Story of Us (Part 2) – Glasses Boy In Love (Part 3) [fan fiction]

Standard

Story of Us

Glasses Boy In Love (part 3)

Park Hye Jin tidak tahu apa yang benar-benar dirasakannya sekarang, ia baru menghubungi Park Hye Won, kakaknya di Amerika, ia tidak peduli jam berapa sekarang disana, mengganggu aktivitas kakaknya atau tidak, ia tidak begitu peduli. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikirannya, banyak hal hingga ia merasa ia akan meledak jika tidak mendapat penjelasan untuk semuanya.

“Aku mengenal Lee Seok Hoon, dia salah satu teman satu angkatanku saat kuliah dulu… aku dengar sekarang dia sudah menjadi seorang penyanyi terkenal, aku tidak pernah menyangka ia akan berubah menjadi sangat tampan sekarang. Jika aku tahu akan seperti itu aku tidak akan membuat sedikit lelucon padanya dulu.”

            Park Hye Won mengatakan itu semua tanpa nada penyesalan, ia malah seperti sedang mengingat masa lalu yang menggelikan saat menceritakan itu semua. Wanita itu bahkan tidak pernah mengetahui dampak luar biasa apa yang sudah ditinggalkannya untuk seseorang. Membuat Hye Jin langsung menutup teleponnya, saking kesalnya ia mendengar suara kakaknya.

            Park Hye Jin membaringkan dirinya di atas tempat tidur, perasaannya semakin tidak menentu saja setelah bicara dengan Kakaknya. Lee Seok Hoon mungkin menyimpan luka yang cukup dalam atas perlakuan Park Hye Won, namun nyatanya orang yang membuat luka itu tidak terlalu memikirkannya, ia tetap menjalani hidup dengan baik, bahkan penuh kesenangan, sementara Lee Seok Hoon, seseorang yang terluka karenanya harus hidup dengan berbagai hal menyakitkan.

“Kau ini benar-benar keterlaluan.” Hye Jin, menatap marah ke arah figura yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya, figura yang membingkai fotonya bersama Hye Won. “Kau tahu, apa yang kau lakukan begitu menyakiti seseorang, dan kau tahu sekarang orang itu berusaha untuk menyakitiku juga… Dan ini semua salahmu.”

            Tanpa terasa Park Hye Jin merasakan air mata hangat jatuh membasahi pipinya. Tadinya ia tidak pernah berniat untuk menangis, dia jelas bukan gadis lemah yang mudah menangis, tapi nyatanya ini sulit untuk ditahannya, sesak ini terlalu menyiksanya.

            Tangan Hye Jin meraih kotak CD album Lee Seok Hoon, CD yang seharusnya sudah di tanda tangani Lee Seok Hoon saat mereka bertemu tadi, sayang  di tengah perasaan bahagia itu, ia harus menemukan fakta bahwa selama ini Lee Seok Hoon berbaik hati padanya hanya karena rencana balas dendam untuk kesalahan yang Hye Jin sendiri tidak pernah terlibat di dalamnya. Ada rasa sakit dalam diri Hye Jin saat mengetahui itu semua, sedikit kemarahan terasa di sela kesedihannya, tadinya ia ingin menghampiri Lee Seok Hoon, untuk menamparnya, setelah Lee Jin Sung memukulnya. Tapi yang bisa dilakukannya saat itu hanya berlari pergi, mungkin sampai sekarang, baik Lee Seok Hoon maupun Lee Jin Sung tidak menyadari kalau dirinya mengetahui semuanya.

            Sekali lagi ponsel di samping Park Hye Jin berdengung, setengah hati ia melihat ke arah ponselnya, mengira yang menghubunginya adalah Lee Jin Sung yang sudah tiga kali mencoba untuk meneleponnya, namun Hye Jin merasa enggan menjawab telepon dari Jin Sung. Ia tahu apa yang mungkin akan dikatakan Jin Sung setelah apa yang terjadi antara Jin Sung dan Lee Seok Hoon tadi. Jin Sung mungkin  akan menceritakan kenyataan bahwa selama ini Lee Seok Hoon hanya mempermainkannya. Hye Jin mengerti sepenuhnya niat baik Lee Jin Sung, ia berterimakasih Jin Sung mau membelanya, hanya saja untuk mendengar kenyataan itu dua kali, Hye Jin lebih memilih tidak mendengarnya.

            Orang yang membuat ponselnya berdengung kali ini ternyata bukan Jin Sung, tapi Lee Seok Hoon. Hye Jin masih tidak tahu apa ia perlu menjawab telepon dari Seok Hoon, seseorang yang seharusnya saat ini sedang begitu dibencinya, ya… seharusnya rasa benci itu ada sekarang, memenuhi benaknya hingga ia ingin melakukan sesuatu untuk menyakiti Lee Seok Hoon atau semacamnya. Hanya saja Hye Jin tidak merasakan itu semua, entah apa yang membuat kebencian itu tidak terasa, atau kebencian itu masih belum terasa.

*          *          *

            Dari atas panggung saat SG Wannabe melakukan GR di Kyung Hee University Peace Center, tempat dimana nanti malam SG Wannabe akan membuka rangkaian konser nasional mereka. Lee Seok Hoon menoleh ke belakang panggung, menatap lurus ke arah Park Hye Jin yang terlihat sangat sibuk bersama dengan para staf yang mempersiapkan beberapa hal sebelum konser di mulai 4 jam dari sekarang.

            Tidak banyak waktu yang memberi kesempatan baginya untuk menghampiri Hye Jin dan bicara, terlalu banyak hal yang harus mereka lakukan, Park Hye Jin bahkan tidak sempat datang untuk menyapanya seperti biasa. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada Park Hye Jin, seperti, mengapa Hye Jin tiba-tiba pergi begitu saja malam itu, mengapa Hye Jin tidak pernah menjawab telepon dan membalas pesan darinya. Seok Hoon juga ingin bertanya pada Hye Jin, apakah Lee Jin Sung sudah mengatakan semua padanya, apakah ia sudah mengetahui semuanya.

Hyeong… apa yang kau lakukan? Cepat kemari!”

            Lee Seok Hoon segera menoleh ke arah Jin Ho yang memanggilnya, berhenti menatap Park Hye Jin, dan berjalan ke tengah panggung untuk berlatih bersama dua anggota SG Wannabe lainnya. Hari ini ia mungkin harus bisa mengesampingkan banyak hal untuk konser ini. Berbagai pertanyaannya untuk Park Hye Jin, masalah barunya dengan Lee Jin Sung, tidak mungkin ia biarkan mempengaruhi penampilan dalam konser perdana mereka malam ini, ia harus memberikan yang terbaik untuk semua penggemar yang datang untuk mereka.

#          #          #

            Lee Seok Hoon turun dari atas panggung, menghela nafas dengan lega, selesai SG Wannabe menyanyikan bait terakhir lagu penutup konser mereka. Kim Jin Ho segera memeluknya, diikuti Kim Yong Jun.

“Kita melakukannya dengan baik.” seru Yong Jun.

“Ya kita melakukan dengan baik.” Jin Ho menimpali.

            Seok Hoon tersenyum, mengangguk pada keduanya, selalu menjadi moment yang sangat mengharukan untuknya setiap kali mereka menyelesaikan konser mereka. member SG Wannabe beralih untuk mengucapkan terima kasih pada semua staf di belakang panggung yang sudah membantu mempersiapkan konser mereka, Seok Hoon pun melakukan hal yang sama, hanya saja ia mulai mencari-cari sosok seseorang, seseorang  yang terus dipikirkannya. Park Hye Jin tidak terlihat diantara para staf yang ada di belakang panggung.

“Permisi apa kau melihat Park Hye Jin ssi?” Seok Hoon akhirnya bertanya pada salah satu staf yang sedang menggulung kabel besar.

“Aku belum melihatnya sejak tadi… mungkin dia sedang ada di ruang ganti, atau tempat lainnya.”

            Seok Hoon mengangguk berterima kasih untuk jawaban tidak pasti dari staf tadi. Pelan-pelan menjauh dari keramaian belakang panggung selesai konser.

“Kau mau kemana? Akan ada makan bersama setelah ini.” Kim Yong Jun berteriak dari balik punggung Seok Hoon.

            Seok Hoon hanya mengangkat tangannya, mengisyaratkan dia mengerti dengan apa yang dikatakan Kim Yong Jun. Ada hal yang perlu ia selesaikan dan pastikan sebelum ia melakukan hal lain. Ia harus menemukan Park Hye Jin sekarang, kalau tidak ingin perasaannya semakin tidak karuan.

            Dan betapa leganya Seok Hoon saat melihat Park Hye Jin berada di salah satu sudut ruang ganti, sedang memasukkan sesuatu yang entah apa, ke dalam box besar. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Seok Hoon dia ruangan itu. Seok Hoon menyapa beberapa orang yang di lewatinya, berjalan menuju Park Hye Jin. Berdiri tepat disisi Park Hye Jin.

“Kau bekerja sangat keras hari ini.” Seok Hoon mengeluarkan suaranya, tersenyum tenang, saat Park Hye Jin dengan terkejut mendongak ke arahnya.

            Mata Hye Jin melebar saat menatap Seok Hoon, begitu mengejutkan kah ia, sampai-sampai Hye Jin melihatnya dengan ekspresi seperti itu.

“Maaf aku mengejutkanmu.” Seok Hoon segera menambahkan.

“Oh tidak seonbae, aku sedikit tidak menyangka kau tiba-tiba muncul disini.” Kata Hye Jin, kalimat sederhana itu menepis semua kerisauan Seok Hoon atas berbagai kemungkinan yang dipikirkannya.

“Kau tidak menjawab telepon dariku sejak kemarin malam.” Tanpa menunda Seok Hoon langsung menanyakan apa yang mengganggunya. “Kau menghilang begitu saja, setelah mengirimkan pesan kalau kau harus pulang karena satu hal malam itu… apa kau tidak pernah berpikir kau akan membuat seseorang mencemaskanmu?”

“Maaf seonbae, aku sibuk sekali beberapa hari ini, banyak hal yang harus aku kerjakan.” Jawab Hye Jin lagi. Seok Hoon mengangguk, menerima jawaban Hye Jin, walaupun sebenarnya dia tidak terlalu suka cara Hye Jin menghindari tatapan matanya.

“Aku mengerti.” Kata Seok Hoon akhirnya.

“Maaf seonbae, aku harus segera menyelesaikan ini.” Hye Jin menunjuk sekenanya ke arah box besar di hadapannya, menyatakan seolah pembicaraan mereka harus segera berakhir karena kesibukannya.

“Kau akan datang ke acara makan bersama kita setelah ini bukan?”

            Park Hye Jin yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhi Seok Hoon dengan mendorong troli yang untuk mengangkut box, menoleh pada Seok Hoon. ada senyum tipis tergurat di wajahnya yang terlihat begitu lelah.

“Aku akan berusaha untuk datang.” Katanya sebelum kembali berjalan dengan trolinya.

            Park Hye Jin memang tidak menunjukan kalau dia sudah tahu segalanya, karena Seok Hoon yakin kalau memang Park Hye Jin tahu, dan Lee Jin Sung sudah menceritakan semuanya, Hye Jin tidak akan setenang itu, paling tidak ia akan menampar Seok Hoon atau semacamnya untuk pelampiasan kekesalannya. Tapi kalau memang ia belum mengetahui apa pun, mengapa Seok Hoon merasa ada yang berbeda dengan Park Hye Jin, Hye Jin seperti menghindarinya, itu yang dirasakan olehnya sekarang.

            Dan apa yang dikhawatirkan Seok Hoon seperti mendapat pembenaran, saat Park Hye Jin menjadi satu-satunya staf yang tidak datang saat makan malam bersama setelah konser selesai.

*          *          *

“Kau tidak ikut bergabung semalam.” Seok Hoon akhirnya berhasil bicara berdua dengan Park Hye Jin di kursi taman yang pernah mereka duduki malam itu.

            Pagi ini Seok Hoon berhasil bertemu Park Hye Jin di lobi samping kantor management-nya. Seok Hoon tahu lagi-lagi ada keengganan yang ditunjukan Park Hye Jin saat ia minta waktu untuk bicara, berbagai alasan seperti ia sedang sibuk mengerjakan sesuatu atau harus segera pergi ke suatu tempat, diutarakan gadis itu, tapi Seok Hoon berhasil memaksanya untuk mau memberikan sedikit waktu untuknya.

“Aku harus segera kembali ke rumah tadi malam, ada yang harus aku lakukan, orangtuaku memintaku untuk segera pulang.” Jelas Park Hye Jin, senyum samar itu tetap tersungging di wajah kakunya.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku… Apa kau bertemu dengan Lee Jin Sung, atau dia mengatakan sesuatu padamu?”

            Park Hye Jin menggeleng pelan, ia menghela nafas panjang, sebelum kembali menatap rerumputan kecil taman yang diinjaknya.

“Aku belum bertemu dengannya, aku bahkan beberapa hari ini tidak menjawab telepon darinya.”

“Kenapa?”

“Aku hanya ingin menjaga perasaanku dan menjaga perasaannya. Dia teman yang sangat baik.”

            Seok Hoon tidak begitu mengerti kemana arah kata-kata Hye Jin barusan, apa yang dikatakannya mengesankan seolah-olah ia tahu apa yang terjadi malam sebelumnya.

“Apa kau melihatku dengan Lee Jin Sung malam itu?” Seok Hoon akhirnya bertanya, setengah dari dirinya berharap Park Hye Jin akan menjawab tidak, atau paling tidak dia akan menggeleng singkat seperti biasanya. Namun sayangnya Park Hye Jin mengangguk pelan untuk menjawab semua tanya itu. Jantung Seok Hoon terasa berdetak cepat saat menatap Park Hye Jin, gadis itu hanya diam, masih ada sedikit senyum tergurat di wajahnya, ia tidak melakukan apa pun seperti yang tadinya diduga Seok Hoon akan dilakukan Park Hye Jin saat mengetahui semua, tapi entah kenapa ketenangan sikap Park Hye Jin malah terasa lebih dalam menohok dadanya.

“Aku tahu tentang semua yang kau rencanakan untukku, kalau itu yang seonbae ingin tahu.” Kata Park Hye Jin kemudian, membuat Seok Hoon serasa mati rasa, tenggorokannya tiba-tiba terasa sakit seperti ada yang memasukan sesuatu yang mencekat di dalamnya.

“Kau tahu.” Hanya kalimat singkat itu yang bisa diucapkan Seok Hoon.

            Sekali lagi Park Hye Jin mengangguk memastikan bahwa ia memang benar sudah mengetahui semuanya. Sementara Seok Hoon dibuat terdiam, tidak tahu harus melakukan apa dan bereaksi seperti apa, Seok Hoon memalingkan wajahnya dari Park Hye Jin, ada perasaan aneh yang membuatnya seperti tidak mampu untuk menatap gadis itu, rasa bersalah kah, atau rasa malu karena semua telah terungkap, itu semua tidak jelas.

“Kalau apa yang seonbae ingin tahu sudah terjawab, aku harus kembali ke dalam, banyak hal yang yang harus aku kerjakan… aku permisi seonbae.”

            Lee Seok Hoon menoleh menatap Park Hye Jin, ia melihat ada senyum samar di wajah gadis itu, senyum yang entah masih ada untuk alasan apa.

“Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu padaku?” Seok Hoon tiba-tiba mendapati dirinya bertanya.

“Melakukan apa?” Hye Jin bertanya, mengerutkan keningnya.

“Kau tidak ingin marah, atau memukulku untuk melampiaskan semua kemarahanmu atas ini semua.” Seok Hoon lanjut bicara dengan suara dalamnya.

            Seok Hoon tahu Hye Jin sedang menatapnya sekarang, tapi ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membalas tatapan gadis itu, ada yang membuatnya merasa lemah saat ini.

Seonbae.” Hye Jin kembalinya bicara, pelan namun terdengar tegas, seolah meminta Seok Hoon untuk menatapnya.

            Seok Hoon mengangkat wajahnya perlahan, memberanikan untuk menatap wajah Hye Jin yang semula dihindarinya.

“Seonbae ingin aku melakukan apa?” tanya Hye Jin tenang.

“Aku tidak tahu, kau bisa melakukan apa pun padaku untuk melampiaskan semua kemarahanmu.”

“Aku tidak ingin melakukan apa pun untuk itu.”

            Mata Seok Hoon melebar menyusul perkataan Hye Jin, gadis ini benar-benar sudah membuatnya bingung.

“Aku memang sedih dan marah untuk apa yang seonbae lakukan, tapi aku baik-baik saja sekarang. Seonbae punya alasan yang tepat untuk melakukan itu, aku bisa mengerti, oleh sebab itu aku merasa aku tidak perlu melakukan apa pun pada seonbae… kau seseorang yang sangat baik, aku menyesal kau harus menyimpan semua luka itu hanya karena perlakuan kakakku, aku minta maaf untuk itu. Aku tidak pernah menyangka seonbae pernah mengalami itu semua, dan sayangnya orang yang membuat seonbae mengalami itu semua adalah kakakku sendiri.”

            Park Hye Jin mendongakkan wajahnya selesai mengatakan semua hal yang ingin dikatakannya, dari sudut matanya Seok Hoon melihat mata Hye Jin menggenangkan air mata, akan meneteskan air mata kah gadis itu. Air mata untuk apa? Untuk luka yang ia sembunyikan, atau untuk hal lain, Seok Hoon berharap ia tahu jawaban tepatnya.

*          *          *

            Lee Seok Hoon melangkah pelan ke arah pintu apartement-nya, saat ada yang membunyikan bel.

“Ini aku.”

            Seok Hoon tersenyum saat melihat, Kim Hyung Soo (K.Will) yang datang, ia segera membuka kunci apartement-nya.

Hyeong… kau sudah kembali?” Seok Hoon langsung bicara saat Kim Hyung Soo baru saja masuk ke dalam apartement-nya. “Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?”

“Berhenti bertanya! Lihat dirimu, seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau baik-baik saja.”

            Lee Seok Hoon mengikuti arah pandangan Kim Hyung Soo, melihat dirinya sendiri yang terlihat sangat berantakan, jika dia berdiri di depan cermin sekarang mungkin ia tidak akan begitu mengenali dirinya. Sudah dua hari ini ia memang tidak banyak melakukan apa pun, baik pada dirinya atau pekerjaannya. Selesai pembukaan konser Nasional SG Wannabe beberapa hari lalu, Seok Hoon meminta ijin pada management-nya untuk beraktivitas dalam beberapa hari, dengan alasan sakit. Ini jelas sulit, namun Seok Hoon terus berusaha menyakinkan pihak management untuk mengijinkannya. Ia menjamin semua ini tidak akan mengganggu persiapan konser SG Wannabe dan kontrak kerja lainnya. Hari libur yang sangat sulit ia dapatkan dan hanya ia habiskan dengan mengurung diri di apartement-nya dengan berbagai pemikiran yang membuatnya semakin tenggelam dalam pemikiran lainnya.

“Mereka mengatakan kau sakit, Jin Ho meneleponku kemarin, dia mengatakan ada yang aneh denganmu, dan kau tidak mau bercerita padanya.”

            Seok Hoon tersenyum kaku menanggapi perkataan Kim Hyung Soo, tangannya bergerak pelan merapikan rambutnya yang entah sejak kapan belum disisirnya.

“Dan aku mendengar cerita menarik dari Lee Jin Sung, tentang kau dan gadis bernama Park Hye Jin.”

            Tidak ada yang dikatakan Seok Hoon, jika Kim Jin Ho, Lee Jin Sung atau orang-orang yang lainnya sudah menceritakan semuanya, tidak ada yang bisa disembunyikan lagi olehnya, terutama dari Kim Hyung Soo.

“Aku tidak tahu terjadi banyak hal selama aku meninggalkan kalian.” Kim Hyung Soo mulai bicara ketika ia sudah duduk di sofa ruang tengah apartement, Seok Hoon sudah menyuguhinya secangkir kopi untuknya.

“Kau pergi terlalu lama hyeong.” Timpal Seok Hoon.

“Bocah ini… Aku butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja.” Kata Kim Hyung Soo santai sambil mengangkat cangkir kopinya.

“Aku mengerti hyeong.” Kata Seok Hoon dengan nada merenung. “Aku mengerti butuh waktu yang lama untuk mengembalikan semuanya seperti semula.”

“Kau seperti sedang bicara pada dirimu sendiri.” Kim Hyung Soo tersenyum samar, “Lee Seok Hoon, kau sedang dalam masalah besar sekarang… kau terpuruk karena cinta.”

            Seok Hoon tiba-tiba mendengus tertawa menyusul perkataan Kim Hyung Soo. Terpuruk karena cinta, konyol sekali mendengar penggalan kalimat itu ditujukan untuknya.

“Aku tidak terpuruk karena cinta hyeong, aku hanya lelah, dan aku hanya butuh sedikit waktu untuk semua hal gila yang aku lakukan.”

“Mulutmu itu boleh mengatakan itu, tapi lihat wajahmu, lihat gerak tubuhmu, semua berkata sebaliknya.”

            Lee Seok Hoon diam, ia tidak bisa mengatakan apa yang dikatakan Kim Hyung Soo benar atau tidak, karena ia sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa yang dirasakannya. Ia hanya merasa sedikit kosong dan… entahlah.

“Kau menyukai gadis itu?” Kim Hyung Soo bertanya.

“Gadis siapa maksudmu?”

“Tentu saja gadis bernama Park Hye Jin itu.”

            Tidak menjawab, Seok Hoon hanya diam menatap jari-jari yang ia silangkan dipangkuannya.

“Jawabannya jelas, kau menyukainya.” Kim Hyung Soo menyimpulkan.

“Aku tidak tahu hyeong, aku tidak pernah berpikir bahwa aku menyukai gadis itu atau tidak. Dia gadis yang baik, dia gadis yang tulus, dan dia selalu membuatku merasa istimewa jika aku bersama dengannya. Hanya saja untuk jatuh cinta padanya aku rasa aku belum…”

            Seok Hoon menghentikan kata-katanya seolah ia sendiri tidak tahu harus melanjutkan dengan apa.

“Kau hanya butuh waktu untuk menyadarinya… mungkin sekarang yang kau rasa untuk gadis itu hanya perasaan bersalah atau semacamnya, tapi jika kau benar-benar bisa merasakan, aku tahu ada sedikit rasa takut kehilangan dalam dirimu sekarang.”

            Tangan Seok Hoon bergerak menyentuh dadanya, ada sedikit yang mengganggu kinerja jantungnya saat ini. Takut kehilangan, benarkah itu ada dalam dirinya, jika ada mengapa dia tidak menyadarinya, sementara orang lain bisa mengetahuinya.

“Perbaiki hubungan dengan Lee Jin Sung… anak itu memang terlihat marah, tapi dia sangat mengkhawatirkanmu, dia menjadi salah satu orang yang memintaku untuk menemuimu.”

“Aku tahu hyeong… aku akan menghubunginya nanti.” Kata Seok Hoon akhirnya.

            Kim Hyung Soo berdiri dari sofa yang didudukinya, berjalan ke arah Seok Hoon dan menepuk bahu Seok Hoon seperti biasanya.

“Kau hanya perlu meninggalkan semua pemikiran yang seharusnya tidak kau pikirkan, dan rasakan dengan benar apa yang kau rasakan… kau akan bisa mengatasi semuanya.”

            Lee Seok Hoon mengangguk, ia bersyukur Kim Hyung Soo datang menemuinya, semua hal yang dikatakan oleh Kim Hyung Soo membuatnya merasa sedikit lega.

*          *          *

“Makan itu, aku sudah membelikannya untukmu.” Lee Jin Sung menjatuhkan tatapan pada setumpuk ayam goreng yang baru saja ia letakan di atas meja apartement Lee Seok Hoon. “Mereka bilang restoran itu menjual ayam goreng yang enak, makanya aku membelikannya untukmu.”

“Aku akan memakannya nanti.” Seru Seok Hoon, “Terima kasih kau bersedia datang.”

“Hyung Soo hyeong yang memintaku untuk datang.” Jin Sung berkata datar, seolah dia sebenarnya enggan untuk datang.

            Seok Hoon tersenyum melihat tingkah Lee Jin Sung, ia tahu Jin Sung sudah tidak marah padanya, anak itu hanya berpura-pura sedang kesal sekarang ini.

“Hye Jin kembali menolakku.” Jin Sung berkata tiba-tiba.

            Seok Hoon langsung mendongakan kepalanya, meletakan kembali satu potong ayam goreng yang baru saja akan dimakannya.

“Kembali menolakmu, maksudnya?”

“Iya gadis itu kembali menolakku.” Kata Jin Sung dengan nada suara kesal. “Setelah beberapa bulan lalu aku mengatakan aku menyukainya, kemaren itu kedua kalinya aku mengatakan aku menyukainya. Tapi lihat betapa sombongnya gadis itu mengatakan bahwa ia lebih senang menjadi sahabatku alih-laih menjadi kekasihku.”

            Lee jin Sung berhenti bicara sebentar untuk meminum jus jeruk di depannya, di mata Seok Hoon ia terlihat kesal sekali.

“Gadis itu tidak tahu berapa banyak wanita diluar sana yang bersedia menjadi kekasihku, penggemarku akan sangat membencinya jika tahu dia sudah menolakku dua kali.”

            Lee Jin Sung kembali mengangkat gelas jusnya, menghabiskan isinya dalam sekali teguk dan membanting gelas kosong di atas meja.

“Park Hye Jin itu benar-benar.”

            Tidak tahu harus bereaksi apa atas kekesalan Lee Jin Sung, Seok Hoon lebih memilih diam. Akan lebih baik baginya untuk membiarkan Jin Sung mengeluarkan semua kekesalan terlebih dahulu.

“Aku tidak akan menyukai gadis sombong itu lagi, sayang aku tidak bisa marah padanya, aku masih membutuhkannya untuk membantuku di kelas jika aku ingin segera lulus.”

            Lee Jin Sung mengusap wajahnya dengan gusar, ia kembali mengangkat gelas jusnya, menghela nafas pelan saat sadar gelasnya kosong.

“Boleh aku minta jus ini lagi hyeong?”

“Kau bisa mengambilnya lagi di lemari es.”

            Ia beranjak dari sofa ke arah lemari es menuangkan jus ke gelasnya, yang langsung ditandaskannya.

“Kau belum menemuinya lagi hyeong?” Lee Jin Sung bertanya setelah ia kembali duduk di sofa. Seok Hoon menjawabnya dengan menggeleng pelan.

“Mengapa kau tidak menemuinya.” Lee Jin Sung berkata tidak sabar “Minta maaf padanya, katakan kalau kau menyesal. Aku lelah melihat kalian saling menyakiti dengan ini semua.”

“Kau tahu hyeong, Park Hye Jin itu bahkan tidak pernah menyalahkanmu, ia selalu mengatakan bahwa kau berhak melakukan itu semua, dan yang paling mencengangkan dari semuanya, dia sangat mengkhawatirkanmu saat semua orang mengatakan kau sedang sakit.”

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa jika aku bertemu dengannya, ini semua terlalu membingungkan, terlalu memalukan.”

“Berhentilah menjadi bodoh hyeong.” Sergah Jin Sung. “Kita semua tahu Park Hye Jin menyukaimu, dan jika melihat apa yang terjadi padamu sekarang, aku yakin kau juga merasakan hal sama… jangan membuatku sampai harus memukul wajahmu sekali lagi untuk menyadarkanmu akan hal itu.”

            Mengapa orang-orang di dekatnya begitu pandai menebak semua yang mungkin dirasakannya, sementara dirinya sendiri masih meraba perasaan itu.

“Aku akan menyuruh gadis sombong itu untuk datang melihatmu kesini besok. Orang-orang seperti kalian memang butuh bantuan.”

*          *          *

            Lee Seok Hoon duduk di meja makan apartement-nya, matanya bergerak mengikuti gerak Park Hye Jin yang sedang menuangkan bubur yang dibawanya dari dalam termos ke mangkuk. Sebenarnya Seok Hoon masih belum percaya benar Park Hye Jin datang menemuinya setelah semua hal yang terjadi antara mereka, gadis itu bahkan membawakan berbagai makanan untuknya.

“Jin Sung seonbae mengatakan kalau sakitmu lumayan parah, kau bahkan tidak bisa bangun sama sekali dari tempat tidurnya, walaupun hanya untuk mengambil segelas air minum.” Hye Jin terus bicara sambil menata semua makanan yang dibawanya ke atas piring di meja makan, sementara Seok Hoon hanya duduk diam mengamatinya.

“Dia benar-benar sudah mengbohongiku, lihat saja nanti aku tidak akan membantunya menyelesaikan semua tugas kuliahnya.”

            Seok Hoon tersenyum mendengar semua keluhan Park Hye Jin. Seok Hoon suka Hye Jin ada didepannya sekarang, kehadiran gadis itu membawa kelegaan tak terjelaskan.

“Apa kau tidak akan datang jika Lee Jin Sung tidak berbohong padamu dengan mengatakan bahwa sakitku parah.”

            Park Hye Jin tidak langsung menjawab, ia mengangkat wajahnya dan matanya langsung menatap lurus ke mata Seok Hoon, gadis itu segera memalingkan wajahnya, kembali menggerakkan sumpitnya untuk memindahkan beberapa potong kimbab ke atas piring.

“Aku sebenarnya sudah ingin datang menjenguk seonbae sejak kemarin, hanya saja aku tidak cukup berani untuk datang.” Katanya pelan.

“Kenapa kau harus merasa seperti itu, yang seharusnya tidak berani untuk menemuimu adalah aku.” Sanggah Seok Hoon, “Aku yang bersalah dalam hal ini, bukan dirimu. Aku bahkan belum meminta maaf padamu.”

“Aku tidak berani menemuimu, karena aku adalah adik dari orang yang membuatnya begitu terluka dengan perlakuan buruknya. Aku takut seonbae akan kembali membenciku. Seonbae sekarang sudah tidak mungkin berpura-pura menyukaiku lagi bukan, jadi aku pikir seonbae akan kembali bersikap tidak bersahabat padaku jika aku datang dan membuat seonbae merasa terganggu.”

            Seok Hoon menatap tidak percaya ke arah Hye Jin, selesai mendengarkan penjelasan panjang lebar Hye Jin. Bagaimana bisa Park Hye Jin punya pemikiran seperti itu.

“Apa kau menilai aku adalah orang begitu pendendam, apa kau mengira aku akan mengisi hidupku hanya dengan kebencian.”

“Bukan seperti itu maksudku seonbae.” Kata Hye Jin pelan, “Seonbae jelas orang yang sangat baik, hanya saja mungkin seonbae masih membutuhkan waktu untuk rasa marah yang seonbae rasakan.”

“Satu-satunya orang yang berhak marah adalah dirimu, aku tidak punya hak sama sekali untuk merasakan apa pun, selain perasaan bersalah padamu.”

            Dengan ragu Seok Hoon menggerakan tangannya perlahan, matanya menatap lurus tangan Hye Jin yang masih memegang sumpit di atas meja makan, masih ragu Seok Hoon menggenggam tangan gadis itu.

“Aku bersalah padamu, aku menyesal… maafkan aku.”

            Hye Jin menatapnya sekarang, gadis itu seolah bingung harus bereaksi apa, tangan yang digenggam Seok Hoon pun terasa begitu dingin sekarang.

Seonbae tidak perlu meminta maaf, sejak awal aku tidak merasa seonbae bersalah.”

“Tapi aku bersalah.” Sela Seok Hoon, “Aku bersalah karena aku berusaha membuat gadis sebaik dirimu merasakan apa yang seharusnya tidak kau rasakan.”

“Sudah aku katakan aku baik-baik saja seonbae.” Park Hye Jin menarik pelan tangannya dari genggaman Seok Hoon, tetap tersenyum. “Aku senang seonbae masih baik padaku sekarang, aku sangat senang untuk itu.”

“Aku yang takut kau tidak akan mau menemuiku. Kau tahu seberapa cemasnya aku, alasanku berada disini sekarang, alih-alih datang untuk persiapan konser, itu karena aku takut kau akan menghindariku dan membenciku.”

            Hye Jin terdiam, ia tidak mengatakan apa-apa, gadis itu hanya menatap lekat Seok Hoon setelah mendengar apa yang Seok Hoon katakan. Seok Hoon tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi memang itu yang dirasakannya, ia takut Park Hye Jin menyimpan kebencian untuknya.

Seonbae, aku sudah mengatakan aku mengerti, aku tidak akan membencimu, seharusnya kau tahu itu.” Hye Jin berkata tidak sabar.

            Seok Hoon menghela nafas panjang sekarang, apa yang akan dikatakan selanjutnya pada Park Hye Jin mungkin adalah sesuatu yan selama berhari-hari ini diragukannya.

“Aku menyukaimu, mungkin itu yang membuatku takut kau akan membenciku.”

            Mata Park Hye Jin melebar, ia pasti terkejut dengan pernyataan itu, jangankan Park Hye Jin, Seok Hoon sendiri terkejut mengapa dirinya mengatakan itu semua. Berhari-hari ragu akan perasaannya, sekarang tiba-tiba kalimat itu keluar begitu saja. Namun kali ini Seok Hoon tidak akan menyangkal lagi, setelah perasaan yang dicarinya ia temukan, tidak ada alasan untuk menyangkal semuanya.

“Aku mengatakan itu semua bukan karena rencana balas dendam bodoh itu.” Seok Hoon kembali bicara, ia tidak ingin Hye Jin berpikir ia mengatakan itu semua untuk alasan awalnya mendekati Park Hye Jin. “Aku tidak pernah menyangka aku akan merasa sangat nyaman berada di dekatmu, dan rasa nyaman itu mengalirkan perasaan lain dalam diriku sekarang.”

Seonbae aku…”

            Seok Hoon kembali meraih tangan Hye Jin, menghentikan kata-kata yang akan dikeluarkan oleh gadis itu.

“Walaupun kau mengatakan aku tidak bersalah atau semacamnya, tolong katakan kau memaafkan aku. Karena hanya dengan itu aku bisa memulainya dari awal denganmu.”

            Seok Hoon tidak ingin mengalihkan tatapannya sedikit pun dari mata Park Hye Jin, ia ingin bisa mengetahui apa yang dirasakan Park Hye Jin sekarang dari sorot mata  gadis itu, meski ia tidak yakin bisa melakukannya.

“Aku memaafkanmu seonbae.”

            Kalimat itu hanya terkatakan dengan suara yang sangat pelan oleh Park Hye Jin, namun membawa perubahan yang luar biasa untuk Seok Hoon. Perasaan lega seketika terasa menghangatkan dirinya, rasa bersalah perlahan menghilang dari benaknya, senyum gadis itu memuaikan segalanya. Kalau Seok Hoon tahu akan begitu menyenangkan merasakan ini semua, ia akan memperjelas ini semua sejak awal.

“Terima kasih untuk mengerti, dan memberikan maaf untukku.”

Seok Hoon mengeratkan genggamannya, wajahnya yang semula kaku mengguratkan senyum lebar sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kedekatannya dan Park Hye Jin, ia tidak ingin memikirkannya sekarang, yang ia inginkan sekarang hanya membiarkan rasa ini mendapat tempatnya, dan ia bahagia karenanya.

Advertisements

5 responses »

  1. wah, Daeeeeebaaaakkk…
    aku suka ending nya.
    kwiyeowo… kyaaaaa~

    aku ga bs bayangin Seokhun oppa galau sampe lupa sisiran.
    OMG~
    tp it must be still handsome.
    hahahahahaha..

    admin…
    I love visit SG Wannabe Indo blog.
    fighting…

  2. uwaaaa. . . Sweet ending. .
    Kayaknya ada yg ga rela bikin adegan ki**eu neh buat suami sendiri. . Xi99

    Next part jatahnya siapa nih chingu? Jinsung yah? *ngarep*

  3. uwaaaa. . . Sweet ending. .
    Kayaknya ada yg ga rela bikin adegan ki**eu neh buat suami sendiri. . Xi99

    Next part jatahnya siapa nih chingu? Jinsung yah? *ngarep*

    Ceritanya daebak deh. .

  4. @springofmonday : Thank you chingu.. Seok Hoon oppa walaupun ngga sisiran seminggu tetep ok lah hihi..

    @ocuzwinasyifa : untuk Story of Us, edisi Glasses Boy In Love, ini endingnya, nanti akan dilanjutkan dengan Story of Us edisi yang lain.

    @Puji : kita liat nanti, siapa korban selanjutnya haha… rahasia author.Eh dia tahu aja penulis ngga rela bikin adegan macem-macem “melindungi perasaan sendiri itu penting teman haha..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s