Story of Us (part 3) – I Do Love You (part 1) [fan fiction]

Standard

Story of Us – I Do Love You

Lee Jin Sung meneguk air dari botol air mineralnya. Tenggorokan terasa begitu kering setelah sepanjang hari ini ia pakai untuk latihan vokal menjelang konser Monday Kiz minggu depan. Jin Sung selalu beranggapan mempersiapkan sebuah konser memang satu hal tidak mudah dan melelahkan, tidak hanya penyanyi itu sendiri yang dituntut untuk bekerja keras dalam persiapan ini, orang-orang di balik layar penyelenggaraan konser jauh lebih lelah. Terlepas dari seberapa melelahkannya itu, Jin Sung selalu suka berada di tengah-tengah konser, selalu ada atmosfir menyenangkan saat menghibur banyak orang yang datang dalam konser, perasaan yang akan dengan cepat menghapus rasa lelah setelahnya.

“Kau akan langsung kembali hyeong?” Han Seung Hee mendekati Jin Sung, terlihat sama lelahnya. “Aku dan Han Byul akan pergi makan ke tempat biasa, apa kau mau bergabung hyeong?”

“Aku ingin, tapi aku sangat lelah hari ini, aku berniat segera pulang dan tidur.” Lee Jin Sung berkata pelan, seraya mengusap keringat di wajahnya dengan handuk kecil, “Kalian pergi dan bersenang-senanglah.”

            Lee Jin Sung tersenyum singkat, sebenarnya ia ingin ikut bergabung, hanya saja ia merasa perlu mengistirahatkan dirinya. Jin Sung menyandangkan tas ranselnya berniat untuk segera meninggalkan ruang latihan, setelah manager dan teman satu groupnya pergi lebih dulu. Langkah kaki Jin Sung membawanya keluar gedung untuk mencari taksi, Jin Sung sengaja meninggalkan mobilnya, ia sedang tidak ingin menyetir dalam keadaan selelah ini.

            Udara malam kota Seoul terasa begitu dingin menusuk kulitnya, Jin Sung menarik reseleting jaket yang dipakainya, mempercepat langkahnya menuju tepi jalan gedung, ia harus segera mendapatkan taksi. Tangan Jin Sung sudah terjulur ke arah jalan, matanya tertuju lurus pada taksi yang mendekat ke arahnya, tepat saat Jin Sung mengeluarkan suara untuk memanggil taksi, seseorang memanggilnya.

Oppa…

            Lee Jin Sung membetulkan posisi topinya, agar sedikit menutupi wajahnya sebelum menoleh, mengira seorang fans yang mengenalinya. Seorang wanita muda melambai ke arahnya, senyum di wajah itu mengembang saat berjalan mendekatinya, Jin Sung sempat menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang lain di belakangnya yang kemungkinan menjadi orang yang sebenarnya dipanggil dan dihampiri wanita itu, tapi tidak ada siapa-siapa di belakangnya, di tepi jalan itu hanya ada dirinya.

            Lee Jin Sung memicingkan matanya, berusaha mengenali wanita yang menghampirinya, ia yakin sekali wanita ini bukan fans atau semacam, ia seperti sudah mengenalnya, senyum itu seperti dikenalinya, tapi isi kepalanya terlalu lelah untuk ia pakai untuk mengingat sesuatu.

“Jin Sung oppa…”

            Wanita itu sudah berdiri tepat di depannya sekarang, wajahnya tetap mengguratkan senyum lebar. Mata Jin Sung melebar saat menyadari siapa yang berdiri di depannya sekarang, bagaimana mungkin ia sampai tidak mengingat senyum itu, bagaimana mungkin ia sampai tidak mengenali wajah itu… Ya Tuhan dia kembali, Han Yoo Bin kembali.

*          *          *

“Kau terlihat lelah.” Lee Seok Hoon bicara setelah lama mereka duduk mengelilingi meja kecil di cafe milik Ahn Young Min untuk makan siang.

“Mungkin karena aku memang lelah.” Jawab Jin Sung datar, ia mengangkat cangkir kopi yang dipesannya, meminumnya seteguk untuk membasahi tenggorokannya.

            Semalam, rencananya untuk pulang dan beristirahat gagal total, setelah Han Yoo Bin tiba-tiba muncul di hadapannya, ia tidak bisa memejamkan matanya sampai dini hari. Terlalu banyak kecemasan yang berputar di kepalanya, kemunculan gadis itu membuatnya yakin bahwa hidupnya tidak akan senormal biasanya lagi setelah gadis itu kembali.

“Sepertinya ada yang kau pikirkan.” Lee Seok Hoon, menatap lurus padanya

“Aku tidak memikirkan apa pun, hanya sedikit stress dengan persiapan konser kami minggu depan.”

“Ya memang selalu ada masa seperti itu menjelang konser, aku pun sering merasakannya.”

            Lee Jin Sung mengangguk membenarkan, ia suka Lee Seok Hoon tidak bertanya lagi, karena ia sedang tidak ingin menjawab.

“Beberapa hari ini sepi sekali.” Lee Seok Hoon mendesah pelan, seraya meletakan garpu di atas piring steak tuna yang baru setengah jalan dimakannya. “Kim Jin Ho berlibur ke Eropa, Kim Young Jun pun berlibur bersama kekasihnya. Hyung Soo hyeong sibuk dengan aktivitasnya di Jepang. Kim Won Joo, anak itu bahkan tidak mau saat aku ajak minum bersama. Hanya kau yang mau aku ajak keluar makan siang.”

“Kenapa kau tidak mengajak Park Hye Jin?” Lee Jin Sung bertanya asal sebelum memasukkan satu gulungan spaghetti ke dalam mulutnya.

“Gadis itu…” Lee Seok Hoon berhenti bicara untuk meminum sedikit jus jeruknya, ada gurat kekesalan di wajahnya sekarang. “Aku tidak pernah mengira ia akan lebih sibuk dariku sekarang. Sulit sekali bertemu dengannya, selalu ada saja yang menyibukkan dirinya, sudah tiga hari ini aku tidak bertemu dengannya… gadis itu benar-benar membuatku hampir gila.”

            Lee Jin Sung tertawa mendengar keluhan dari Lee Seok Hoon, memang seperti itu lah Park Hye Jin, dia selalu berjalan kesana kemari dengan berbagai hal yang menyibukkan dirinya, Jin Sung tahu benar itu.

“Kau harus mengerti dirinya hyeong, Park Hye Jin bukan gadis yang peka akan hal-hal seperti seorang kekasih yang butuh perhatian seperti dirimu.” Kata Jin Sung setengah geli melihat raut wajah Lee Seok Hoon, “Sebenarnya sampai saat ini aku masih bingung mengapa laki-laki perasa seperti dirimu bisa jatuh cinta pada gadis tidak peka seperti Park Hye Jin… Jujur padaku hyeong, apa sekarang kau sedang menyesal mengencani gadis sombong itu?”

            Lee Seok Hoon melemparkan sepotong kentang goreng ke arah Jin Sung.

“Berhenti bicara… makan saja makan siangmu.” Sergah Seok Hoon jengkel, “Aku benar-benar salah memilih teman makan siang hari ini, kau membuat selera makanku berantakan.”

            Kembali Jin Sung mendapati dirinya tertawa, selalu menyenangkan menggoda Lee Seok Hoon tentang hubungan dengan Park Hye Jin. Awalnya mungkin ada perasaan aneh yang terasa saat mendapati kenyataan gadis yang pernah disukainya menjadi kekasih Lee Seok Hoon, tapi itu hanya sementara, sekarang Jin Sung merasa dirinya sudah baik-baik saja.

“Apa kau mengenali gadis itu?” Lee  Seok Hoon tiba-tiba bertanya.

“Gadis yang mana?” Jin Sung balik bertanya dengan mulut yang masih penuh dengan udang dari spaghetti-nya.

“Gadis yang sekarang sedang berjalan mendekati meja kita.”

            Tatapan Lee Seok Hoon sudah tertuju ke depan, penasaran, Lee Jin Sung menoleh untuk melihat siapa yang dimaksud Seok Hoon. Jin Sung menelan udang yang belum halus dikunyahnya, saat matanya menangkap Han Yoo Bin berjalan mendekat.

“Kau.. Apa yang kau lakukan disini?”

            Lee Jin Sung refleks berdiri, setengah dari dirinya masih tidak percaya Han Yoo Bin akan berdiri di depannya sekarang, terlebih saat Lee Seok Hoon bersamanya.

“Aku datang untuk menyapa.” Gadis itu menjawab santai, senyum yang tergurat di wajahnya mengesankan jika apa yang dilakukan adalah hal yang sangat wajar.

Annyeonghaseyo.” Han Yoo Bin membungkuk sopan ke arah Lee Seok Hoon, membuat Lee Seok Hoon segera bangun untuk balas membungkuk.

“Oh annyeonghaseyo.” Seok Hoon membalas salam Yoo Bin.

            Sebenarnya ini pemandangan yang wajar, tapi ini menjadi terasa tidak wajar bagi Jin Sung, saat Han Yoo Bin yang melakukannya.

“Aku Han Yoo Bin, aku suka sekali lagu-lagu SG Wannabe, senang sekali bisa bertemu denganmu disini.” Han Yoo Bin kembali bicara terlihat ada ketertarikan saat ia mengatakan itu semua pada Seok Hoon.

“Benarkah… terima kasih Yoo Bin ssi.” Seok Hoon membalas sopan.

            Ini tidak bisa dibiarkan, Jin Sung tidak mungkin membiarkan Yoo Bin berada di tempat ini lebih lama, ia harus segera menyuruh gadis itu pergi.

“Ikut aku.” Jin Sung menarik tangan Han Yoo Bin, menariknya menjauh dari meja mereka, sementara Lee Seok Hoon terlihat bingung.

“Apa yang kau lakukan disini?” Jin Sung sekali lagi mengulang pertanyaannya.

“Sudah aku katakan padamu aku hanya datang untuk menyapa.” Jawab Yoo Bin.

“Berhenti berbohong.” Jin Sung mengertak, rasa kesal mulai dirasakannya.

“Aku tidak bohong… lihat teman-temanku disana.”

            Yoo Bin menunjukkan tangannya ke arah sebuah mobil di tepi cafe, beberapa gadis memang ada di dalam mobil itu.

“Aku dan temanku akan pergi ke suatu tempat, lalu tanpa sengaja aku melihatmu dari dinding transfaran cafe ini… Apa salah kalau aku turun untuk menyapa seseorang yang aku kenal.”

            Memang tidak ada yang salah dengan penjelasan Han Yoo Bin, sekali lagi Jin Sung harus mengakui ini semua wajar, hanya saja ia tetap tidak menyukainya.

“Kau sudah menyapaku, sekarang pergilah.” Kata Jin Sung akhirnya.

Oppa kau sama sekali tidak berubah.” Kata Yoo Bin murung, “Tapi baiklah, aku akan pergi. Aku mungkin akan datang ke rumahmu untuk memberikan salam pada bibi dan paman… sampai jumpa kalau begitu.”

            Han Yoo Bin melangkah pergi setelah membungkuk sopan pada Lee Seok Hoon. Jin Sung tahu apa yang dilakukannya memang sedikit kasar, tapi ia perlu melakukan itu untuk membuat Yoo Bin mengerti.

“Siapa gadis itu?” Lee Seok Hoon langsung bertanya tertarik, ketika Jin Sung udah kembali ke meja mereka. “Apa dia salah satu sepupumu? Aku dengar dia memanggilmu oppa tadi.”

“Dia itu anak dari sahabat ibuku.” Jawab Jin Sung singkat.

“Kalian sepertinya sangat dekat.”

“Mungkin karena kami memang besar bersama.” Jin Sung masih mengeluarkan nada tidak bersemangat. “Dia baru kembali dari Amerika setelah 4 tahun berada disana, untuk itu dia menyapaku.”

“Kau terlihat tidak senang, seharusnya kau senang bertemu teman lama, terlebih kau mengatakan kalian besar bersama.” Seok Hoon bertanya heran.

“Tidak, kalau orang itu Han Yoo Bin.” Kata Jin Sung lesu.

“Mengapa begitu?”

            Lee jin Sung menghela nafas pelan. Sepertinya ia memang harus menceritakan ini semua pada Lee Seok Hoon.

“Han Yoo Bin itu seperti ancaman untukku hyeong, sejak kami masih di sekolah dasar dulu dia selalu mengatakan tanpa rasa malu kalau ia akan menikah denganku saat ia besar nanti, membuat aku selalu mendapat ejekan dari teman-temanku. Saat kami beranjak remaja dia terus menempel padaku, membuat tidak ada satu gadis pun yang berani mendekatiku saat itu, benar-benar saat yang tidak menyenangkan.” Lee Jin Sung kembali menghela nafas untuk memberi jeda pada cerita panjangnya. “Sialnya semua sikap Han Yoo Bin, membuat kedua ibu kami terinspirasi untuk benar-benar menikahkan kami nanti… Dulu, saat Han Yoo Bin memutuskan untuk kuliah di Amerika dan menetap disana, aku sangat senang, aku seperti terlepas dari semua ganguannya yang biasa ia sebut sebagai perhatian, aku bisa menjalani hidupku dengan tenang. Tapi sekarang gadis itu kembali.”

“Mengapa kau begitu tidak menyukainya?… gadis itu terlihat baik, dia cantik.” Tanya Lee Seok Hoon setelah mendengar penjelasan panjang Jin Sung.

“Apa kau akan menyukai gadis yang membuatmu selalu menerima ejekan saat pergi ke sekolah? apa kau akan menyukai gadis yang selalu mengganggumu dengan mengatakan bahwa ia menyukaimu?” Jin Sung balik bertanya.

            Lee Seok Hoon tidak langsung memberikan jawaban, mata di balik kaca matanya menatap lurus gelas jus jeruk kosongnya, seperti sedang berpikir.

“Aku akan sangat tersanjung jika aku jadi kau… akan terlihat keren jika kau mempunyai penggemar yang sudah mengikutimu sejak kecil.”

HYEONG…” Jin Sung mengerling jengkel pada Seok Hoon.

“Baiklah aku hanya bercanda.” Seok Hoon segera menambahkan, “Apa Han Yoo Bin itu kembali ke Korea untuk dirimu?”

“Dia mengatakan ia kembali untuk mulai mempelajari bisnis keluarganya, dan aku berharap itu benar.”

            Lee Seok Hoon mengangguk paham, untuk beberapa saat ia tidak lagi bertanya, namun itu tidak berlangsung lama.

“Jika Han Yoo Bin selalu menempelmu dalam rentan waktu yang begitu lama, apa itu berarti kau tidak pernah berpacaran dengan gadis mana pun?”

            Demi Tuhan, Jin Sung tidak pernah menyangka Lee Seok Hoon bisa mengeluarkan pertanyaan yang terkesan konyol tapi begitu menohok harga dirinya, sekarang ia jelas tidak mungkin mengaku kalau apa yang diduga Seok Hoon benar.

“Tentu saja tidak… aku berkencan dengan beberapa gadis saat dia di Amerika.” Bantah Jin Sung segera, Seok Hoon kembali mengangguk.

“Jika aku jadi kau, aku akan mencoba menerima gadis itu… dia sangat manis dan sopan tadi.”

“Kau tidak mengerti hyeong.” Kata Jin Sung putus asa. “Aku tidak pernah merasakan apa pun selain rasa jengkel saat aku bersamanya, dia hanya teman untukku, rasanya akan sulit menemukan perasaan semacam itu.”

*          *          *

            Seperti yang diduga Jin Sung sebelumnya jika hidupnya tidak akan sama lagi setelah Han Yoo Bin kembali, apa yang Jin Sung khawatirkan atas kembalinya Han Yoo Bin benar terjadi. Han Yoo Bin kembali menempati posisinya yang sempat ia tinggalkan beberapa tahun lalu. Sekali lagi Han Yoo Bin berhasil memasuki kehidupan Jin Sung dengan caranya sendiri, membuat Jin Sung seolah tidak punya cara untuk mendorongnya menjauh.

            Lee Jin Sung memicingkan pandangan ke arah seberang ruang latihan vokal, matanya bergerak mengikuti Han Yoo Bin yang sedang membagikan kotak bekal pada beberapa staf disela istirahat mereka mempersiapkan konser. Wajah gadis itu dihiasi senyum yang sangat ramah, tidak heran dengan semua keramahan dan kebaikannya Han Yoo Bin berhasil menarik hati banyak staf termasuk Im Han Byul dan Han Seung Hee, mereka tidak pernah berhenti memuji Yoo Bin.

“Kau sangat beruntung hyeong memiliki kekasih yang sangat cantik, perhatian dan baik hati seperti Yoo Bin noona.”

            Kalimat seperti itu yang biasa dikatakan Han Byul dan Seung Hee, setiap kali makanan dan segala sesuatu yang dibawa Yoo Bin memanjakan lidah mereka. Semua orang menyukai apa yang dilakukan Han Yoo Bin, hanya Jin Sung tidak menyukainya, dan rasa tidak suka itu tidak segan-segan ia tunjukkan di depan Yoo Bin.

“Apa kau tidak punya kesibukan lain, selain membawakan makanan seperti ini setiap hari.” Jin Sung bertanya dengan nada suara tidak bersahabat seperti biasanya. “Kau mengatakan kau kembali untuk mempelajari bisnis keluargamu bukan.”

            Han Yoo Bin hanya tersenyum singkat, seolah tidak menghiraukan pertanyaan yang hampir setiap hari selalu ditanyakan Jin Sung, Yoo Bin meletakan beberapa makanan dari kotak bekal  ke piring di hadapan Jin Sung.

“Makanlah dulu oppa, baru setelah itu kau memarahiku.” Katanya pelan masih dengan senyuman. Yoo Bin mengulurkan sumpit ke tangan Jin Sung. “Aku membuatkan Kimbab kesukaanmu hari ini.”

            Jin Sung tidak mengambil sumpit yang diberikan Yoo Bin, matanya tetap menatap tajam ke arah gadis itu, ia mulai lelah dengan ini semua, kehadiran Han Yoo Bin di sekitarnya sekarang ini sudah membuatnya benar-benar lelah. Mendengar para staf membicarakan tentang hubungannya dengan Yoo Bin, mendengar Han Byul dan Seung Hee memanggil Yoo Bin dengan sebutan kakak ipar atau semacamnya, membuat Jin sung merasa jengah.

“Aku sedang tidak ingin memakan apa pun sekarang.” Seru Jin Sung seraya berdiri, ia sudah berniat akan melangkah keluar ruang latihan saat Han Yoo Bin menyusul dan berdiri di depannya.

“Makanlah dulu, walaupun sedikit kau harus memasukan sesuatu ke dalam perutmu.” Yoo Bin berkata pelan, ada nada permohonan dalam kalimat yang diucapkannya. “Pagi tadi bibi bilang, kau pergi tanpa memakan sarapanmu… aku mohon oppa makanlah.”

            Lee Jin Sung menghela nafas putus asa, Demi Tuhan ia tidak suka berada dalam situasi seperti ini, ia tidak suka dibuat lemah oleh tatapan mata itu.

“Yoo Bin, bisakah kau tidak seperti ini lagi, ini tidak mudah untukku.” Jin Sung memelankan nada suaranya, ia melihat ke sekeliling ruang latihan, semua orang sepertinya sedang sibuk dengan makanannya, Jin Sung kembali bicara setelah yakin tidak ada yang memperhatikan mereka. “Kau sudah sangat dewasa sekarang, apa kau merasa ini semua baik untuk kau lakukan. Kau gadis yang cantik, akan banyak sekali laki-laki yang lebih baik dariku yang menyukaimu diluar sana.”

“Aku hanya menginginkanmu oppa.” Kata Yoo Bin pelan, namun ada ketegasan di dalamnya.

“Berhenti memanggilku oppa, kau hanya lebih muda 5 bulan dariku.” Kata Jin Sung putus asa, “Han Yoo Bin dengarkan aku, aku tidak pernah memiliki perasaan apa pun padamu, kau hanya temanku sejak kecil, kita melewati banyak hal bersama, aku bahkan pernah melihatmu buang air kecil di dalam kelas saat kita di taman kanak-kanak dulu, jadi rasa yang kau harapkan itu tidak akan mungkin aku rasakan.”

            Jin Sung langsung menatap Yoo Bin yang berdiri di hadapannya, takut kalau apa yang baru saja dikatakannya akan menyakiti hati gadis itu. Ia memang tidak suka semua tingkah Han Yoo Bin, tapi ia juga tidak ingin menyakiti Yoo Bin. Tapi tidak seperti yang dikhwatirkannya, Han Yoo Bin masih mengguratkan senyumnya.

“Sekarang kau memang tidak memiliki perasaan itu untukku, tapi aku akan membuatmu memilikinya nanti.”

            Han Yoo Bin melangkah meninggalkan Jin Sung setelah mengatakan itu semua. Masih tercengang, Jin Sung hanya berdiri diam kata-kata Han Yoo Bin bagai badai yang begitu mengejutkan, keadaan ini benar-benar membuatnya hampir gila.

*          *          *

            Dihari diselengarakannya konser, sejak pagi Lee Jin Sung bersama member Monday Kiz lainnya sudah ada di venue tempat konser diadakan untuk melakukan GR sebelum konser nanti malam. Menggeser semua hal yang sedang mengganggu pikiran sekarang ini, Jin Sung sepenuh berkonsentrasi untuk melakukan latihan untuk konser nasional pertama Monday Kiz tahun ini, konser pembuka ini harus menjadi konser yang tanpa cela.

            Tapi baru saja Lee Jin Sung berusaha untuk mengosentrasikan dirinya, sesuatu tertangkap pandangan matanya, sesuatu yang menarik perhatian Jin Sung. Han Yoo Bin terlihat berdiri disisi panggung bicara dengan seseorang yang dikenali Jin Sung sebagai salah satu petinggi agensi yang menaunginya selama ini. Jin Sung meletakan mic yang di pegangnya di atas lantai panggung, dan bergegas menghampiri Han Yoo Bin, ia tidak tahu apa yang mungkin akan dikatakan Yoo Bin pada Direktur Jang jika dibiarkan bicara terlalu lama.

Hyeong kau mau kemana?” Han Byul memanggilnya.

“Aku akan segera kembali.” Seru Jin Sung, menoleh sebentar sebelum kembali melanjutkan langkah cepatnya.

“Direktur Jang, apa kabar.” Jin Sung langsung membungkuk sopan saat langkahnya berhenti tepat di dekat Han Yoo Bin dan Direktur Jang

“Oh, Lee Jin Sung… kalian berkerja keras untuk ini.” Direktur Jang menepuk bahu Jin Sung, wajahnya yang sudah memunculkan gurat-gurat kerutan tersenyum ramah.

“Terima kasih Direktur mau datang.” Jin Sung kembali bicara, matanya melirik ke arah Yoo Bin yang berdiri santai di sampingnya.

“Aku hanya mampir untuk melihat persiapan kalian… dan beruntung sebelum pergi aku bertemu dengan nona Han Yoo Bin.”

            Lee Jin Sung langsung menoleh ke arah Han Yoo Bin, gadis itu masih tersenyum ramah, menggangguk sopan pada direktur Jang.

“Aku yang beruntung bertemu orang seperti anda Direktur.” Katanya sopan.

“Kau punya kekasih yang sangat baik.” Direktur Jang berkata kemudian, “Ku dengar dari beberapa staf nona Yoo Bin sering membantu selama persiapan konser.”

“Hanya sedikit makanan.” Senyum di wajah Yoo Bin mengembang semakin lebar.

“Aku sangat berterima kasih untuk itu.”

            Jin Sung tidak tahu apa yang harus dikatakannya di tengah pembicaraan ini, melihat cara Han Yoo Bin dan direktur Jang bicara, ia seperti kehilangan kata-kata untuk membantah bahwa Han Yoo Bin bukan kekasihnya.

“Baiklah kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian terlalu lama, semoga berhasil untuk konser nanti malam. Aku akan datang bersama yang lainnya malam nanti.”

            Lee Jin Sung kembali membungkuk sebelum Direktur Jang berjalan pergi bersama dua orang bersetelan hitam yang datang bersamanya. Sesaat setelah direktur Jang tidak terlihat lagi, Jin Sung langsung menjatuhkan tatapan tajam ke arah Han Yoo Bin.

“Ada apa?” Han Yoo Bin bertanya bingung, seolah heran mengapa Jin Sung menatapnya seperti itu.

“Ikut aku… Kita perlu bicara.”

            Tanpa menunggu kesedian dari Han Yoo Bin, Jin Sung menarik tangan gadis itu. Jin Sung baru melepaskan tangan Han Yoo Bin saat mereka sudah berada di sebuah koridor sepi yang entah ada di bagian mana gedung.

“Kau ini kenapa oppa?” Han Yoo Bin berkata keras sesaat setelah Jin Sung melepas cengkraman tangannya, Yoo Bin memijat pergelangan tangannya yang memerah, rupanya tadi Jin Sung terlalu keras mencengkram tangan gadis itu. Tapi ini bukan saat ia memikirkan itu semua. Kemarahan yang dirasakannya sekarang sudah menembus batas toleransinya.

“Han Yoo Bin, apa kau senang melakukan ini semua?” Jin Sung akhirnya bicara

             Ia melihat ada kebingung di wajahnya Yoo Bin, gadis ini sama sekali tidak menyadari kesalahan apa yang diperbuatnya.

“Apa maksudmu?” Yoo Bin bertanya pelan. “Apa kau semarah ini karena Direktur Jang tadi mengira aku kekasihmu?”

            Jin Sung tidak menjawab, ia merasa tidak perlu menjawab itu semua.

“Ya Tuhan, harus seperti ini kah sikapmu untuk hal kecil seperti ini.” Kata Yoo Bin tidak percaya.

“Mungkin untukmu ini hal kecil, tapi bagiku ini bukan hal kecil.” Jin Sung merasakan suaranya bergetar saat mengatakan itu semua. “Kau tahu seberapa terganggunya aku dengan keberadaanmu? Kau membuat hidupku sangat tidak tenang. Sejak kecil kau selalu mengikutiku, membuatku menjadi bahan ejekan semua temanku, dan sekarang disaat kita dewasa apa kau masih belum puas menyiksaku.”

            Ada sesuatu yang menggenang di mata Han Yoo Bin sekarang, gadis itu hanya diam menatap lurus pada Jin Sung yang bicara padanya. Kali ini Jin Sung tidak peduli lagi dia akan menyakiti Han Yoo Bin atau tidak, ia harus mendorong Han Yoo Bin keluar jika tidak ingin terus berada dalam lingkaran melelahkan ini.

“Tidak bisa kah kau membiarkanku hidup dengan tenang.”

            Air yang tadi menggenang di mata Han Yoo Bin kini turun membasahi pipi putih gadis itu. Jin Sung tidak melakukan apa pun, ini untuk pertama kalinya ia melihat Yoo Bin mengeluarkan air matanya, apa mungkin yang sudah dikatakannya begitu menyakiti hati gadis itu.

“Baik…” Han Yoo Bin menatap lurus pada Jin Sung, mata basah gadis itu mengisyaratkan begitu banyak perasaan yang dirasakannya. “Kalau kau memang merasa sangat terganggu dengan keberadaanku, dan kau tersiksa dengan perasaanku, aku akan menghentikannya semuanya disini.”

            Han Yoo Bin mengatakan itu semua dengan tenang, namun getaran emosi begitu terasa dalam setiap kata yang terdengar di telinga Jin Sung. Seharusnya ini memang kalimat yang diinginkan Jin Sung untuk dikatakan Han Yoo Bin, tapi entah kenapa saat mendengarnya langsung ia malah merasa kosong alih-alih lega apa lagi senang.

“Maafkan aku oppa, selama ini aku tidak pernah menyadari jika apa yang aku rasakan begitu menyulitkanmu… Kau bisa hidup dengan baik sekarang, aku tidak akan mengganggumu lagi.”

            Han Yoo Bin mengguratkan senyum kecil di wajah basahnya. Membungkuk singkat sebelum membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan meninggalkan Jin Sung yang masih belum tahu ia harus bersikap apa atas semua ini. Jika menuruti logikanya, ini adalah sesuatu yang sangat baik untuknya, dengan ini ia berhasil mendorong Han Yoo Bin dari hidupnya. Hanya saja mendengar Han Yoo Bin mengatakan semuanya, melihat air mata itu turun dari mata gadis itu, ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik batin Jin Sung, sesuatu yang dia sendiri belum bisa memastikan apa, rasa bersalah kah? Atau rasa lainnya?… Entahlah.

*          *          *

            Selesai konser, Jin Sung langsung membaringkan tubuhnya di atas lantai dingin ruang ganti, matanya terpejam, memblokir semua cahaya yang menyilaukan penglihatannya. Jin Sung tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, ini semua benar-benar aneh. Sepanjang konser rasanya ada begitu banyak hal yang berputar dalam kepalanya, begitu mengganggunya, begitu meresahkannya.

            Terdengar suara-suara orang yang memasuki ruang ganti, itu pasti member lainnya dan beberapa staf konser. Jin Sung bisa mendengar penggalanan kalimat seperti, ‘Terima kasih sudah bekerja keras.’ Dan kalimat ucapan terima kasih lainnya.

Hyeong… apa yang sedang kau lakukan disini, kau langsung ke belakang panggung setelah memberi salah pada para penonton, kau bahkan tidak memeluk kami.”

            Jin Sung membuka matanya, wajah Lim Han Byul, menunduk ke arahnya yang berbaring, hanya beberapa senti saja dari wajahnya. Jin Sung mendorong wajah Han Byul menjauh, mendudukan dirinya, Han Seung Hee juga sudah duduk di dekatnya.

“Apa kau sakit hyeong?” Seung Hee bertanya, mengamati dengan teliti wajah Jin Sung, “Kau terlihat tidak baik.”

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah.” Kata Jin Sung datar, “Kalian bernyanyi dengan sangat baik malam ini, kita menyelesaikannya dengan baik.”

            Jin Sung mengusap bahu Han Byul dan Seung Hee, tersenyum mengingat mereka baru saja menyelesaikan konser pertama mereka dengan baik

“Kau yang terbaik hyeong.” Kata keduanya nyaris bersamaan.

            Jin Sung tidak suka suasana seperti ini, selalu ada keterharuan jika mereka baru saja menyelesaikan sebuah konser, dan ia tidak suka jika harus mengeluarkan air mata, rasanya sedikit memalukan baginya.

“Kemana Yoo Bin noona? Aku tidak melihatnya setelah konser tadi, bahkan saat konser tadi aku juga tidak melihatnya, padahal ia jelas sekali mengatakan akan ada di kursi penonton paling depan.”

            Han Byul menebarkan pandangan ke sekeliling ruang ganti, dahinya berkerut saat tidak menemukan sosok Yoo Bin dimana pun.

“Apa kau melihatnya hyeong?” Dia beralih bertanya pada Jin Sung.

            Jin Sung terdiam, sementara Han Byul dan Seung Hee menatapnya seperti menunggu jawaban.

“Aku… aku tidak tahu dia dimana.” Jawab Jin Sung salah tingkah. “Aku harus mengambil minum, tenggorokanku tiba-tiba terasa begitu panas.”

            Jin Sung berdiri berniat untuk berjalan ke seberang ruangan untuk mengambil segelas air minum.

“Anak-anak itu mengapa selalu ingin tahu.” Gumam Jin Sung, seraya mengangkat gelas kertas untuk meminum isinya.

            Belum sempat Jin Sung memasukan air mineral ke dalam tenggorokan, seseorang menepuk pundaknya, Jin Sung segera menoleh, asisten junior Monday Kiz sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Ada apa?” Tanya Jin sung.

“Ini hyeong, sejak selesai konser tadi ponselmu terus berbunyi… Ibumu terus menghubungi, aku tidak berani menjawabnya.”

“Ibuku…” Jin Sung mengerutkan keningnya. Untuk apa Ibunya terus menelepon, apa mungkin ibunya ingin meminta maaf karena tidak datang di konser kali ini.

Jin Sung mengambil ponselnya dipegangan asisten itu.

“Terima kasih… kau sudah bekerja keras.” Jin Sung menepuk bahu asisten junior itu. Sekarang tangannya sudah menyentuh layar ponselnya, lebih dari 10 kali ibunya berusaha menghubunginya, entah apa yang begitu penting.

            Suara nada sambung terdengar di telinga Jin Sung selama ia menunggu ibunya menjawab panggilannya.

Yeoboseyo… Ibu, ada apa meneleponku?” Kata Jin Sung sesaat setelah ia mendengar suara ibunya di ujung telepon.

            Telinga Jin Sung langsung diberondongan rentetan kalimat penuh kepanikan tidak jelas dari ibunya, membuatnya sama sekali tidak mengerti apa yang disampaikan ibunya.

“Ibu tolong bicara pelan-pelan, aku tidak mengerti apa yang Ibu katakan.”

            Ibu Jin Sung mengulang kembali kata-katanya, kali ini lebih perlahan dan lebih dapat dimengerti. Sayang apa yang disampaikan ibu Jin Sung bukan sesuatu yang menyenangkan, apa yang dikatakan ibunya lewat telepon seperti membuatnya tidak bisa berpikir, ia hanya diam, sementara ibunya terus bicara, baru saat ibunya berteriak keras memanggil namanya, ia baru berhasil bicara.

“Aku akan ke rumah sakit sekarang.”

            Masih merasa belum bisa berpikir sepenuhnya, dengan Linglung Jin Sung berjalan ke arah loker ruang ganti, mengeluarkan tas ranselnya, memakai jaketnya di atas baju yang masih basah oleh keringat. Kakinya melangkah cepat keluar ruang ganti, ia bahkan mengabaikan semua desakan pertanyaan yang menanyakan ia mau kemana.

            Isi kepala Jin Sung seperti kosong sekarang ini, isi kepalanya hanya mampu memberi perintah pada kakinya untuk berjalan cepat, berjalan cepat untuk tahu apa yang terjadi pada Han Yoo Bin..

Coming soon, Story of Us – I Do Love You (part2)..

Advertisements

3 responses »

  1. apa? ? Apa? Apa yg trjadi pada Yoo Bin. . . ?tegaan nih eonri motong FFnya. . . Lanjutin. . . Lanjutin dunk. . Jangan lama2 yah. .

    Btw eon,itu si Yoobin gampg amat menyerahnya. .hi2

  2. Han Yoobin ngingetin aku sama cerita aku sendiri sm first love aku.
    hahahhaha..
    sumpah deh bacanya tuh sampe senyam senyum..
    aduh.. hahahaha..

    ngbayangin Jinsung di lempar kentang goreng sama Seokhun itu… nyenengin..
    hahahaha..
    gtw asa klop aja ngbayangin mreka dket gtu.

    ayo lanjutin lg eonni..
    penasaran… hehehe..
    fighting!!

  3. @ Puji : sengaja emang motongnya disitu, biar kayak sinetron… kan ceritanya kata2 Jin Sung rada melukai harga dirinya gitu, jadi langsung nyerah deh, kalo dibikin lama nyerahnya bisa jadi 10 part ntarnya haha..

    @Springofmonday : scene-nya dapet ya lempar kentang itu haha.. berasa romantis gitu mereka, jangan-jangan emang ada apa-apa *istri mulai curiga*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s