau sekarang ia memiliki keinginan untuk membalas semua rasa sakit yang dulu pernah dirasakannya.

*          *         *

            Lee Seok Hoon duduk di salah satu kursi sebuah cafe kecil yang terletak tidak jauh dari kantor management-nya. Di depannya duduk Lee Jin Sung yang terus menatapnya seakan ia adalah seseorang yang memiliki penyakit kejiwaan yang sewaktu-waktu bisa saja kambuh.

“Berhenti melihatku dengan cara seperti itu.” Seru Seok Hoon, mulai jengah dengan tatapan yang diberikan Lee Jin Sung. “Kau datang menemuiku untuk bicara denganku bukan.”

“Aku menatapmu dengan cara seperti itu karena aku mengkhawatirkanmu.”

            Alis Seok Hoon terangkat mendengar apa yang baru saja dikatakan Lee Jin Sung. Heran mendengar Lee Jin Sung mengkhawatirkannya, apa yang harus di khawatirkan darinya.

“Khawatir atas apa?”

“Jin Ho mengatakan kau bertingkah aneh sekali beberapa hari ini.” Jin Sung melanjutkan.

            Kim Jin Ho, mengapa bocah itu sekarang berubah jadi sering sekali mengadu.

“Kau sering sekali marah-marah, terlebih sasaran kemarahanmu adalah Park Hye Jin, seseorang yang pernah aku bilang padamu adalah temanku.”

            Park Hye Jin, Seok Hoon mendesah pelan, ingin sekali nama itu tidak usah disebut, mengapa selalu nama itu. Ia sudah cukup kesal melihat gadis itu berjalan bolak-balik di kantor. Baru pagi tadi ia marah besar saat Park Hye Jin tidak sengaja menubruknya di koridor menuju ruang latihan. Gadis itu terlalu ceroboh untuk membuat Lee Seok Hoon tidak meledak marah padanya setiap waktu. Dan sekarang ia harus duduk disini, menerima tatapan dari Lee Jin Sung sahabatnya yang sekarang ini memposisikan dirinya sebagai teman Park Hye Jin… Ya Tuhan, entah takdir apa yang selalu menghubungkannya dengan Park Hye Jin.

“Aku mendengar kau tidak pernah bersikap baik padanya, kau selalu memarahinya, apa pun yang ia lakukan padamu selalu salah.”

“Apa Park Hye Jin yang mengadukan itu semua padamu?” Seok Hoon menyela.

“Tidak… ia tidak penah mengatakan itu semua padaku, aku mendengar itu semua dari Jin Ho, bahwa kau sekarang ini sering sekali memarahi staf baru di kantormu, dan orang itu temanku.”

“Kalau begitu suruh temanmu itu bekerja dengan baik.” Seok Hoon berkata sinis, ia mulai tidak suka dengan cara Jin Sung bicara padanya. “Aku tidak akan marah jika dia bekerja dengan baik dan tidak membuat kesalahan.”

            Lee Jin Sung terlihat menghela nafas putus asa, ada raut ketidaksabaran di wajahnya sekarang.

“Ada apa denganmu hyeong… kau seperti orang yang berbeda, kau bukan orang yang suka marah-marah, aneh sekali kalau kau tiba-tiba seperti ini.”

            Baiklah, Jin Sung mungkin benar, ia memang seperti orang yang berbeda, ia sendiri bahkan tidak mengenali dirinya yang sekarang.

“Aku mengundang Park Hye Jin makan bersama kita siang ini.” Mata Seok Hoon langsung melebar mendengar apa yang dikatakan Jin Sung. “Mungkin sebentar lagi ia akan datang, aku ingin kau bersikap baik padanya… aku tidak ingin upayaku untuk membuat kalian berteman gagal. Dia gadis yang sangat baik jika kau sudah mengenalnya hyeong.”

            Belum sempat Seok Hoon mencerna apa yang dikatakan Jin Sung padanya, tangan Jin Sung sudah melambai ke arah pintu masuk cafe. Park Hye Jin balas melambai ke arah Jin Sung, senyum mengembang di wajah gadis itu. Seok Hoon masih belum memutuskan ia akan pergi atau tetap diam di tempatnya. Makan siang dengan seseorang yang tidak disukainya, yang benar saja..

            Park Hye Jin terlihat menghentikan langkahnya saat ia tinggal beberapa meter lagi dari meja mereka. Matanya menatap lurus ke arah Seok Hoon, seakan dia sendiri tidak menyangka akan bertemu dengan Lee Seok Hoon di tempat ini.

“Ini pasti pekerjaan licik Lee Jin Sung.” Pikir Lee Seok Hoon

“Hye Jin ssi, duduklah.” Lee Jin Sung berdiri untuk menyambut Park Hye Jin.

            Dengan ragu Park Hye Jin membungkuk sopan sebelum menempati kursi kosong yang berada tepat di tengah kursi Lee Jin Sung dan Lee Seok Hoon.

Annyeonghaseyo.” Park Hye Jin menoleh ke arah Seok Hoon, tersenyum kaku. Seok Hoon hanya mengangguk seadanya untuk menanggapi sapaan Hye Jin. “Maaf seonbae, aku tidak tahu kalau kalian sedang makan siang bersama… maaf kalau aku mengganggu kalian.”

            Wajah Hye Jin sedikit menunduk saat ia mengatakan itu semua, ekspresi yang sering sekali Seok Hoon lihat setiap kali mereka bertemu.

“Kau minta maaf untuk apa, aku yang memintamu untuk datang bergabung, bukan kau yang meminta untuk diajak bergabung.” Sanggah Jin Sung.

“Berhenti bicara.” Park Hye Jin membelalakan matanya pada Jin Sung, seolah memintanya untuk diam.

            Dari gaya bicara mereka, kedua orang ini memang terlihat sangat dekat, mungkin itu sebab yang membuat Lee Jin Sung merasa perlu melibatkan diri dalam hal ini.

“Tidak apa-apa, lagi pula kau sudah berada disini, untuk apa minta maaf.” Kata Seok Hoon datar.

            Lee Seok Hoon lebih banyak diam saat menghabiskan makan siangnya. Walaupun Lee Jin Sung tidak henti-hentinya berusaha melibatkannya dalam pembicaraan mereka, tapi Seok Hoon hanya menimpali dengan kata-kata singkat seadanya. Seok Hoon tahu sekali Park Hye Jin bisa merasakan kehadiran tidak terlalu dinginkan oleh Seok Hoon, karena Seok Hoon memang tidak berusaha menutupi ketidaksukaannya.

“Kau tau hyeong, ini hari dimana kau bertingkah sangat menyebalkan.” Lee Jin Sung bicara sesaat setelah Park Hye Jin meminta ijin untuk pergi ke tolilet.

“Apa kau menyukai gadis itu?” Seok Hoon akhirnya bertanya, mulai kesal dengan sikap Lee Jin Sung.

“Tidak.. tentu saja tidak.” Jin Sung segera membantah.

            Ada yang aneh dengan bantahan yang dilakukan Jin Sung, bodoh kalau Seok Hoon sampai percaya kalau Lee Jin Sung tidak menaruh perhatian pada Park Hye Jin, seorang Jin Sung hanya akan peduli pada seseorang jika ia punya alasan yang kuat.

“Dia itu teman terbaikku sekarang, dia selalu membantuku dalam berbagai tugas kuliah yang sangat memusingkan, aku hanya ingin membantunya dalam masalah pekerjaan ini.”

            Seok Hoon mendengus pelan, alasan macam apa itu, terdengar sangat klise, terlalu sering dikatakan oleh orang-orang yang menyangkal perasaan mereka.

“Dia memintamu untuk membantunya?” Seok Hoon kembali bertanya, Lee Jin Sung segera menggeleng.

“Dia tidak pernah memintaku untuk ini.”

“Jadi, mengapa kau perlu repot-repot mengurusinya.”

            Sekali lagi Lee Jin Sung mendesah pelan, seolah lelah dengan perdebatan yang tidak berkesudahan.

“Dia itu sangat menyukaimu hyeong, lebih tepatnya dia menyukai kalian.”

“Menyukaiku? Menyukai kalian siapa maksudmu?”

“Dia itu fans SG Wannabe, hyeong.” Kata Jin Sung tidak sabar, “Dia bahkan pernah mengatakan padaku kalau kau yang paling disukainya, diantara ketiga member SG Wannabe yang lain.”

            Seok Hoon menatap lurus pada Lee Jin Sung yang wajahnya terlihat senang melihat ekspresi terkejut Seok Hoon. Park Hye Jin salah satu fans SG Wannabe? Ini rasanya seperti lelucon yang terlalu menggelikan untuk menjadi nyata.

“Itu sebabnya ia mau menerima tawaran kerja menjadi staf junior di perusahaanmu, padahal ia bisa saja menerima tawaran perkerjaan lain yang jauh lebih baik… Park Hye Jin bahkan pernah mengatakan padaku, kalau dia bersedia tidak dibayar selama ia bisa melihat kalian dari dekat dan membantu pekerjaan kalian.”

            Terdiam, itu reaksi yang diberikan Seok Hoon untuk penjelasan panjang lebar yang diberikan Jin Sung. Ini tidak pernah terprediksi sebelumnya, bahwa seseorang yang belakangan begitu tidak disukainya, malah menjadi salah satu fans-nya. Harus berhentikah ia bersikap tidak bersahabat pada Park Hye Jin, setelah mengetahui ini semua, atau ia hanya perlu merubah rencana agar tetap bisa membalas segala rasa tidak menyenangkan yang dulu pernah dirasakannya.

            Kalau dulu Park Hye Won menyakitinya dengan bersikap manis sebelum menghempaskannya, mungkin bukan pilihan buruk jika ia melakukan hal yang sama sekarang.

*          *          *

            Lee Seok Hoon mengarahkan pandangannya ke arah Park Hye Jin yang sedang bicara dengan Kim Young Jun dan Kim Jin Ho, mereka terlihat sangat akrab belakangan ini, hari ini bahkan Park Hye Jin sengaja membawakan makanan untuk mereka, karena mereka sudah menandatangani koleksi album SG Wannabe milik Park Hye Jin. Lagi-lagi mereka tertawa bersama, entah apa yang mereka bicarakan hingga harus tertawa selepas itu, Seok Hoon hanya melihatnya dari ujung ruang latihan.

Hyeong bergabunglah bersama kami… Hye Jin ssi, membuat kimbab yang sangat enak.” Jin Ho, melambaikan tangannya ke arah Seok Hoon, mengisyaratkan agar Seok Hoon ikut bergabung.

            Seok Hoon tidak beraksi, pandangannya teralih pada Park Hye Jin yang tersenyum singkat padanya. Gadis itu tidak lama memberikan tatapannya pada Seok Hoon, ia seperti enggan melakukan kontak mata terlalu lama dengan Seok Hoon.

“Mungkin dia sedang diet lagi.” Kim Yong Jun menyahut, tangannya masih memegang sumpit dengan sepotong Kimbab.

“Aku tidak sedang diet, kau yang seharusnya diet.” Seok Hoon berkata tegas. Ia meletakan botol air minum yang di pegangnya di atas meja kecil di pojok ruang latihan. Kakinya mulai melangkah mendekati meja tempat mereka makan.

            Baik Jin Ho, Yong Jun, bahkan Hye Jin, saling bertukar pandang, seakan mereka bingung dengan perubahan sikap Seok Hoon yang tiba-tiba.

“Boleh aku ikut bergabung untuk menikmati makanan buatanmu Hye Jin ssi.” Seok Hoon memberikan senyum terbaiknya pada Hye Jin, membuat Hye Jin yang semula selalu menerima sikap tidak bersahabat darinya, terdiam dengan mulut setengah terbuka. “Boleh aku ikut bergabung?” Seok Hoon mengulang pertanyaannya dengan nada suara yang begitu ramah.

“Ah tentu saja seonbae… kau tentu boleh bergabung.” Park Hye Jin berkata setengah terbata.

“Terima kasih.” Ucap Seok Hoon, senyum itu masih berusaha tetap ia tampakan di wajahnya.

            Park Hye Jin mengangguk sopan, Seok Hoon bisa melihat ada sedikit semburat merah di wajah putih Park Hye Jin, melihat reaksi Hye Jin atas sedikit keramahan yang ditunjukannya, Seok Hoon yakin tidak akan ada yang sulit untuk apa yang direncanakannya.

“Aku akan mengambilkanmu gelas dan air mineral di bawah.” Kata Park Hye Jin, sebelum beranjak bangun dari sofa yang didudukinya.

            Seok Hoon  hanya tersenyum, ia tahu sekali Park Hye Jin pergi bukan benar-benar ingin mengambilkan air untuknya, Park Hye Jin pasti sekarang sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai berwarna serupa udang rebus, dengan pergi meninggalkan mereka.

“Konyol sekali.” Seok Hoon bergumam pelan.

“Apa yang terjadi padamu?” Kim Yong Jun, bertanya setelah Park Hye Jin menghilang dari tangkapan mata mereka. “Mengapa kau tiba-tiba menjadi begitu ramah padanya, padahal sebelumnya kau bertingkah sangat mengerikan padanya.”

“Iya hyeong, kau aneh sekali.” Jin Ho menimpali.

“Sudahlah kalian makan saja!” Seok Hoon menyodorkan kotak berisi kimbab pada keduanya. “Mulai hari ini kalian akan melihat betapa ramah dan baiknya aku pada gadis itu.”

            Kim Yong Jun dan Kim Jin Ho saling bertukar pandang, wajah mereka tetap memperlihatkan kebingungan dengan perubahan sikap Seok Hoon. Tapi Seok Hoon tidak memusingkan hal itu, sekarang ini ia lebih suka memikirkan bagaimana caranya membuat Park Hye Jin bisa merasakan apa yang dulu pernah  ia rasakannya.

 

To Be Continued… Story of Us, Glasses Boy In Love part 2

Advertisements

4 responses »

  1. Kyaaaaaa~~~~~
    aku suka karakter Seokhun oppa di sini..
    kesannya manis bgt..
    Admin SG Wannabe Indo top bgt lah..
    Dae to the bak.

    Curiga Park Hyejin itu salah satu adminnya SG Wannabe Indo..
    hihihi..
    kidding…

    SG Wannabe Indo fighting..

  2. Hoho… yang satu bilang sadis, yang satu lagi bilang manis *mana yang bener ya haha..*

    @Springofmonday : terima kasih… pengennya sih Park Hye Jin itu aku, ngga apa-apa deh di jutekin LSH juga, aku rela hihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s