Story of Us (part 3) – I Do Love You (part 2) [fan fiction]

Standard

Story of Us – I Do Love You (part 2)

Lee Jin Sung tidak tahu secepat apa langkah kakinya menelusuri koridor rumah sakit, yang jelas setelah mendapatkan informasi dari seseorang di meja informasi rumah sakit tentang keberadaan pasien bernama Han Yoo Bin, dengan segala kepanikan Jin Sung langsung melangkahkan kakinya ke tempat yang direkam kepalanya. 

       Mata Jin Sung bergerak membaca berbagai papan petunjuk yang ada di sekitar rumah sakit, berharap dia tidak akan tersesat dalam situasi ini. Ruang gawat darurat, ia harus segera menemukan tempat itu, tanpa harus bertanya lagi. Ia terlalu lelah untuk bertanya, dengan nafas yang sudah tersengal seperti sekarang rasanya ia sudah  tidak sanggup untuk bertanya.

            Lee Jin Sung baru memelankan langkah kakinya saat ia bisa melihat seorang wanita paruh baya yang dikenali Jin Sung sebagai Ibunya Han Yoo Bin, berdiri di depan sebuah ruangan tertutup. Tanpa banyak pertimbangan Jin Sung melangkah mendekat.

“Bibi… apa yang terjadi?” Jin Sung langsung bertanya.

            Mata merah ibu Han Yoo Bin mendongak menatap ke arah Jin Sung, wajah wanita paruh baya yang biasanya penuh senyuman itu terlihat penuh kesedihan dan kecemasan sekarang, membuat perasaan Jin Sung semakin tidak tenang.

“Dia masih di dalam.” Jawab ibu Yoo Bin dengan suaranya yang parau. “Mereka sedang melakukan sesuatu untuknya.”

            Jin Sung mengusap wajahnya dengan putus asa. Apa yang terjadi sekarang ini benar-benar sangat sulit untuk dipahami, mengapa Han Yoo Bin harus mengalami ini semua di saat Jin Sung baru saja berhasil mendorongnya menjauh. Demi Tuhan ini sangat mengerikan, ia tidak akan mungkin tidak menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Han Yoo Bin sekarang.

            Pintu Emergency Room terbuka, seorang perawat wanita keluar dari ruangan itu. Jin Sung segera menghampirinya, nafasnya setengah tertahan.

“Siapa kerabat dari Nona Han Yoo Bin.”

“Saya…” Ibu Han Yoo Bin dengan sigap menjawab.

“Anda diperbolehkan untuk masuk.” Kata perawat itu.

            Tanpa banyak kata Ibu Han Yoo Bin langsung masuk ke Emergency Room, Jin Sung sudah berniat untuk ikut masuk, tapi perawat itu langsung menutup kembali pintu tepat disaat Jin Sung akan melangkahkan kakinya. Lagi, kecemasan ini kembali menyiksanya, menunggu tanpa tahu apa yang terjadi di dalam sana bukan hal yang menyenangkan, ini pertama kali dalam hidupnya ia ingin waktu segera berlalu, agar kekhawatiran dan kecemasannya segera tidak terasa.

            Jin Sung mendudukkan dirinya di sofa kecil yang terletak disisi pintu emergency room. Ia baru menyadari betapa lelah dan sakit kakinya sekarang. Setelah menerima telepon dari ibunya yang mengabarkan bahwa Han Yoo Bin mengalami kecelakaan, Jin Sung tidak memikirkan hal lain selain keadaan Han Yoo Bin. Ia masih belum bisa percaya sepenuh bahwa seorang Han Yoo Bin bisa mengalami kecelakaan seperti ini. Sejak dulu dia sangat mengagumi kepandaian gadis itu menyetir, tapi mengapa hari ini Han Yoo Bin sampai begitu ceroboh membiarkan ini semua terjadi. Apa Han Yoo Bin mengalami ini semua karena pertengkaran mereka?… Jin Sung tidak berani membayangkannya.

            Sekali lagi Lee Jin Sung menghela nafas panjang, ini sudah hampir satu jam sejak ibu Yoo Bin masuk ke emergency room, tapi ia belum keluar lagi. Jin Sung mulai berjalan mondar-mondar di depan pintu, berharap segera ada yang keluar dan menghentikan kekhawatirannya.

            Ponsel di saku jaket Jin Sung bergetar, Jin Sung mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Ibunya yang menghubungi langsung dari Daegu.

“Iya…” Jin Sung menjawab teleponnya.

            Suara ibunya langsung memenuhi telinganya, berbagai pertanyaan seputar keadaan Yoo Bin terus mendera telinga Jin Sung.

“Aku belum tahu apa-apa, Ibu Yoo Bin masih di dalam, aku sedang menunggu untuk tahu bagaimana keadaan Yoo Bin.” Jelas Jin Sung dengan nada putus asa. Terdengar suara keluhan keras dari seberang telepon. Andai saja bisa, mungkin ibunya akan segera kembali ke Seoul dari rumah kakek Jin Sung di Daegu. Jin Sung tahu benar Ibunya sangat menyayangi Han Yoo Bin.

“Baik… aku akan disini menemani Bibi.” Kata Jin Sung akhirnya, saat ibunya memintanya untuk tetap berada di rumah sakit. “Aku akan menelepon ibu jika terjadi sesuatu.”

            Han Yoo Bin memang anak tunggal, sejak minggu lalu ayah Yoo Bin berada di Amerika untuk menyelesaikan masalah bisnis disana. Untuk ibu Jin Sung memintanya untuk menemani ibu Yoo Bin selama di rumah sakit. Pintu emergency room akhirnya terbuka, Jin Sung langsung berdiri tepat di depannya, harus ada seseorang yang menjelaskan sesuatu tentang keadaan Han Yoo Bin padanya.

            Ibu Yoo Bin keluar dari dalam ruangan, dengan segala keingintahuannya Jin Sung segera bertanya.

“Bibi… bagaimana keadaan Yoo Bin sekarang?”

            Ibu Yoo Bin tidak langsung menjawab, tidak ada yang bisa diartikan Jin Sung dari ekpresi yang diperlihatkan ibu Yoo Bin.

“Bibi… Yoo Bin, bagaimana keadaannya?” Jin Sung mengulang pertanyaannya, dia sudah tidak punya kesabaran untuk menunggu lagi.

“Dia cukup baik, mereka merawatnya dengan baik.” Kata Ibu Yoo Bin pelan, ada sedikit senyum yang tergurat di wajah yang semula begitu penuh dengan kepanikan, tapi entah mengapa Jin Sung masih merasa ada yang mengganjal dari ekpresi wajah ibu Yoo Bin.

“Apa benar dia baik-baik saja?” Jin Sung masih merasa sangsi.

            Ibu Yoo Bin mengangguk pelan, senyum di wajahnya tergurat semakin lebar sekarang, membawa sedikit kelegaan dalam diri Jin Sung.

“Syukurlah kalau begitu… aku bisa bernafas sekarang.” Seru Jin Sung, telapak tangannya yang semula terasa dingin pelan-pelan menghangat seiring kelegaan yang merayapi dirinya. “Kalau dia baik-baik saja, boleh aku menemuinya sekarang?”

“Sebaiknya jangan malam ini… walaupun terlihat tidak parah tapi dokter masih harus melakukan beberapa tes untuknya… lagi pula Yoo Bin sendiri tadi berpesan, ia tidak ingin dikunjungi siapa pun saat ini.”

            Jin Sung terdiam untuk beberapa saat, tidak lama setelahnya ia mengangguk mengerti.

“Aku akan mengunjunginya besok kalau begitu.”

“Sebaiknya memang seperti itu… kau sebaiknya pulang sekarang, kau pasti sangat lelah setelah konser malam ini, pulang dan beristirahatlah.” Kata ibu Yoo Bin dengan nada suara penuh kasih sayang seperti biasanya.

“Tapi ibuku memintaku untuk menemani bibi.”

“Pulanglah… paman Yoo Bin akan datang sebentar lagi untuk menemaniku, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menelepon ibumu nanti.” Jelas ibu Yoo Bin.

            Benar yang dikatakan ibu Yoo Bin, dia memang perlu beristirahat setelah hari yang sangat melelahkan fisik dan mentalnya. Tapi untuk meninggalkan rumah sakit ini sebelum melihat secara langsung keadaan Han Yoo Bin rasanya… namun Jin Sung tidak akan memaksa, untuk malam ini ia akan pulang dengan pemikiran bahwa Han Yoo Bin baik-baik saja.

*          *          *

“Dia mengatakan belum ingin menemuimu.”

            Untuk kesekian kalinya Ibu Yoo Bin keluar dari ruang rawat Yoo Bin untuk mengatakan itu pada Jin Sung. Ini sudah ketiga kali dia datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Han Yoo Bin, dan untuk ketiga kalinya pula Han Yoo Bin menolak untuk menemuinya.

            Sejak kecelakaan yang terjadi pada Han Yoo Bin, tidak pernah sekali pun Jin Sung berhasil menemuinya. Han Yoo Bin tidak pernah mengijinkannya masuk untuk menjenguk atau sebentar melihatnya, padahal Han Byul dan Seung Hee saja ia perbolehkan untuk mengunjunginya. Jin Sung mengerti sepenuhnya mengapa Yoo Bin tidak ingin menemuinya, apa yang dikatakan sebelum Han Yoo Bin mengalami ini semua ia sadari sangat keterlaluan, ia tidak bisa menyalahkan Han Yoo Bin jika sekarang Yoo Bin tidak mau menemuinya.

“Baiklah Bi, aku akan kembali nanti.” Kata Jin Sung lesu. “Berikan ini padanya.”

            Jin Sung memberikan buket mawar yang dibawanya pada Ibu Yoo Bin.

“Maafkan dia… anak itu sedang bersikap manja sekarang ini.” Kata ibu Yoo Bin.

“Tidak apa-apa Bi, aku mengerti.” Jin Sung tersenyum singkat, “Kalau begitu, sampai jumpa Bi.”

            Jin Sung membungkuk singkat, membalikkan badannya untuk pergi. Ia sempat menjatuhkan pandangannya ke pintu ruang rawat Han Yoo Bin, berharap sekali ia bisa melihat sedikit saja ke dalam, berharap ia bisa berada di dalam sana untuk memastikan dengan matanya sendiri jika Han Yoo Bin benar baik-baik saja.

*          *          *

            Jin Sung duduk di meja makan rumah ibunya pagi ini, Ibu Jin Sung berdiri di samping meja makan, menuangkan sup dari panci ke mangkuk kecil dan meletakannya dengan kasar di depan Jin Sung.

“Makan sup ini.” Kata Ibu Jin Sung dingin.

            Jin Sung mendongak menatap ibunya, wanita paruh bawa yang sehari-hari berwajah ramah ini mengapa menatapnya seakan ia itu sudah melakukan kesalahan besar saja.

“Aku tidak akan memakannya.” Tegas Jin Sung mendorong mangkuk supnya menjauh. “Dengan cara ibu memberikan sup ini padaku, dan raut wajah ibu saat memberikannya, aku tidak yakin sup ini aman untuk di makan.”

“YA… LEE JIN SUNG.”

            Apa yang baru saja dikatakan Jin Sung membuatnya berhasil mendapatkan pukulan keras di kepalanya.

“Berhenti mengada-ngada, makan sup itu, kau terlihat jelek sekali saat mabuk.”

“Aku tidak mabuk… aku hanya minum sedikit.” Gerutu Jin Sung sambil mengelus kepalanya, walaupun sudah berumur 50 tahun tangan ibunya tetap kuat seperti 20 tahun lalu. “Kenapa Ibu memukulku? Aku bukan anak kecil lagi sekarang.”

“Kau memang bukan anak kecil lagi, tapi kau juga tidak bisa berpikir seperti orang dewasa.” Sergah Ibunya.

            Jin Sung sama sekali tidak mengerti mengapa ibunya menjadi galak seperti ini, kemarin itu sebelum ibunya pergi ke rumah kakeknya di Daegu ia masih menjadi ibu yang baik dan sangat menyayanginya, mengapa setelah pulang Ibunya begitu berubah.

“Kau seperti ini pasti karena Han Yoo Bin.” Jin Sung menebak, ibunya tidak menjawab, itu diartikan Jin Sung sebagai pembenaran.

“Kau bersalah padanya.” Ibu Jin Sung langsung bicara dengan suaranya yang tegas.

            Jin Sung tidak mengeluarkan bantahan, ia hanya diam seraya mengaduk-ngaduk sup di depannya.

“Aku akui aku bersalah padanya.” Seru Jin Sung.

“Kau juga menyakitinya.” Ibu Jin Sung bicara lagi.

            Jin Sung kembali mengangguk untuk menerima apa yang dikatakan ibunya. Bersalah dan menyakiti, itu memang mungkin dilakukannya pada Han Yoo Bin.

“Apa itu yang dikatakan Han Yoo Bin saat ibu menemuinya?… Apa dia mengatakan jika aku menyakitinya?” Jin Sung menatap serius pada ibunya.

            Ibu Jin Sung tidak langsung menjawab, ia hanya membalas tatapan Jin Sung dengan tatapan yang menyatakan dia sendiri seolah sangsi dengan apa yang akan dikatakannya.

“Yoo Bin tidak mengatakan apa pun padaku, ia tidak mengatakan bahwa kau menyakitinya… Saat aku bertanya mengapa ia tidak ingin menemuimu, ia hanya menjawab, akan lebih baik jika ia tidak menemuimu saat ini.”

            Jin Sung terdiam, semua ini semakin membingungkannya. Jika Han Yoo Bin marah padanya akan lebih baik jika Han Yoo Bin memukulnya sekarang, sekeras dan sebanyak apa pun pukulan atau tamparan yang akan diberikan Han Yoo Bin padanya ia akan menerimanya. Tapi dengan menolak untuk bertemu dengannya, menolak untuk bicara padanya, Han Yoo Bin membuat dirinya semakin tidak mengerti bagaimana caranya untuk menebus semua kesalahan. Gadis ini memang mengerti benar cara menyiksa orang.

“Cepatlah makan supmu, dan pergi ke rumah Yoo Bin setelahnya… Ibu Yoo Bin memintamu untuk menemuinya di sana.”

            Ibu Yoo Bin ingin menemuinya, ya Tuhan apa lagi sekarang?… semua ini terlalu melelahkan untuknya. Begitu sulit kah mendorong seorang Han Yoo Bin dari kehidupannya?

*          *          *

“Kau pasti sangat lelah dengan sikap Yoo Bin belakangan ini.” Ibu Yoo Bin bertanya sambil meletakan secangkir teh di meja ruang tengah rumah Yoo Bin. “Bibi tidak tahu apa yang terjadi pada kalian sampai Yoo Bin bersikap seperti itu.”

“Aku yang bersalah Bi, aku mungkin sudah menyakiti hatinya.” Jin Sung berkata pelan. “Yoo Bin punya alasan tidak ingin menemuiku, dan aku bisa mengerti itu.”

            Ibu Yoo Bin hanya tersenyum mendengar semua perkataan Jin Sung. Ibu Yoo Bin memang luar biasa baik dan pengertian, mungkin jika Jin Sung berhadapan dengan seorang Ibu yang memiliki tingkat kesabaran dan kebaikan di bawah Ibu Yoo Bin, ia sudah dicerca berbagai macam makian sekarang ini.

“Kembalinya Yoo Bin ke Korea pasti sangat mengejutkanmu.”

            Jin Sung mengangguk, ia merasa tidak perlu menutupi apa pun sekarang ini, meski itu di depan Ibu Yoo Bin.

“Kau juga pasti sangat terganggu dengan keberadaan Yoo Bin di sekitarmu.”

            Jin Sung sebenarnya ingin membantah, tidak sopan rasanya membenarkan kalau selama ini ia merasa terganggu denga keberadaan Han Yoo Bin, tapi ia hanya diam seolah membenarkan jika keberadaan Yoo Bin memang mengganggunya.

“Yoo Bin memang sangat tidak dewasa menghadapi apa yang dia rasakan padamu, Bibi pikir setelah mengirimnya ke Amerika untuk waktu yang lama dia akan berubah, tapi nyata Yoo Bin kembali menjadi pemuja nomor satumu.”

            Jin Sung hanya tersenyum menanggapi perkataan Ibu Yoo Bin, tidak tahu harus memposisikan dirinya seperti apa, harus memperlihatkan wajah senang atau malah sebaliknya, ini situasi yang benar-benar membingungkan.

“Kau mungkin akan sangat terkejut jika kau melihat kamar Yoo Bin sekarang.”

“Ada apa dengan kamar?” Jin Sung bertanya bingung, tatapannya langsung jatuh ke arah pintu putih, tidak jauh dari ruang tengah, seingatnya itu kamar Han Yoo Bin.

“Kamar Yoo Bin seperti kamar gadis belasan tahun yang sedang sangat mengidolakan seseorang, penuh dengan tempelan dan segala macam… Benar-benar sangat mengerikan.” Ibu Yoo Bin menggidikan bahunya, selesai menceritakan itu semua.

“Boleh aku melihatnya?” Tanya Jin Sung akhirnya, bingung sendiri mengapa ia merasa ingin melihat kamar Han Yoo Bin.

            Ibu Yoo Bin tidak langsung mengiyakan, matanya tertuju lurus pada Jin Sung seakan menimbang bisa kah ia memperbolehkan Jin sung masuk ke kamar anaknya.

“Kau boleh melihatnya… hanya saja jangan pernah menceritakan pada Yoo Bin kalau kau pernah masuk ke kamarnya. Dia akan sangat marah jika tahu aku mengijinkanmu masuk.”

            Ini untuk pertama kalinya Jin Sung memasuki kamar Han Yoo Bin. Walaupun sejak kecil hingga dewasa mereka bertetangga dan sering bermain bersama, Jin Sung tidak pernah punya ketertarikan untuk memasuki kamar ini. Mata Jin Sung menebar ke setiap sudut kamar bernuansa putih bersih, seperti yang dikatakan Ibu Yoo Bin tadi, kamar Han Yoo Bin tidak ubah seperti kamar gadis belasan tahun yang begitu mengidolakan seseorang. Jin Sung melangkah mendekati poster besar yang dikenalinya sebagai poster album pertama Monday Kiz, saat ia masih berdua saja dengan Kim Min Soo. Beberapa poster yang tergantung di kamar Han Yoo Bin menunjukkan bahwa ia mengikuti perjalanan karir Monday Kiz dengan sangat baik, poster dari album pertama hingga yang terakhir terbingkai dengan sangat rapih di kamar ini.

            Jin Sung melangkah ke sudut lain kamar Han Yoo Bin, matanya tertuju pada jajaran figura yang diletakkan dengan baik di atas meja kerja Han Yoo Bin. Jin Sung tersenyum melihat fotonya yang masih memakai seragam sekolah dasar. Han Yoo Bin terlihat merangkul erat sebelah tangan ke bahunya, tersenyum sangat lebar, sementara dirinya terlihat cemberut dalam foto itu. Beberapa figura lain di atas meja itu hampir membingkai foto yang sama, yang membedakan dari foto sebelumnya mungkin hanya Jin Sung dan Yoo Bin yang beranjak dewasa dan seragam yang mereka pakai. Di figura terakhir, Jin Sung melihat ada sebaris tulisan di bagian bawah figura, guratan tulisan yang dikenali Jin Sung sebagai tulisan Han Yoo Bin.

Dalam foto ini mungkin kau tidak tersenyum dan menatap ke arahku, tapi nanti akan tiba saatnya aku akan membingkai sebuah foto dimana dirimu akan melihat dan tersenyum padaku.”

            Mengabaikan semua rasa yang menyelinap dalam dirinya setelah melihat foto-foto itu dan membaca kalimat yang di tulis Yoo Bin, Jin Sung menggerakkan tangannya ke arah buku bersampul kulit cokelat tua yang tergeletak di atas meja, buku ini sering sekali ia lihat dibawa Han Yoo Bin kemana pun dia pergi, saat mereka masih bersekolah dulu.

            Jin Sung membuka beberapa halaman buku itu, segera menutupnya saat tahu ternyata buku itu adalah buku harian Han Yoo Bin. Akan tidak baik kalau Yoo Bin sampai tahu Jin Sung membuka buku hariannya, tapi ada keingintahuan muncul sekarang, saat tadi tanpa sengaja ia membaca namanya tertulis di dalam buku itu. Boleh kah ia membaca buku itu?… Hanya untuk tahu apa yang ditulis Han Yoo Bin tentangnya, rasanya tidak akan masalah.

*          *          *

            Tangan Jin Sung dengan hati-hati membuka lembar pertama buku harian milik Han Yoo Bin. Masih belum percaya sepenuhnya ia begitu lancang membawa pulang buku harian milik Han Yoo Bin, tapi rasa ingin tahunya terlalu besar untuk dilawan dengan pemikiran seperti prinsip tentang mengganggu privasi seseorang, lagi pula ada namanya dalam buku itu, Han Yoo Bin menulis sesuatu tentang dirinya dalam buku itu, membuatnya mendapat pembenaran untuk membaca buku itu sekarang.

            Halaman pertama buku harian itu berisi tulisan yang masih acak-acakan, dari tanggal yang tertera di halaman itu, ini seperti saat ia dan Han Yoo Bin masih duduk di sekolah dasar.

Aku menyukai Lee Jin Sung… ah tidak, mulai sekarang aku akan memanggilnya dengan sebutan oppa. Aku sering melihat dalam drama, seorang wanita memanggil pria yang disayangi dengan panggilan ‘oppa’… aku menyayangi Lee Jin Sung maka aku akan memanggilnya dengan panggilan Jin Sung oppa… Jin Sung oppa terima kasih sudah menolongku saat aku hampir tenggelam di kolam renang kemarin, kau tahu oppa, saat aku membuka mataku dan melihatmu yang menolongku, aku tahu selamanya kau akan menjadi orang yang sangat penting untukku.”

            Senyum kecil tergurat di wajah Jin Sung saat membaca kalimat terakhir yang dituliskan Han Yoo Bin. Samar-samar ia mengingat kejadian saat ia baru berumur 11 tahun, ia memang pernah menolong Yoo Bin yang terjatuh ke kolam renang saat keluarga mereka liburan ke pulau Jeju, tapi saat itu Jin Sung menolong Yoo Bin bukan karena ia memang ingin menolong, tapi karena Ibu Jin Sung yang tahu kalau Jin Sung pandai berenang, langsung mendorongnya ke kolam renang untuk menolong Han Yoo Bin. Ia tidak pernah menyangka sesuatu yang dia lakukan karena terpaksa, memiliki arti tersendiri untuk Han Yoo Bin.

            Lembar-lembar selanjutnya dari buku harian milik Han Yoo Bin lebih banyak diisi tulisan singkat seperti ‘Aku pulang bersama Jin Sung oppa hari ini.’ Atau ‘Jin Sung oppa memakan bekal yang aku bawakan untuknya.” Semua hal yang ditulis Han Yoo Bin dalam buku ini seperti membawa Jin sung kembali dalam kehidupannya di masa lalu. Han Yoo Bin dengan sangat rapih menulis hampir semua yang terjadi saat itu, Yoo Bin bahkan menulis cerita ketika Jin Sung terpaksa mengendongnya pulang saat kaki Yoo Bin terkilir saat berolah raga.

Jin Sung oppa mengendongku di bahunya, dia terlihat sangat tidak senang melakukannya, aku tahu aku ini sangat merepotkan untuk Jin Sung oppa.. Jin Sung oppa sangat marah padaku karena ini semua.”

            Ini semua terjadi saat mereka ada di tahun terakhir sekolah formal mereka. Jin Sung ingat betapa malunya ia harus menggendong Han Yoo Bin keluar gerbang sekolah karena kaki gadis itu terkilir, ia bahkan membentak Han Yoo Bin, ada seorang gadis yang disukainya saat itu makanya ia merasa begitu marah.

            Setiap kalimat yang tergurat dalam buku harian itu seperti menyadarkan Jin Sung bahwa betapa jahatnya ia dan betapa tulusnya perasaan Han Yoo Bin padanya. Jin Sung sebenarnya ingin berhenti membaca ini semua, hanya saja ada sesuatu dalam dirinya yang mencegahnya untuk menutup buku itu, membuat tangannya kembali membuka lembar berikutnya.

Aku akan pergi ke Amerika… tapi dia tidak terpengaruh dengan keputusan ini, ia malah terlihat senang dengan kepergianku… Lee Jin Sung, aku mencintaimu, apa kau tidak bisa memintaku untuk tidak pergi, aku ingin mendengar itu darimu, walaupun kau hanya berpura-pura saat mengatakannya.”

            Jin Sung menghela nafas pelan, seperti ini kah yang di rasakan Han Yoo Bin saat kepergiannya, Jin Sung tidak pernah tahu kalau Yoo Bin berharap ia mencegahnya pergi, ketika Yoo Bin mengatakan ia akan pergi ke Amerika, saat itu Jin Sung hanya mengatakan kalimat singkat pada Yoo Bin.

Pergilah… akan menyenangkan untukku jika kau pergi.”

            Ya Tuhan baru sekarang ia menyadari betapa tidak berperasaannya ia saat itu. Tangan Jin Sung terasa mendingin saat membuka halaman selanjutnya, apa lagi yang mungkin akan ditulis Yoo Bin untuk menampar keegoisannya di masa lalu.

Seseorang yang begitu dekatnya pergi meninggalkannya… Aku melihatnya sangat sedih, aku bahkan tidak mampu melihat layar televisi untuk melihat betapa sedihnya Jin Sung oppa, saat Min Soo oppa meninggal karena kecelakaan… Aku tidak tahu sebesar apa keinginanku untuk kembali ke Korea dan memeluk Jin Sung oppa di tengah kesedihannya… Jika saja ia meneleponku dan mengatakan ia ingin aku datang menemaninya, aku akan datang padanya. Tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi, aku bahkan sangsi Jin Sung oppa tahu nomor teleponku selama aku disini.. aku bukan seseorang yang Lee Jin Sung inginkan ada sebagai sandaran kesedihannya.”

            Ada sesuatu yang terasa menyesakkan dalam diri Jin Sung sekarang, tenggorokannya terasa begitu kering hingga menelan ludah saja terasa menyakitkan.

Aku kembali menghirup udara Korea, masih membawa perasaan yang sama. Tadinya aku mengira aku mampu melupakannya, tapi nyatanya itu tidak semudah yang aku bayangkan. Tetap saja Lee Jin Sung menjadi orang pertama yang ingin aku lihat saat aku menjejakan kaki kembali di Negara ini… Dia belum berubah, ia tetap tidak menyukai keberadaanku, ia tetap merasa terganggu dengan kehadiranku… Aku ingin menarik diriku dari kehidupannya, aku ingin memenuhi apa yang diinginkan Jin Sung oppa dengan menjauh dari hidupnya, tapi perasaan ini seperti mengikatku padanya, membuatku merasa tidak akan mampu melakukannya, walaupun aku mulai tersakiti karenanya… mungkin nanti akan tiba saatnya dimana aku berani melepaskan semua rasa ini, mungkin nanti aku akan berani hidup tanpa mencintai Lee Jin Sung lagi.”

            Lee Jin Sung menutup buku itu, ia tidak sanggup lagi membacanya, setiap kata yang tertulis dalam buku itu bagai tamparan keras bagi dirinya. Jin Sung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya terpejam sementara buku harian milik Han Yoo Bin masih tergenggam di tangannya.

            Rasa sesak ini belum pergi, masih begitu menyiksa dadanya. Jin Sung merasakan ada setetes air hangat yang mengalir dari mata terpejamnya dan membasahi pipinya, menangis kah ia sekarang? Untuk apa ia menangis? Menyesal kah ia?…

*          *          *

            Sudah satu minggu berlalu sejak kecelakaan yang di alami Han Yoo Bin. Jin Sung mendengar dari ibunya jika Han Yoo Bin sudah keluar dari rumah sakit kemarin, dia bahkan sudah mulai beraktivitas seperti biasanya. Han Yoo Bin terlihat baik-baik saja sekarang, Jin Sung sempat melihatnya saat Yoo Bin keluar rumah, hanya ada sedikit perban di dahinya, selebihnya gadis itu terlihat sehat.

            Han Yoo Bin memang sudah kembali beraktivitas seperti biasanya, ia sudah tidak mengurung diri di kamar rumah sakit seperti beberapa hari lalu, mungkin kalau memang ingin Jin Sung bisa menemui Yoo Bin. Entah kemana perginya keinginan Jin Sung untuk menemui gadis itu, sebelumnya ia memang begitu ingin menemui Han Yoo Bin secara langsung untuk melihat sendiri apa gadis itu baik-baik saja. Tapi setelah ia membaca apa yang dituliskan Yoo Bin di buku hariannya, Jin Sung seperti tidak punya keberanian menghadapi gadis itu.

            Sama seperti  hari-hari sebelumnya, Jin Sung duduk di balik kemudi mobilnya, pandangannya tertuju beberapa meter ke seberang jalan. Han Yoo Bin duduk di sebuah halte, menyandarkan kepalanya ke sisi halte, gadis itu terlihat tidak bersemangat hari ini, seperti ada begitu banyak hal yang dipikirkannya. Apa yang mungkin dipikirkan gadis itu sekarang? Apa ada kaitan dengannya? Jin Sung terus mendapati dirinya bertanya, memang hanya pertanyaan yang berputar di kepala Jin Sung sejak dia menjadi semacam penguntit dadakan seorang Han Yoo Bin. Penguntit kata itu memang terdengar janggal baginya, lucunya sekali sekarang ia harus mendapati dirinya sebagai seorang penguntit dari gadis yang dulu begitu tidak disukai keberadaannya.

            Kalau hukum karma memang benar berlaku, Jin Sung akan memakai itu untuk menjadi alasan mengapa ia melakukan ini semua sekarang. Dulu Han Yoo Bin selalu mengikutinya dan sekarang giliran dirinya dengan segenap perasaan aneh yang belakangan dirasakannya, yang mengikuti Han Yoo Bin. Ini benar-benar konyol, bahkan untuk dirinya sendiri pun ini terasa konyol. Hanya dengan membaca beberapa kalimat dalam buku itu, ia sudah melakukan ini semua, ini sama sekali bukan dirinya.

            Namun saat ini Jin Sung seperti dikendalikan keinginan tak terjelaskan yang selalu terasa. Setiap ia membuka matanya di pagi hari, otaknya langsung memerintahkan tubuhnya untuk bangun dan melihat Han Yoo Bin keluar rumah. Dan sorenya, sedang melakukan apa pun ia, otaknya akan kembali memerintahkan dirinya untuk melihat Han Yoo Bin dari kejauhan, seperti yang dilakukannya saat ini.

            Han Yoo Bin turun di halte bis dekat rumahnya, Jin Sung memelankan laju mobilnya, ia jelas tidak ingin Yoo Bin tahu ia mengikuti gadis itu selama ini. Sama seperti di halte sebelumnya, Yoo Bin lagi-lagi duduk di kursi halte, menyandarkan kepalanya lagi.

“Apa yang dilakukannya? mengapa ia tidak langsung pulang. Ini sudah terlalu malam untuk seorang gadis duduk sendiri di halte bis.” Jin Sung berkata sendiri, matanya menatap khawatir ke arah Han Yoo Bin.

            Jin Sung ingin turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Yoo Bin sekedar untuk mengatakan. ‘Cepat pulang, ini sudah malam.’ Tapi ia tidak melakukan apa pun, lagi-lagi keinginan itu terkalahkan oleh ketidakberaniannya.

            Han Yoo Bin bangun dari duduknya, ia mulai berjalan meninggalkan halte. Jin Sung melajukan mobilnya sangat perlahan, menjaga jarak beberapa meter dari Han Yoo Bin, gadis itu terlihat berjalan menunduk, ia terlihat sangat lelah di mata Jin Sung, apa menjadi salah staf di kantor ayahnya begitu melelahkan bagi Han Yoo Bin. Ada kekhawatiran menyelinap di benak Jin Sung sekarang. Astaga ia mulai mengkhawatirkan Han Yoo Bin… Ke khawatiran Jin Sung merasuki dirinya lebih dalam, saat dari balik kemudinya ia melihat Han Yoo Bin terjatuh, entah apa yang membuat gadis itu terjatuh, itu luput dari penglihatan Jin Sung.

            Jin Sung masih bertahan di balik kemudinya walaupun kecemasan sudah sampai ke ujung kepalanya, ia tetap bertahan. Ia tidak mungkin muncul di hadapan Yoo Bin sekarang penjelasan apa yang harus ia pakai sekarang. Jin Sung melihat ke sekeliling, mengapa tidak satu orang pun yang berjalan di dekat Han Yoo Bin.

“Mengapa kau tidak segera bangun, kau hanya terjatuh, kau tidak mungkin terluka parah, bukan?” Kata Jin Sung kesal melihat Yoo Bin yang masih belum berdiri, gadis itu sepertinya bermasalah dengan kakinya.

            Jin Sung menyerah, mengabaikan semua yang tadi mencegahnya, ia membuka pintu mobilnya dan berlari menghampiri Han Yoo Bin.

“Kau tidak apa-apa?” Jin Sung langsung bertanya cemas, “Apa kau terluka?”

            Jin Sung tidak mendengar jawaban apa pun dari Han Yoo Bin, saat ia mendongakkan kepala, ia hanya melihat Han Yoo Bin memandang dengan dahi berkerut padanya, seakan heran mengapa Jin Sung tiba-tiba muncul.

Oppa.” Han Yoo Bin mengeluarkan suara pelan, penuh kebingungan. “Apa yang kau lakukan disini?”

            Jin Sung terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Seharusnya saat memutuskan untuk turun dari mobil dan mendatangi Yoo Bin, ia sudah memikirkan alasan yang akan ia katakan pada Yoo Bin.

“Aku… aku sedang lewat di jalan ini, dan aku melihatmu. Kau terjatuh tadi, makanya aku turun untuk menolong.” Kata Jin Sung salah tingkah, ia memberanikan diri untuk menatap wajah Han Yoo Bin. Sudah lama sekali ia tidak melihat wajah itu, rasanya ada sesuatu yang menggetarkan dirinya, sesuatu yang membuatnya begitu gugup.

            Ada kilatan ketidakpercayaan di mata Han Yoo Bin, Jin Sung sangat menyadari itu.

“Aku tidak bohong.” Jin Sung segera menambahkan, “Aku melihatmu dan turun setelah kau terjatuh tadi.”

“Aku tidak mengatakan kau berbohong.” Seru Han Yoo Jin datar, “Sekarang kau sudah membantuku, sana kembali ke mobilmu dan teruskan perjalananmu.”

            Han Yoo Bin menunjuk mobil Jin Sung yang terparkir di tepi jalan, beberapa meter di belakang mereka. Yoo Bin  mencoba untuk berdiri, ia terlihat kesakitan. Benar dugaan Jin Sung kaki gadis itu terluka. Jin Sung berniat membantu Yoo Bin dengan meraih tangannya untuk menopang Yoo Bin agar ia bisa berdiri, tapi Yoo Bin menepis tangannya.

“Aku baik-baik saja, kau pergilah.” Kata Yoo Bin, wajahnya masih mengernyit kesakitan ketika kakinya menopang tubuhnya.

“Kau kesakitan, mana mungkin aku pergi begitu saja.” Sanggah Jin Sung.

            Han Yoo Bin menjatuhkan tatapan kesal pada Ji Sung, ada ketidaksabaran terbersit singkat di mata Yoo Bin.

“Aku bisa sendiri.”

            Han Yoo Bin melangkah perlahan, langkahnya terseok, Jin Sung tahu sekali Yoo Bin menahan rasa sakit saat melakukan itu.

“Ada apa denganmu?” Jin Sung berkata setengah membentak menyusul Han Yoo Bin. “Mengapa kau selalu menghindariku, sejak kau mengalami kecelakaan itu, kau selalu menolak menemuiku. Dan sekarang kau memperlakukanku seperti aku ini orang asing.”

            Han Yoo Bin mengangkat kepalanya, menghela nafas perlahan sebelum bicara pada Jin Sung.

“Seharusnya yang bertanya ‘Ada apa denganmu’ itu aku, bukan kau.” Kata Yoo Bin, nada suaranya tenang, namun terdengar begitu tegas di telinga Jin Sung. “Terakhir kali kita bertemu, kau berteriak padaku. Kau meminta padaku agar aku menjauhi hidupmu. Kau memohon padaku agar aku tidak pernah mengganggumu lagi?”

            Tidak ada bantahan yang bisa dikeluarkan Jin Sung, ia sadar benar ia memang melakukan itu semua, tapi sekarang rasanya itu sudah…

“Tidak ada yang salah pada diriku, aku hanya mengabulkan apa yang kau harapkan. Lalu mengapa kau mempertanyakan ini semua.”

“Karena kau membuatku merasa bersalah.” Jin Sung akhirnya bersuara.

“Apa?” kerutan di kening Han Yoo Bin semakin dalam. “Apa yang membuatmu merasa bersalah?”

Jin Sung merasa ragu, tapi ia bicara juga, “Semuanya, semua yang terjadi padamu membuatku merasa bersalah.”

“Kenapa harus seperti itu?” Yoo Bin kembali bertanya.

“Aku tidak tahu, aku hanya merasakannya saja.” Jin Sung mengangkat bahu.

“Berhenti merasakan itu semua, kau tidak bersalah apa pun padaku.” Tegas Yoo Bin. “Kembali menjadi Lee Jin Sung seperti biasanya.”

“Menjadi Lee Jin Sung yang seperti apa maksudmu?” Jin Sung bertanya, setengah menuntut pada Yoo Bin.

            Yoo Bin masih diam, seolah mencari kata-kata yang sesuai untuk ia katakan selanjutnya.

“Kembalilah menjadi Lee Jin Sung yang menginginkan aku menjauh dari hidupnya, kembalilah menjadi Lee Jin Sung yang memintaku menghilang dari pandangannya.” Kata Yoo Bin pelan, namun berhasil menggetarkan. Ada yang terasa kosong saat Jin Sung mendengar itu semua, seperti ada.. ah entahlah.

“Aku ingin kau menjadi Jin Sung yang seperti itu… Tolong jangan membuatku kembali bingung dengan sikapmu. Selama ini aku sudah mencobanya dan aku merasa mampu melakukannya, jadi jangan melakukan apa pun untuk membuatku mundur selangkah lagi.

“Apa kau benar akan menarik dirimu dari hidupku?” Jin Sung bertanya lirih, ia merasakan dirinya menahan nafas menunggu jawaban Yoo Bin.

Yoo Bin mengangguk singkat, “Sesuai permintaanmu, aku akan melakukannya.”

            Kembali rasa kosong itu menyelubungi Jin Sung, tidak rela kah ia Yoo Bin melakukan itu. Setelah selama berhari-hari ia merasakan perasaan aneh ini, Han Yoo Bin mana boleh melakukan itu saat rasa aneh ini mulai terasa.

“Apa kau akan berhenti menyukaiku?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Jin Sung.

“Aku akan melakukannya.” Gadis itu menjawab pelan, “Perasaan ini melelahkan untukku, dan menyiksamu. Untuk itu aku akan mengakhirinya.”

            Tangan Jin Sung tiba-tiba terasa begitu dingin, tubuhnya seakan menegang, matanya terasa panas saat menatap wajah Han Yoo Bin. Ia tidak ingin Han Yoo Bin seperti itu, ia tidak ingin Han Yoo Bin menarik diri dari kehidupannya, ia tidak ingin Han Yoo Bin berhenti menyukainya. Demi Tuhan ia ingin mengatakan itu semua, tapi entah kemana perginya keberaniannya untuk mengatakan itu semua. Jin Sung hanya bisa diam alih-alih mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Han Yoo Bin.

*          *          *

“Dia akan pergi hyeong.” Jin Sung bicara, pandangannya menerawang, menatap lapangan Baseball hijau di depannya, sementara ia duduk di kursi penonton bersama Lee Seok Hoon yang baru saja menyelesaikan latihannya.

“Siapa? Han Yoo Bin?” Lee Seok Hoon menerka, Jin Sung mengangguk membenarkan.

“Dia akan kembali ke Amerika besok, itu yang aku dengar dari Ibuku.” Suara lesu itu kembali keluar dari mulutnya.

“Itu sebabnya kau menemuiku disini.” Lee Seok Hoon melepaskan topi yang dipakainya, tersenyum pada Jin Sung. “Kau menyukainya, dan kau tidak ingin dia pergi… itu yang kau rasakan sekarang.”

            Seperti orang bodoh lagi-lagi Jin Sung mengangguk, memalukan sekali ia berhadapan dengan Lee Seok Hoon untuk mengatakan ini semua. Di tengah kebingungannya ia hanya merasa perlu menceritakan apa yang mengganggu pikirannya pada seseorang, itu sebabnya ia menemui Lee Seok Hoon di tempat ini.

“Aku belum benar-benar mengerti apa yang aku rasakan sekarang hyeong, aku hanya tidak ingin dia pergi, aku tidak ingin ia melupakan perasaannya padaku… rasanya kosong saat ia mengatakan ia akan berhenti menyukaiku.”

            Lee Seok Hoon menghela nafas dalam, matanya menatap prihatin pada Jin Sung.

“Kita ini laki-laki yang ditakdirkan memiliki kebodohan untuk mengartikan apa yang sebenarnya kita rasakan. Terkadang kita menyangkal apa yang ada dalam hati kita. Hingga penyangkalan itu terasa menyakitkan, baru kita menyadari apa yang kita lepaskan.”

            Jin Sung tidak mengerti benar apa yang dikatakan Seok Hoon, ia tidak begitu menyukai jika Seok Hoon sudah mulai mengeluarkan kata-kata seperti itu, tapi Jin Sung mengerti apa yang dimaksud Lee Seok Hoon, dan ia merasa apa yang dikatakan Seok Hoon benar.

“Kau pernah membantuku menemukan perasaanku pada Park Hye Jin… sebagai gantinya disini aku hanya bisa mengatakan padamu. Minta dia untuk tidak pergi, katakan padanya bahwa kau sebenarnya menyukainya atau malah kau sudah mencintainya… Katakan kau ingin dia bersamamu.”

            Jin Sung masih diam, entah mengapa ia merasa berubah menjadi pendiam belakangan ini, dia seperti kehilangan dirinya yang dulu.

“Ikuti apa yang hatimu rasakan… Jangan berubah menjadi orang bodoh dengan menyangkal apa yang ada dalam hatimu.” Lee Seok Hoon berkata serius

*          *          *

            Lee Jin Sung terduduk lesu di taman di area tempat tinggalnya. Dulu saat kecil ia sering menghabiskan waktu bermain dan menakali Han Yoo Bin di taman ini. Wajah Jin Sung menunduk menatap rerumputan taman yang di injaknya. Beban yang dirasakannya terasa begitu berat menekan punggungnya membuat seperti tidak sanggup menegakkan kepalanya.

            Untuk pertama kali dalam hidupnya Jin Sung merasa benar-benar bodoh, mana mungkin ia baru berusaha untuk meraih Han Yoo Bin disaat terakhir gadis itu akan meninggalkan Korea. Dia pikir siapa dirinya datang ke Bandara dengan pikiran ia bisa mencegah Han Yoo Bin pergi disana.

            Jin Sung mengusap wajahnya dengan putus asa, angin malam yang menerpa wajahnya terasa begitu perih mengenai pori-porinya. Seharusnya dia sadar kalau dia itu bukan tokoh utama pria dalam sebuah drama, ia tidak mungkin menciptakan adegan romantis di Bandara saat ia berhasil mencegah Han Yoo Bin pergi. Kenyataan yang diterimanya sekarang adalah, ia tidak berhasil mencegah Han Yoo Bin pergi dengan datang terlambat ke Bandara. Tadinya masih ada sedikit harapan, ia berharap Han Yoo Bin akan tiba-tiba muncul entah dari sudut mana Bandara, berjalan menghampirinya dan mengatakan ia berubah pikiran dan tidak jadi pergi, sayangnya Han Yoo Bin tidak pernah muncul seperti itu. Jin Sung tahu itu konyol, itu hanya cerita dalam adegan sebuah drama atau cerita dalam sebuah novel cinta, bukan cerita kehidupan nyata.

“Ya Tuhan… ini gila.” Keluh Jin Sung keras.

            Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit malam kota Seoul yang terasa begitu suram walaupun beberapa Bintang menghiasinya. Sekarang ia harus menerima kenyataan, ia tidak mampu mempertahankan cinta yang baru dirasakannya, ia tidak sanggup merengkuh apa yang ingin digapainya, ia gagal mencegah itu semua pergi meninggalkannya.

            Jin Sung menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya, sesak ini belum meninggalkannya, ternyata seperti ini sakitnya, tidak pernah ia sangka sebuah kebodohan akan menimbulkan rasa yang begitu melelahkan. Andai ia memiliki satu lagi kesempatan, masih pantas kah jika ia mengatakan bahwa ia akan memperbaiki segalanya.

“Jin Sung oppa…”

            Jin Sung tidak bergeming mendengar suara itu, matanya tetap terpejam. Mungkin sekarang ini ia sedang begitu ingin mendengar suara gadis itu hingga ia membayangkan ia mendengarnya.

“Jin Sung oppa..” Sekali lagi suara itu terdengar seolah menggoda Jin Sung untuk membuka matanya, Jin Sung tidak menyerah begitu saja, ia tidak ingin kecewa saat membuka mata dan tidak menemukan siapa-siapa.

“Apa yang kau lakukan disini?”

            Suara itu rasanya bukan halusinasi atau semacamnya, dengan nafas tertahan Jin Sung membuka matanya, jantungnya terasa mencelos turun dari tempat seharusnya. Matanya membelalak heran menatap seseorang yang nyaris membuatnya gila.

“Han Yoo Bin.” Jin Sung mengeluarkan suara yang begitu dalam dan tercekat, seolah dia menyebut nama itu dengan segenap emosinya. “Kau… Bagaimana bisa kau ada disini?”

            Han Yoo Bin juga sepertinya memiliki pertanyaan yang sama. Han Yoo Bin hanya berdiri diam, tangan kirinya masih memegang dorongan kopernya, sementara sebelah tangan yang lainnya menyandangkan tas yang biasa ia pakai.

“Amerika… Kau tidak pergi ke Amerika?” Berbagai pertanyaan terus mendesak keluar dari mulut Jin Sung. “Apa yang terjadi?”

            Tidak menjawab, Han Yoo Bin menarik kopernya, lalu mendudukkan dirinya di kursi taman tepat di samping Jin Sung, gadis itu menghela nafas singkat, senyum kecil tersungging di wajahnya, sementara Jin Sung terus menatapnya dengan berpuluh-puluh pertanyaan yang dengan keras coba ditahannya untuk keluar.

“Aku membiarkan pesawat itu pergi tanpa aku.” Katanya datar.

            Jawaban macam apa itu, apa mungkin Han Yoo Bin tidak jadi pergi, apa mungkin Han Yoo Bin membatalkan keputusannya kembali ke Amerika.

“Apa mungkin kau…”

“Aku tidak jadi kembali ke Amerika.” Yoo Bin meneruskan kalimat Jin Sung.

            Jin Sung tiba-tiba merasa tangannya menghangat, kelegaan tak terjelaskan seketika terasa menghangatkan seluruh tubuhnya. Entah mendapat dorongan dari mana, seiring semua kelegaan yang dirasakannya, Jin Sung merasakan kedua tangannya bergerak perlahan untuk meraih tubuh Yoo Bin ke dalam pelukannya.

Oppa apa yang kau lakukan?” Han Yoo Bin memberontak pelan, tapi Jin Sung mengeratkan pelukannya, Jin Sung ingin memeluk gadis itu, ingin memeluknya, sekedar untuk menegaskan bahwa Jin Sung berhasil meraihnya.

“Aku lega kau berada disini sekarang. Kau hampir membuatku gila hari ini. Dengan segala kepanikan aku berlari menyusulmu ke Bandara tadi, dan dengan segala keputusasaan aku duduk disini, mengira kau benar-benar sudah pergi… Demi Tuhan jangan membuatku seperti ini lagi.”

            Han Yoo Bin tidak mengatakan apa pun, mungkin gadis itu sekarang sedang bingung mengapa Jin Sung tiba-tiba berubah seperti ini. Jin Sung merasa memang perlu menjelaskan segalanya pada Han Yoo Bin. Gadis itu perlu mendapat penjelasan bahwa apa yang Jin Sung rasakan padanya sekarang ini telah banyak berubah.

            Menceritakan segala hal yang dilaluinya pada Han Yoo Bin selama beberapa hari ini adalah hal yang paling memalukan yang pernah dilakukan Jin Sung selama hidupnya, terlebih saat ia mengakui ia membawa pulang buku harian milik Han Yoo Bin dan membaca isinya, ini seperti melucuti apa yang dipakainya, benar-benar memalukan. Han Yoo Bin sempat kaget saat Jin Sung menceritakan ia sudah membaca seluruh isi buku harian itu, sempat terlihat gadis itu berniat untuk marah, namun saat Jin Sung melanjutkan dan mengatakan buku harian itu yang telah menuntunnya pada ketulusan yang selama ini diberikan Yoo Bin, gadis itu hanya diam.

“Apa kau benar Lee Jin Sung yang aku kenal selama ini?” Han Yoo Bin bertanya, selesai Jin Sung bicara, “Apa yang kau cerita seperti bukan dirimu.”

“Ini mungkin aneh, tapi itu lah yang terjadi… aku melakukan semua itu.” Jin Sung mendesah pelan.

“Apa sekarang kau berniat mengatakan kalau kau sudah…” Yoo Bin tidak melanjutkan kata-katanya, matanya menatap sangsi pada Jin Sung.

            Jin Sung mengangguk membenarkan, ia tahu apa yang ada di kepala Han Yoo Bin saat ini.

“Benar, kau berhasil membuatku menyukaimu.” Jawab Jin Sung lirih, kepala tertunduk ketika mengatakan kalimat singkat itu, ia terlalu malu mengakuinya. “Saat kau tidak berada di dekatku aku merasa kehilangan. Saat aku membuatmu sedih, tak diduga aku merasakan hal sama.”

            Han Yoo Bin masih tidak mengatakan apa pun, gadis itu hanya diam, seperti tidak ada yang ingin dikatakannya. Jin Sung berusaha untuk menatap wajah Yoo Bin, ia ingin melihat ekpresi wajah gadis itu setelah pengakuannya. Air mata terlihat menggenang di mata Han Yoo Bin, tapi ada senyum kecil di wajahnya. Perlahan air mata yang menggenang itu menetes turun ke pipi Han Yoo Bin, namun senyum itu masih tetap menghiasi wajahnya.

“Tadinya saat aku memutuskan untuk membatalkan kepergianku, aku berpikir aku akan kembali menjadi bayangan Lee Jin Sung, kembali mengikutinya walaupun perasaanku tak akan pernah terbalas. Anehnya aku tetap mengatakan pada diriku bahwa itu tidak apa-apa. Tidak apa-apa selamanya Lee Jin Sung tidak membalas perasaanku, asal aku tetap boleh menyukainya, itu cukup.”

            Rasanya ada yang mencekat tenggorokan Jin Sung sekarang ini, tidak pernah terbayangkan gadis yang selalu dia anggap kekanak-kanakan memiliki perasaan sedalam itu untuknya.

“Beberapa hari yang aku lalui dengan mencoba untuk menyingkirkan perasaanku padamu ternyata menjadi hari-hari yang begitu menyiksa bagiku, aku seperti selongsong kosong yang tidak punya harapan meski aku terlihat hidup dengan baik… Dan sekarang, perasaan ini kembali mengalahkanku.”

            Tidak ada yang menahan Jin Sung sekarang, ia langsung meraih Han Yoo Bin ke dalam pelukannya, memeluk erat tubuh gadis yang begitu tulus mencintainya selama ini. Tubuh Han Yoo Bin dalam pelukan Jin Sung terasa bergetar, sedang menangis kah ia sekarang. Jin Sung tidak berani melihatnya, ia hanya mengeratkan pelukannya berharap yang dilakukannya sekarang bisa menebus perihnya sakit yang dulu pernah dirasakan gadis itu karenanya.

“Kau tidak akan merasakan itu lagi, aku berjanji kau tidak akan kembali terluka karena perasaanmu padaku.” Kata Jin Sung lirih pada Yoo Bin dalam dekapannya.

            Setelah semua rasa tersampaikan, setelah cemas tergantikan kelegaaan. Mereka berdua duduk bersisian di kursi taman, merasakan semilir angin malam yang begitu menyegarkan, dengan tangan saling bertautan.

“Apa yang membuatmu datang dengan koper-kopermu itu ke taman ini?” Jin Sung tiba-tiba bertanya, penasaran mengapa Han Yoo Bin tidak langsung pulang.

“Aku datang ke taman ini untuk memikirkan sesuatu?” Jawab Yoo Bin singkat.

“Memikirkan apa?”

“Aku harus memikirkan alasan apa yang akan aku sampaikan pada Ibuku saat aku kembali ke rumah nanti… aku yakin dia akan sangat marah jika melihatku kembali.”

            Jin Sung tertawa pelan, sementara Han Yoo Bin terlihat kesal Jin Sung malah tertawa bukan memberinya jalan keluar. Melihat wajah gadis yang baru beberapa menit yang lalu resmi menjadi kekasihnya, Jin Sung dengan bijaksana merubah tawanya menjadi sebuah senyuman.

“Aku akan mengantarmu pulang kalau begitu. Aku akan bantu menjelaskan pada Ibumu kalau alasanmu tidak jadi pergi karena kau terlalu mencintaiku.”

            Jin Sung bangun dari duduknya, tangan meraih koper  di samping Han Yoo Bin. Ia mengulurkan tangan bebasnya ke arah Han Yoo Bin. Jin Sung mengerakkan kepalanya pelan, memberi isyarat agar Han Yoo Bin segera bangun dan menyambut tangannya. Han Yoo Bin tersenyum, berdiri dan menyambut tangan Jin Sung.

            Ada ketenangan menyelubungi diri Jin Sung saat ia berjalan bersisian dengan Han Yoo Bin dan menggenggam tangannya. Andai ia tahu akan terasa begitu menyenangkan Jin Sung tidak akan membuat ini menjadi begitu melelahkan… Terkadang kita memang terlalu bodoh untuk merasakan sebuah ketulusan, ketulusan yang sebenarnya akan membahagiakan.

Advertisements

4 responses »

  1. tiba2 aja aku nangis onn baca ff ini.
    kya kbawa kemasa lalu.
    hahahahaha..

    aku ngakak baca dialognya Jinsung sama ibunya.
    hahahahaha..
    Jinsung klo mabuk ganteng tau mamah.. hahahaha..

    sk endingnya..
    sukaaaa sekali. romantis..
    iri sama Han Yoobin.. ㅠㅠ

    aku tunggu story of us slanjutnya eonni..
    fighting!!!

  2. wohhh kereennn… gue salut sm org2 yg bikin ff dgn cast di luar bb atau gb.. gue jujur suka monday kiz, sg wannabe, kwill,4men..
    sering2 bikin ff yg castnya mrka yaa..
    fighting!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s