Story of Us (Part 2) – Glasses Boy In Love (Part 2) [fan fiction]

Standard

Story of Us

Glasses Boy In Love (part 2)

 “Seonbae, kau bisa pulang lebih dulu… kau tidak perlu menungguku, masih banyak yang harus aku kerjakan disini.”

“Aku akan menunggumu, aku akan mengantarmu pulang nanti.”

            Senyum itu kembali tergurat di wajah Lee Seok Hoon, selalu seperti itu saat ia berada di dekat Park Hye Jin. Senyum itu ada bukan karena ia memang ingin tersenyum dan bahagia, senyum itu ada karena otaknya memerintahkan itu harus ada. Seok Hoon masih belum tahu sepenuhnya apa yang ia inginkan sebenarnya, selama beberapa hari ini ia berusaha menjadi orang lain, seseorang yang bersikap sangat baik, bahkan terlalu baik hingga ia sendiri merasa ini terlalu memuakan untuk tetap dilakukan.

“Ini mungkin akan lama.” Park Hye Jin kembali bicara.

“Aku akan menunggu.” Seok Hoon berkata tegas, namun masih dengan keramahan yang tetap terjaga.

“Baiklah kalau begitu, tapi jangan pernah salahkan aku kalau nanti kau bosan menunggu.”

            Lee Seok Hoon mengangguk, senyum itu masih ia guratkan di wajahnya. Ia suka melihat Park Hye Jin terlihat tersipu saat ia tersenyum pada gadis itu, semua itu membuat usaha terkesan tidak sia-sia. Seok Hoon sangat tahu perasaan apa yang dirasakan seseorang dengan wajah tersipu seperti itu, ia sangat tahu, karena dulu ia pernah merasakannya. Perasaan yang pada akhirnya akan terasa seperti racun mematikan yang pelan-pelan membunuh semua rasa menyenangkan yang pernah ada, jika seseorang yang membuat itu terasa, menghancurkan semuanya.

            Mata Seok Hoon bergerak mengikuti langkah Park Hye Jin keluar ruang latihan, belakangan ini Park Hye Jin dan beberapa staf memang sangat sibuk mempersiapkan segala hal untuk konser SG Wannabe yang akan digelar dua minggu mendatang. Satu keadaan yang membuat Seok Hoon dengan mudah memberikan banyak perhatian pada Park Hye Jin.

“Belum pulang?” Kim Yong Jun berjalan mendekat, sementara Seok Hoon terduduk di atas sofa ruang latihan, dengan tangan bergerak menyentuh layar iPad untuk mengatasi kebosanannya. “Apa kau menunggu Hye Jin?”

            Seok Hoon hanya mengangguk seadanya untuk menjawab pertanyaan Yong Jun, matanya tetap terfokus pada layar iPad yang di pegangnya.

“Apa kau benar menyukai gadis itu?” Kim Yong Jun kembali bertanya, kali ini ia sudah mendudukan dirinya di samping Seok Hoon.

“Aku tidak tahu.” Seok Hoon menjawab datar.

“Tidak tahu… jawaban macam apa itu, mana mungkin kau tidak tahu.”

            Seok Hoon mengalihkan tatapannya dari layar iPad, ke Kim Yong Jun yang duduk di sampingnya. Belakangan ia tidak suka jika ada seseorang yang terlalu banyak bertanya padanya, pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sangat menjengkelkan.

“Pergilah… biarkan aku disini sendiri, aku sedang tidak ingin bicara tentang hal semacam itu sekarang.”

            Kim Yong Jun menghela nafas pelan, menggeleng, mengisyaratkan adanya keprihatinan atas perubahan sikap Seok Hoon belakangan ini, dan Seok Hoon jelas tidak suka melihat itu semua.

“Kau tahu, kau sangat aneh belakangan ini.”

“Kau bukan orang pertama yang mengatakannya.” Seok Hoon tersenyum kaku.

“Kalau begitu berhenti bersikap aneh, kembali menjadi Lee Seok Hoon yang tidak membuat kami khawatir.” Yong Jun berkata serius.

            Seok Hoon mendengus tertawa, apa yang dipikirkan orang-orang di sekitarnya, apa yang perlu mereka khawatirkan darinya. Ia merasa tidak ada yang salah pada dirinya sampai-sampai mereka perlu khwatir atau semacamnya.

“Apa kalian mengira aku mulai gila atau semacamnya?”

“Kau memang tidak gila.” Sahut Yong Jun, “Tapi kau berbeda.”

“Apa yang membuatmu merasa aku ini berbeda?” Sergah Seok Hoon mulai kesal.

“Kau baru saja menunjukkannya.” Yong Jun menjawab santai, “Kau pemarah sekarang, kau akan dengan mudah, menbentak siapa saja yang melakukan kesalahan padamu… dan yang paling aneh dari semuanya, kau bersikap sebaliknya pada gadis yang semula menjadi sasaran kemarahanmu. Kau begitu baik padanya, sangat baik, sampai-sampai aku merasa itu kebaikan yang kau buat-buat.”

            Seok Hoon sekilas menatap Kim Yong Jun, seperti itukah yang dilakukannya belakangan ini.

“Penjelasan aku marah pada orang-orang itu karena mereka memang salah… dan kalau sekarang aku baik pada Park Hye Jin, karena… karena.”

            Seok Hoon tidak meneruskan kata-katanya, ia tidak tahu harus menjawab apa untuk itu.

“Karena kau mulai menyukainya.” Kim Yong Jun mencoba menerka.

“Mungkin…” Seok Hoon setengah membenarkan.

“Kalau memang benar kau jatuh cinta pada gadis itu, mengapa kau terlihat tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta, kau lebih mirip orang yang sedang putus asa.”

            Seok Hoon berdiri dari duduknya, rasanya sudah tidak ada gunanya ia berada disini, dengan Kim Yong Jun yang terus menyebutkan keanehannya.

“Aku harus pergi… kita bicarakan ini nanti.” Kata Seok Hoon akhirnya, sebelum berjalan pergi keluar ruang latihan.

“Ya Lee Seok Hoon… aku belum selesai bicara padamu.” Suara Kim Yong Jun terdengar memanggilnya.

“Kita bicara lagi besok.” Seok Hoon melambaikan sebelah tangannya, tanpa menoleh, ia terus berjalan keluar ruangan. Mungkin hari ini ia harus meminta maaf pada Park Hye Jin, karena ia tidak bisa menunggunya. Terlalu banyak hal yang dipikirkannya, sampai-sampai ia takut ia tidak akan bisa berpura-pura di depan Park Hye Jin dalam suasana hati seperti ini.

*          *          *

            Dua pria muda berkaca mata membungkuk ke arah mereka, sebelum berjalan pergi keluar cafe milik Ahn Young Min.

“Hati-hati di jalan, kita bertemu nanti di studio.” Ahn Young Min berkata pada kedua laki-laki itu.

            Keduanya kembali membungkuk sopan, satu diantaranya tersenyum dengan begitu ramah pada Seok Hoon, padahal mereka tidak saling kenal.

“Kami pergi dulu hyeong.” Kata mereka nyaris bersamaan pada Ahn Young Min.

“Senang bertemu denganmu seonbaenim.” Kata mereka lagi, kali ini pada Seok Hoon.

“Iya… senang bertemu dengan kalian juga.” Seok Hoon membalas, masih setengah bingung.

            Kedua pria itu berjalan meninggalkan meja tempat Seok Hoon dan Young Min duduk sambil menikmati kopi mereka.

“Siapa mereka hyeong?”

“Mereka Jihwan dan Junhyung, anak-anak baru yang harus aku latih sebelum mereka debut.” Jawab Ahn Young Min.

“Mereka penyanyi?” Seok Hoon kembali bertanya tertarik, sambil mengamati dua orang yang baru saja masuk ke dalam taksi.

“Mereka berdua trainee diperusahaan Cho Young Soo seonbaenim. Mereka mungkin akan debut beberapa bulan lagi.” Jelas Young Min. “Mereka sangat berbakat, Cho Young Soo seonbaenim sangat menyukai mereka.”

            Seok Hoon mengangguk merngerti, kalau penulis lagu dan produser terkenal sekelas Cho Young Soo sudah menyukai mereka, Seok Hoon yakin kualitas mereka akan di atas rata-rata. Berhenti dengan ketertarikannya pada dua orang yang mungkin akan menjadi juniornya, Seok Hoon mengangkat cangkir kopinya, menyesap isinya. Rasanya aneh sekali duduk di cafe ini di siang hari, ia biasa menghabiskan waktunya di cafe ini malam hari bersama dengan sahabat-sahabatnya. Tapi siang ini Ahn Young Min memintanya untuk datang, mengajaknya untuk makan siang bersama, entah untuk tujuan apa. Seok Hoon berharap ini tidak ada kaitannya  lagi dengan sikapnya yang menurut orang-orang di sekitarnya aneh dan mengkhwatirkan.

“Aku dengar kau sedang dekat dengan seseorang belakangan ini?” Ahn Young Min mulai bicara.

            Dugaan itu benar, ia disini untuk mendengar berbagai pertanyaan lagi tentang ia dan kebaikannya pada Park Hye Jin. Apa orang-orang ini tidak memiliki hal lain yang mereka urusi.

“Kau dengar dari siapa hyeong?” Seok Hoon bertanya dengan nada jengah.

“Aku tidak mendengarnya dari siapa-siapa.” Young Min berkata santai. “Kau harus ingat, aku sering sekali datang ke tempat kalian. Dan aku mengenal siapa gadis yang sedang sedang dekat denganmu itu.”

            Seok Hoon mengangguk singkat, tentu saja Ahn Young Min mengenal Park Hye Jin, rumahnya dan Park Hye Jin berada di satu daerah yang sama, Seok Hoon dulu bahkan sempat terkejut saat mendapati rumah Park Hye Won terpisah hanya beberapa rumah dari rumah Ahn Young Min.

“Dia adik Park Hye Won bukan?” Young Min kembali melanjutkan.

            Seok Hoon diam, seolah dalam diamnya ia membenarkan dugaan Young Min.

“Kau bersikap tidak bersahabat padanya sebelum kemudian kau bersikap sangat baik padanya sekarang ini.”

            Seok Hoon langsung menatap tajam ke arah Young Min, heran sendiri mengapa hal seperti ini seniornya ini sampai harus mengetahuinya.

“Aku sempat bicara dengan Kim Jin Ho kemarin.” Jelas Young Min melihat sorot mata Seok Hoon.

            Seok Hoon mendesah pelan, ia kembali mengangkat cangkir kopinya, meneguk isinya lagi.

“Apa kau benar-benar menyukai gadis itu?”

            Kopi yang masih berada di mulutnya seketika tertelan mendengar semua pertanyaan yang diajukan Young Min padanya, mata Seok Hoon bergerak salah tingkah sekarang, ia tidak ingin apa yang ada dalam pikiran terbaca oleh Young Min, selama ini ia tidak pernah berhasil menyembunyikan apa pun dari senior sekaligus orang terdekatnya ini.

“Mengingat apa yang pernah terjadi antara kau dan Park Hye Won, aku mengira ada yang aneh dengan kebaikanmu pada Park Hye Jin.”

            Baiklah, memang tidak ada yang bisa disembunyikan oleh Seok Hoon pada Ahn Young Min, seseorang yang dia sudah anggap seperti kakaknya ini, tahu semua hal yang dulu pernah terjadi pada Seok Hoon, jadi tidak ada alasan yang membuat Seok Hoon bisa menutupi apa pun darinya sekarang.

“Kau dekat dengan Park Hye Jin karena kau ingin membalas perlakuan Park Hye Won padamu dulu.” Ahn Young Min berkata seraya menatap Seok Hoon dengan tatapan tidak percaya. “Apa yang terjadi pada dirimu, mengapa kau sampai punya pikiran untuk melakukan itu semua.”

            Seok Hoon hanya diam, kepalanya tertunduk menatap tangannya yang masih memegang cangkir kopi, tidak ada yang bisa ia katakan sekarang, tidak ada pembelaan yang berhasil ia susun untuk ia katakan ada Young Min.

“Apa benar kau melakukan ini semua karena kau ingin Park Hye Jin merasakan apa yang kau rasakan dulu?” Ahn Young Min, tidak menyerah untuk bertanya, ia seperti berharap Seok Hoon akan menbantah itu semua.

            Seok Hoon mendongakkan wajahnya, tersenyum kaku untuk membalas semua tatapan aneh yang diberikan Ahn Young Min.

“Kau tahu bukan separah apa Park Hye Won menyakitiku.” Seok Hoon merasakan matanya menatap tajam pada Young Min, yang sekarang duduk diam di depannya. “Kau tahu aku sangat hancur saat itu, apa salah kalau sekarang aku ingin seseorang yang dekat dengan orang itu merasakan sedikit perasaan yang dulu pernah aku rasakan.”

“Tapi Park Hye Jin itu tidak bersalah, kau tidak pantas membalas semua kesalahan yang dilakukan Park Hye Won padanya… dia gadis yang sangat baik, berhenti melakukan ini semua, kau akan menyakitinya. Kau jelas tahu bagaimana sakitnya bukan, apa kau benar-benar ingin ada orang lain yang tidak bersalah merasakan apa yang dulu pernah kau rasakan.”

            Apa yang baru saja dikatakan Ahn Young Min berhasil membuat Seok Hoon kosong sesaat. Kepalanya dipenuhi banyak hal, begitu banyak, sampai-sampai ia merasa begitu pusing. Ada rasa tidak nyaman terasa sekarang, mungkinkah rasa tidak nyaman itu ada karena ia mulai merasa apa yang dilakukannya salah.

*          *          *

            Park Hye Jin membuka tutup kotak bekal yang dibawanya, saat mereka duduk di sebuah kursi taman, di malam hari selesai mereka menjalani aktivitas menggila seharian ini.

“Yong Jun seonbaenim mengatakan, kau tidak menghabiskan makan siangmu.”

            Seok Hoon tersenyum singkat untuk menanggapi perkataan Hye Jin. Sejak siang tadi memang ada yang salah dengan selera makannya, rasanya ia tidak terlalu ingin memasukan apa pun ke dalam mulutnya, entah apa alasannya.

“Sekarang makanlah, tadi siang aku sengaja menyiapkan semua ini. Hanya beberapa potong kimbab dan telur dadar memang, aku tidak terlalu punya banyak waktu untuk menyiapkan makanan yang lain… maafkan aku.”

Ada nada menyesal dalam setiap kata yang dikeluarkan Park Hye Jin. Seok Hoon mengambil sumpit yang berada di atas kotak bekal, sebenarnya ia masih enggan untuk memasukan ini semua ke dalam mulutnya, hanya saja melihat Park Hye Jin sepertinya sangat bersusah payah untuk ini semua, ia tidak tega mengabaikannya.

Satu potong kimbab masuk ke mulut Seok Hoon, membuat wajah gadis itu tersenyum sangat lebar. Seok Hoon mengalihkan tatapannya dari wajah tersenyum Hye Jin, ada rasa tidak nyaman saat ia melihat senyum gadis itu, seperti ada.. ada.. ah Seok Hoon sendiri tidak bisa memastikan itu apa.

“Apa setelah ini kau keberatan jika aku meminta tanda tanganmu.” Park Hye Jin bicara hati-hati, Seok Hoon berhenti mengunyah, kembali menatap ke arah Hye Jin.

“Tanda tangan untuk apa?” tanyanya, mengerutkan kening bingung.

“Untuk mini album solo pertamamu.” Jawabnya singkat.

“Kau punya albumku?” alis Seok Hoon terangkat, setengah tidak percaya Park Hye Jin memiliki albumnya.

“Tentu saja, album itu sekarang ada di tasku, di atas sana.” Hye Jin menunjuk asal ke arah gedung, “Sebenarnya aku sudah ingin meminta tanda tangan dari seonbae saat pertama kali aku bertemu denganmu, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya, dan setelah aku merasa berani, seonbae malah bersikap sangat tidak bersahabat padaku.”

            Seok Hoon diam, ternyata selama ini Park Hye Jin menunggu waktu yang tepat untuk meminta permintaan konyol ini, gadis itu bahkan baru berani mengatakannya setelah mereka sudah sedekat ini.

“Kau menyukai albumku?” Seok Hoon bertanya untuk mengalihkan semua pemikiran.

“Aku menyukai semua lagu yang kau nyanyikan.” Jawab Park Hye Jin lugas, “Aku ini fans-mu.”

“Sejak 2008? Saat aku debut dulu?”

            Park Hye Jin menggeleng pelan, gadis itu kembali memperlihatkan senyum manisnya.

“Sebelum itu.” Katanya.

“Sebelum itu, kau bercanda. Mana mungkin kau mengenalku sebelum aku debut bersama SG Wannabe.”

“Aku mengenalmu sejak seonbae menjadi seorang penyanyi Gereja.”

            Mata Seok Hoon mlebar mendengar apa yang baru saja dikatakan Park Hye Jin. Apa benar yang dikatakan Hye Jin, rasanya tidak mungkin Hye Jin mengenalnya saat ia masih menjadi penyanyi gereja. Park Hye Jin tinggal di Seoul selama ini, sementara Seok Hoon menjadi penyanyi di sebuah gereja di Incheon dulu.

“Kau berbohong.”

“Tidak… kalau kau minta, aku bahkan bisa menyebutkan nama gereja tempat seonbae dulu bernyanyi.” Sanggah Hye Jin dengan raut wajah serius. “Aku sering mengunjungi gereja itu di akhir pekan, aku memiliki seorang kerabat yang tinggal di daerah sekitar gereja itu.”

            Seok Hoon sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari Park Hye Jin sekarang, ia ingin mendengar dengan serius apa yang diceritakan Hye Jin.

“Tadinya aku hanya, ikut kerabatku pergi ke gereja itu, tapi setelah aku melihat seseorang bernyanyi dengan sangat luar biasa di paduan suara gereja itu, aku selalu pergi ke gereja itu setiap akhir pekan, aku baru mengakhiri kunjunganku setelah penyanyi yang aku kagumi itu dikabarkan pindah ke Seoul untuk kuliah.”

            Tidak ada yang bisa dikatakan Seok Hoon, selesai mendengar cerita yang dikatakan Park Hye Jin. Selama ini ia tidak pernah menyangka ada seseorang yang mengenalinya saat ia masih menjadi seorang penyanyi di paduan suara sebuah gereja kecil. Saat itu ia masih sangat.. sangat.. sangat, Seok Hoon tidak tahu harus menggambarkan seperti apa penampilannya saat itu, yang jelas tidak akan ada seorang gadis yang bersedia datang hanya untuk melihatnya bernyanyi saat itu. Tapi gadis ini, mengatakan ia datang ke gereja itu hanya untuk melihatnya bernyanyi.

“Aku sangat senang saat untuk pertama kalinya aku melihatmu debut bersama SG Wannabe dulu, walaupun penampilanmu sedikit berubah, aku tetap bisa mengenalimu sebagai penyanyi gereja yang aku kagumi.”

            Seok Hoon mengambil botol air mineral di sampingnya, ia perlu membasahi tenggorokannya. Ada rasa sakit luar biasa saat ia menelan air itu, rasanya seperti ada benda yang mencekat kerongkongannya. Matanya terasa panas saat menatap ke arah Park Hye Jin. Ya Tuhan ini mengerikan, apa yang terjadi padanya sekarang.

“Aku mengenal kakakmu, Park Hye Won.” Seok Hoon mendapati dirinya secara tiba-tiba menyebutkan nama yang paling tidak ingin disebutnya selama ini.

“Tentu saja seonbae mengenal Hye Won onnie, kalau tidak salah sebelum Hye Won onnie pindah kuliah ke Amerika, seonbae berada di fakultas yang sama di tahun yang sama, bukan.”

            Seok Hoon mengangguk membenarkan, Park Hye Won memang kuliah di universitas yang sama dengannya hanya di tahun pertamanya, tahun pertama yang dihabiskan Park Hye Won untuk meninggalkan kenangan pahit bagi Seok Hoon.

“Aku tidak begitu dekat dengan Hye Won onnie, sebelum dia pergi ke Amerika untuk belajar, hingga sekarang ia kembali kesana dengan tunangannya untuk bekerja, aku tidak sering terlalu menghabiskan banyak waktu bersamanya.”

“Kenapa?” Seok Hoon bertanya penasaran, “Bukankah kakak adik, terutama wanita selalu pergi bersama-sama.”

            Park Hye Jin tidak langsung menjawab, tatapan gadis itu terarah ke atas, seolah ia sedang mengalihkan tatapannya ke langit malam kota Seoul.

“Aku tidak terlalu suka pergi dengannya, dia itu berbeda sekali denganku. Dia cantik, pintar dan sangat populer, membuatku selalu merasa tidak nyaman berada di dekatnya, aku selalu merasa seperti itik buruk rupa jika bersama dengannya.”

            Ada senyum getir yang tersungging di wajah Park Hye Jin sekarang ini, Seok Hoon melihat apa yang baru diceritakan gadis itu bukan kenangan yang menyenangkan untuknya.

“Kau tahu seonbae, yang menjadi tunangan kakakku saat ini, dulu adalah seorang senior yang aku sukai diam-diam.”

            Seok Hoon langsung menatap lekat ke arah Park Hye Jin, ia tidak pernah menyangka mendengar kenyataan mengejutkan ini dari gadis itu. Park Hye Jin masih tetap tersenyum, seakan ia sudah melewati semua perasaan sedih yang seharusnya ia rasakan.

“Kau membencinya?” Seok Hoon berharap Park Hye Jin akan mengiyakannya, tapi gadis itu menggeleng.

“Aku tidak pernah membenci kakakku… dia tetap seseorang yang sangat membanggakan untukku, masalah tunangannya adalah laki-laki yang aku sukai, itu bukan kesalahannya. Aku hanya menyukainya secara diam-diam, sampai sekarang Hye Won onnie tidak pernah mengetahuinya… terlepas dari itu semua, dia tetap kakak yang sangat menyayangiku.”

            Seok Hoon tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menanggapi semua cerita yang baru saja ia dengar dari Park Hye Jin. Kepalanya memutarkan banyak sekali pemikiran. Sama sepertinya Park Hye Jin juga pernah terluka dengan keberadaan Park Hye Won. Lalu sekarang, untuk apa Seok Hoon memiliki rencana jahat untuk lebih menyakiti hati seseorang yang juga pernah terluka.

“Maaf seonbae, aku menceritakan banyak hal yang seharusnya tidak penting untuk kau dengar.”

“Tidak… kau minta maaf untuk apa, aku senang kau menceritakan itu semua padaku.” Sahut Seok Hoon cepat.

            Park Hye Jin menghela nafas dalam, kembali merekahkan senyum terbaiknya. Seolah beban yang semula ia rasakan sekarang sudah pergi meninggalkannya.

“Kau masih tetap bersedia menandatangani CD albummu bukan?”

“Tentu saja, aku akan menandatanganinya.”

“Kalau begitu aku akan mengambil tas ku, dan membawa CD-CD itu padamu.” Seru Hye Jin.

“Bawalah! Aku akan menunggumu disini… setelahnya aku akan mengantarmu pulang.”

            Park Hye Jin berjalan menjauh kembali menuju gedung, meninggalkan Seok Hoon yang masih duduk di kursi taman dengan perasaan yang campur aduk. Kebencian yang semula ingin ia lampiaskan kepada Park Hye Jin dengan begitu cepat terasa hambar, keinginan untuk membuat Park Hye Jin sama menderitanya seperti apa yang dirasakannya dulu, dengan tiba-tiba terkikis habis. Ia tidak mungkin membuat gadis itu harus merasa lebih terluka, ia tidak mungkin membiarkan dirinya berubah menjadi monster yang tega melukai gadis sebaik Park Hye Jin, tidak, itu tidak mungkin dilakukannya.

Hyeong.”

            Lee Seok Hoon segera mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Lee Jin Sung berdiri tepat di sampingnya.

“Kau ada disini, ada apa?” Seok Hoon langsung bertanya, setengah terkejut sebenarnya mengingat ia tidak pernah memiliki janji untuk bertemu Lee Jin Sung hari ini.

“Aku datang untuk memukulmu hyeong.” Kata Lee Jin Sung.

            Seok Hoon tersentak, Lee Jin Sung baru saja mengatakan kalimat itu dengan nada yang sangat serius.

“Apa maksudmu, mengatakan itu padaku?”

            Seok Hoon bangun dari kursinya, berdiri tepat di hadapan dengan Lee Jin Sung yang menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat, seakan Seok Hoon adalah musuh yang paling dibencinya. Tapi alih-alih menjawab pertanyaan Seok Hoon, Jin Sung malah mengarahkan pukulannya, menggantikan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Seok Hoon. Rahang Seok Hoon terasa nyeri luar biasa, tanpa persiapan pukulan keras Jin Sung merobohkannya, membuatnya kembali terduduk di kursi taman.

“Itu untuk Park Hye Jin, yang sudah menerima kebaikan palsu yang kau tunjukan padanya.” Sergah Lee Jin Sung, matanya menyorot penuh kemarahan pada Seok Hoon. “Aku beruntung bisa menbujuk Young Min hyeong untuk menceritakan semua rencana jahatmu pada Hye Jin, kalau tidak, selamanya aku akan percaya kalau Hye Jin akan bahagia karena kau benar mulai menyukainya.”

            Seok Hoon tidak megatakan apa-apa, rahangnya yang baru saja menerima pukulan dari Jin Sung terasa terlalu kaku untuk ia pakai bicara.

“Aku menyukai Park Hye Jin… jadi menjauh dari wanita yang kusukai.” Jin Sung kembali bicara, masih dengan nada suara dingin.

            Lee Seok Hoon menatap Jin Sung, benar dugaannya selama ini, Jin Sung memang menyukai Park Hye Jin.

“Kalau kau masih berusaha mendekati Hye Jin dengan rencana mengerikan di kepalamu, kau akan berhadapan denganku.”

            Seok Hoon menegakan duduknya, tangannya mengusap pelan darah hangat yang terasa mengalir dari ujung bibirnya. Wajahnya mulai membentuk sebuah senyum, senyum yang menyakiti luka dibibirnya.

“Sebagai teman Park Hye Jin, kau sangat bisa diandalkan.” Katanya lirih.

“Lee Seok Hoon…” Lee Jin Sung membentak keras dirinya. “Berhenti menganggap apa yang ku lakukan hanya lelucon… aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan Park Hye Jin sebagai pelampiasan dendammu pada Park Hye Won.”

            Disisi lain, baik Lee Seok Hoon dan Lee Jin Sung, tidak menyadari Park Hye Jin berdiri diam di dekat mereka, cukup dekat untuk menyaksikan pertengkaran mereka, cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka tentang dirinya.

To be continued… Story of Us, Glasses Boy In Love part 3.

Advertisements

4 responses »

  1. what? ?msh bersambung. . . Teganya dirimu membuatku tmbh penasaran lg eon. . .
    Jiah. . Itu Cameo nongol jga trnyata. . Bapak ketemu anak2nya juga. . Hi2

    saran dikit yah eon,
    part galaunya Seok Hoon hbs dinasehatin sama Ahn Ahjussi itu enaknya rada nambah dikit gtu. *edisiReaderGalau* ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s