Story of Us (part 4) – The Woman I Love [fan fiction]

Standard

Story of Us – The Woman I Love

Kim Won Joo mendongak saat terdengar ada yang membuka pintu apartemennya, ia bangun dari sofa yang di dudukinya, berjalan cepat menuju pintu apartemennya untuk tahu siapa yang membukanya.

            Menghembuskan nafas keras saat melihat siapa yang membuka pintu apartemennya dan masuk. Seharusnya ia tahu siapa yang akan mendatanginya di malam selarut ini, dan membuka pintu apartemennya sendiri.

“Kau… Apa yang kau lakukan disini. Ini sudah malam sekali.”

            Dia hanya tersenyum seperti biasanya, mengabaikan rentetan perkataan ynag dikeluarkan Won Joo. Gadis itu menukar sepatu berhak tinggi yang dipakainya dengan sendal kamar berwarna putih yang sudah sangat sering dipakainya jika ia berada di apartemen ini.

“Apa kau masih perlu mempertanyakan lagi untuk apa aku kesini.” Ia mengangkat kantung plastik putih yang dibawanya, menggoyang-goyangkannya hingga kaleng bir yang ada di dalamnya saling beradu.

“Aku tidak bisa minum-minum sekarang, besok pagi aku harus rekaman.”

            Wajah itu terlihat kecewa, tanpa bicara lagi gadis itu berjalan menuju sofa, mendudukkan dirinya dengan santai, seolah dia itu pemilik apartemen itu. Won Joo mengikutinya, duduk di sampingnya, dan menatap gadis itu.

“Apa kau dicampakkan lagi?”

            Jin Bora, gadis itu langsung mengerling jengkel ke arah Won Joo, tangannya mengambil satu kaleng bir dan membukanya.

“Kalau kau tidak ingin menemaniku minum malam ini, tidak perlu bertanya macam-macam.”

            Won Joo hanya tersenyum, ia sudah terbiasa menghadapi Jin Bora yang seperti ini. Sulit dipercaya jika gadis yang duduk di sebelahnya ini, merupakan pianist muda berbakat yang sangat terkenal di Korea. Ya mungkin warga Korea mengenal Jin Bora sebagai pianist berbakat yang sangat sering berkolaborasi dengan berbagai musisi terkenal di Korea ini, tapi Kim Won Joo mengenal Jin Bora sebagai sahabat yang selalu datang padanya untuk minum-minum saat ia sedang dalam suasana hati yang buruk.

“Apa yang terjadi?” Won Joo bertanya serius, “Kau tidak mungkin mengatakan tidak ada yang terjadi bukan?”

            Jin Bora tidak menjawab, ia hanya tersenyum singkat seraya meneguk bir dari kaleng yang dipegangnya.

“Aku sedang tidak ingin bercerita malam ini, aku hanya ingin minum, kau tidak keberatan bukan.”

            Kim Won Joo tidak membantah, ia tahu tidak ada gunanya memaksa Jin Bora untuk bercerita kalau ia sedang tidak ingin bercerita, gadis itu akan menceritakan apa yang dirasakannya tanpa diminta jika ia merasa sudah ingin bercerita. Won Joo mengambil satu kaleng bir dari kantong plastik, ia akan meminum satu kaleng saja, tidak tega membiarkan Bora minum sendiri. Tiba-tiba Won Joo merasakan bahunya terasa berat, ia menoleh, sedikit terkejut saat kepala Jin Bora sudah bersandar ke bahunya, mata gadis itu terpejam dalam sandarannya.

“Kau tahu Kim Won Joo… Aku lelah, sangat lelah. Biarkan aku meminjam bahumu sebentar untuk melepaskan rasa lelah ini. Sebentar saja, biarkan aku seperti ini.”

            Kim Won Joo tidak bersuara, tenggorokannya menelan bir yang baru masuk ke mulutnya, bir itu terasa aneh, terasa terlalu keras hingga sedikit menyakiti tenggorokannya. Won Joo menatap Bora yang ada di sandaran, Jin Bora terlihat sangat tenang dalam sandarannya, seperti tertidur, sementara Won Joo mati-matian meredam detak jantung yang berdetak kencang seperti menggedor-gedor rongga dadanya. Jika Jin Bora sampai merasakan debaran jantungnya, ini akan sangat memalukan.

            Won Joo sudah lama menyadari ada yang salah dengan perasaannya saat ia bersama dengan Jin Bora, seseorang yang dulu hanya ia anggap sebagai sahabat berbagi yang menyenangkan, kini berubah menjadi sosok wanita yang mendebarkan jantungnya setiap kali mereka bersama. Won Joo tahu perasaan seperti ini tidak baik untuk dirasakannya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa saat tiba-tiba perasaan itu berubah, menegaskannya bahwa ia mulai menyukai sahabatnya, Jin Bora.

*          *          *

            Kim Won Joo berdiri tidak jauh dari tempat pengambilan gambar MV 4Men yang terbaru, tangannya menyilang di dadanya, sementara matanya tertuju lurus ke arah Jin Bora yang sedang bermain piano dengan gaun pendek berwarna hitam yang membalut indah tubuhnya. Dalam MV terbaru 4Men, secara mengejutkan pihak management mengatakan bahwa mereka akan bekerja sama dengan Jin Bora sebagai pianist sekaligus model video klip mereka. Won Joo tidak pernah tahu itu sampai tiba-tiba gadis itu muncul di lokasi shooting, benar-benar kejutan yang menyenangkan.

“Kau tidak pernah mengatakan kau akan menjadi salah satu model video klip kami.” Won Joo mengeluarkan kalimat yang sama sejak ia melihat Jin Bora di lokasi shooting, Won Joo mengulurkan sekaleng soft drink pada Bora selesai gadis itu menyelesaikan pengambilan gambar pertamanya.

“Ini kejutan untukmu.” Jawab Bora singkat, tersenyum dan mengambil kaleng soft drink yang diberikan Won Joo, “Apa nanti kita akan berada dalam satu scene?”

“Aku rasa akan ada scene dimana semua member akan berdiri di dekatmu yang sedang bermain piano nanti.” Jawab Won Joo.

“Benarkah? Itu akan sangat menyenangkan, kita akan tampil dalam satu frame di sebuah MV.”

            Won Joo tersenyum lebar, ia senang Jin Bora menyukai fakta bahwa mereka akan berada dalam satu frame nanti.

“Kim Won Joo, apa orang itu yang akan menjadi kekasihku dalam MV ini?” Jin Bora bertanya, matanya menatap lurus ke sosok laki-laki tampan yang sedang memberi salam pada beberapa orang di bagian lain lokasi shooting, Won Joo ikut mengamati, ia belum pernah melihat laki-laki itu sebelumnya, tapi sepertinya itu memang seseorang yang akan bergabung dalam MV ini.

“Kurasa begitu.” Won Joo berkata singkat.

            Tatapan mata Bora berubah berbinar penuh ketertarikan, senyum di wajahnya mengembang semakin lebar, saat menatap sosok laki-laki itu.

“Aku pernah melihatnya dalam sebuah drama, tak kusangka dia terlihat lebih tampan dalam tampakan aslinya… Aku rasa, aku harus menyapanya.”

            Jin Bora bangun dari kursi yang didudukinya, menyerahkan kembali kaleng softdrink pada Won Joo, ia menyisiri rambut panjang hitamnya dengan jari-jari tangannya, membentuk senyum termanisnya sebelum berjalan menghampiri laki-laki itu.

            Kim Won Joo mendesah pelan, seharusnya Won Joo tahu akan seperti ini. Jin Bora masih menjadi gadis yang begitu mudah tertarik dengan seseorang, rupanya ia masih belum jera bahwa ketertarikan kilat itu selalu menyakitinya. Dari tempatnya Won Joo melihat Jin Bora tertawa ceria saat bicara pada laki-laki yang tadi ditujunya, mereka terlihat sudah dekat.

“Cepat sekali mereka akrab.” Won Joo bergumam pelan.

            Won Joo, mengangkat kaleng soft drink di tangannya, meminum isinya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Ada rasa panas yang terasa di tubuhnya, ketika harus melihat Jin Bora tertawa dan tersenyum dengan orang itu, ada ketidakrelaan… Ya Tuhan, apa ia mulai cemburu melihat itu semua.

*          *          *

            Kim Won Joo memejamkan matanya, membaringkan dirinya di sofa, sementara telinganya masih beisa menangkap dengan baik pembicaraan antara Lee Seok Hoon dan Lee Jin Sung, keduanya terdengar membicarakan dengan antusias kisah cinta masing-masing. Lee Seok Hoon terdengar sedikit menggerutu tentang betapa kurang perhatian kekasihnya, sementara Lee Jin sung kebalikannya, dari ceritanya ia malah terdengar dilimpahi banyak perhatian oleh kekasihnya.

“Mereka ini memang benar-benar keterlaluan, harusnya mereka tidak membicarakan masalah kekasih di dekat seorang teman yang sedang risau karena perasaannya.” Gerutu Won Joo dalam hati, setengah menyesali mengapa ia memenuhi undangan Lee Jin Sung untuk bertemu malam ini.

“Ada apa dengan magnae kita.” Won Joo mendengar Lee Seok Hoon berhenti mengeluh soal kekasihnya. Won Joo tidak bergerak, tetap memejamkan matanya, lebih baik kalau mereka mengira ia tertidur.

“Aku tidak tahu, ia memang terlihat lelah saat datang tadi.” Sekarang suara Lee Jin Sung yang terdengar.

“Kim Won Joo, apa kau baik-baik saja?” Won Joo merasakan tubuhnya diguncang pelan, Lee Seok Hoon pasti yang melakukan, karena suara dia yang terdengar paling dekat. “Apa kau tidur?”

“Aku pasti sudah tertidur, jika kalian tidak berisik membicarakan tentang Park Hye Jin, dan Han Yoo Bin.” Keluh Won Joo, tanpa membuka matanya ia membalik tubuhnya di sofa, membelakangi Lee Seok Hoon.

“Kalau kau tidak tidur bukalah matamu, duduk, minum dan makanlah sesuatu.”

            Lee Seok Hoon kembali menguncang tubuhnya, membuat Won Joo akhirnya menyerah. Ia membuka matanya, mendudukkan dirinya dengan malas-malasan, menatap bergantian Lee Jin Sung dan Lee Seok Hoon yang duduk di sofa di depannya.

“Apa terjadi sesuatu denganmu?” Lee Jin Sung langsung bertanya, “Apa ada masalah?”

            Won Joo menggeleng pelan, ia mengangkat gelas jusnya, meminum isinya sedikit.

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah.” Jawab Won Joo setengah berbohong.

Jin Sung mencibir, “Aku sering sekali mendengar kalimat itu, jika kau menjawab seperti itu, itu tandanya kau memang sedang punya masalah.”

            Sulit memang menyembunyikan apa yang dirasakannya dari orang-orang terdekatnya ini, tapi untuk bercerita, rasanya Won Joo belum ingin melakukannya.

“Aku baik-baik saja, sungguh.” Kim Won Joo menegaskan.

“Baiklah jika kau tidak ingin bercerita, tidak masalah.” Lee Seok Hoon berkata mengerti, “Kau bisa bercerita lain kali, jika kau sudah ingin bercerita.”

            Won Joo berterima kasih atas pengertian yang diberikan Lee Seok Hoon, ia senang mereka tidak memaksa.

“Sekarang makanlah!” Lee Jin Sung sekarang yang bicara, “Kau terlihat kurus belakangan ini, itu akan mengganggu penampilanmu di atas panggung nanti. Aku dengar wanita Korea belakangan ini tidak suka laki-laki yang terlalu kurus… Aku sudah memesankan spaghetti seafood kesukaanmu, jadi makanlah.”

            Lee Jin Sung menyodorkan piring pasta, dan mengulurkan sumpit padanya. Kim Won Joo tersenyum, mengambil sumpit yang diberikan Jin Sung, menggulung pasta dengan sumpitnya, memasukkan suapan pertamanya walaupun ia sebenarnya belum ingin memakan apa pun, tapi ia akan memakannya untuk menghargai perhatian yang diberikan sahabat-sahabatnya.

*          *          *

            Kim Won Joo melangkah kakinya memasuki sebuah ruangan di sebuah bar, matanya langsung bisa menangkap sosok Jin Bora yang sedang menuangkan minuman ke gelas kecil di atas meja dan meminum isinya, seakan minuman itu hanya air putih baginya. Won Joo menghembuskan nafas pelan, ia tahu akan seperti ini, sejak Jin Bora meneleponnya dan meminta untuk datang, ia tahu akan menemukan gadis itu seperti ini, pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi baginya. Hanya saja untuk melihat itu semua sekarang, ada rasa lain terasa.

“Apa lagi yang terjadi padamu sekarang?” Won Joo berkata dingin sesaat setelah ia duduk di samping Jin Bora.

            Jin Bora mengangkat wajahnya, tersenyum lebar saat melihat Won Joo duduk di sampingnya. Hanya dengan melihat sekilas saja, Won Joo tahu Jin Bora sudah setengah mabuk sekarang.

“Teman kau datang.” Jin Bora berkata senang, ia merangkulkan tangannya ke leher Won Joo setengah memeluknya.

            Won Joo mendorong tubuh Jin Bora, tidak suka dengan apa yang dilakukan gadis itu.

“Berhenti bertingkah seperti anak kecil.” Kata Won Joo masih dengan nada suara dinginnya. “Cepat bangun, aku akan mengantarmu pulang.”

Jin Bora menggeleng cepat, “Aku baru memulai ini, mana mungkin aku pulang.”

            Jin Bora kembali mengangkat gelas minumannya, berniat untuk sekali lagi menandaskan isinya. Won Joo mengambil gelas itu dari tangan Bora, rasanya sudah cukup ia harus melihat ini semua, terlalu membosankan harus melihat Jin Bora lagi-lagi seperti ini.

“Apa yang kau lakukan, berikan gelas itu padaku.” Jin Bora berusaha mengambil kembali gelas dari tangan Won Joo, tapi Won Joo menjauhkan tangannya dari jangkauan gadis itu, menolak untuk memberikannya.

“Kim Won Joo, apa yang kau lakukan, berikan itu padaku.” Jin Bora berkata keras, setengah membentak.

“Aku tidak akan memberikannya.” Tegas Won Joo, matanya menatap tajam ke arah gadis itu, “Aku ingin kau berhenti minum dan biarkan aku mengantarmu pulang.”

            Jin Bora menatap tidak percaya ke arahnya, mungkin ini untuk pertama kalinya Jin Bora mendapati Won Joo yang tidak membiarkannya minum atau semacamnya. Alih-alih menemaninya seperti biasa, Won Joo malah memintanya untuk berhenti dan pulang.

“Apa yang terjadi padamu?” Jin Bora bertanya, mata gadis itu masih lekat menatapnya. “Kau tidak biasa seperti ini, apa terjadi sesuatu padamu?”

            Ya Tuhan, gadis ini benar-benar… Kim Won Joo mendesah pelan, tidak percaya ia harus ada dalam situasi seperti ini.

“Aku yang seharusnya bertanya apa yang terjadi padamu.” Won Joo berkata putus asa. “Kenapa selalu seperti ini setiap kali kau melewati hal tidak menyenangkan dengan laki-laki yang baru kau sukai. Mengapa kau selalu memanggilku setiap kali kau butuh teman untuk melewati hal tidak menyenangkan ini.”

“Tentu saja karena kau temanku, karena kau sahabatku.” Jin Bora menjawab bingung.

            Kim Won Joo mendengus pelan, teman, sahabat… Apa yang dikatakan Jin Bora rasanya terdengar sangat janggal di telinganya.

“Kalau begitu berhenti meneleponku jika kau sedang membutuhkan seseorang untuk menemanimu minum.”

“Kenapa seperti itu?… Kenapa kau tiba-tiba…”

“Karena aku lelah melihatmu seperti ini.” Bentak Won Joo, memotong tegas kalimat yang belum selesai dikatakan Jin Bora. “Aku lelah melihatmu selalu menangis untuk laki-laki lain di hadapanku.

            Jin Bora tidak bicara, gadis itu hanya menatapnya dengan raut wajah penuh kebingungan seolah ia tidak mengerti apa maksud dari kata-kata yang baru saja dikatakan Won Joo padanya.

“Oleh karena itu, aku tidak bisa lagi menjadi temanmu.” Won Joo melanjutkan, mengabaikan tatapan yang diberikan Jin Bora padanya.

“Kim Won Joo, apa yang kau katakan, mengapa kau tiba-tiba… Ini tidak masuk akal.” Jin Bora menggeleng pelan, seakan Won Joo hanya mengada-ada dengan kata-katanya. “Kau tidak mungkin…”

            Kim Won Joo bangun dari duduknya, rasanya lebih baik ia pergi sekarang, lebih baik ia meninggalkan Jin Bora sekarang, ia tidak ingin kembali dilemahkan. Baru beberapa langkah saja Won Joo melangkah, ia sudah merasakan ada yang mencengkram tangannya, menghentikan langkahnya.

“Katakan mengapa kau tiba-tiba mengatakan hal mengerikan itu padaku.” Jin Bora memegang erat tangannya, sementara mata gadis itu mulai menggenangkan sesuatu. “Katakan Kim Won Joo…” Jin Bora membentaknya, menuntut sebuah jawaban.

            Kim Won Joo hanya diam, perlukah ia mengatakannya sekarang? Perlukah ia mengatakan pada Jin Bora kalau perasaannya kini telah berubah? Sementara gadis itu masih menatapnya dengan matanya yang mulai basah, menunggu jawaban darinya.

“Aku menyukaimu, itu yang membuatku tidak bisa lagi menjadi temanmu.” Won Joo akhirnya bicara, “Tadinya aku berpikir akan menyimpan perasaan ini lebih lama lagi, tapi nyatanya, aku mulai merasa bosan melihatmu menangis untuk laki-laki lain, aku mulai tersakiti melihat itu semua. Oleh sebab itu aku merasa tidak mampu lagi memposisikan diriku sebagai temanmu, ini sangat melelahkan untukku.”

            Won Joo menghembuskan nafas perlahan setelah mengatakan itu semua, seolah ia menahan nafas saat mengatakannya. Tidak ada yang dikatakan Jin Bora setelah mendengar itu semua, Won Joo hanya melihat setetes air mata yang semula hanya menggenang di mata Jin Bora, kini turun membasahi pipinya.

“Maafkan aku untuk ini, aku seharusnya bisa mengendalikan apa yang kurasakan… Namun aku gagal melakukannya.”

            Kim Won Joo memaksa wajahnya untuk mengguratkan sebuah senyum, tangannya bergerak mendekati wajah Jin Bora, menghapus perlahan air mata di pipi gadis itu.

“Maafkan aku.” Katanya lirih, sebelum melangkah pergi meninggal Jin Bora yang terdiam, seperti tidak tahu harus bereaksi apa selain mengeluarkan air mata.

*          *          *

            Seperti yang Kim Won Joo duga sebelumnya, hubungannya dengan Jin Bora tidak akan seperti sebelumnya setelah ia mengatakan tentang perasaannya. Tidak ada yang sama lagi seperti dulu setelah itu. Di lokasi pengambilan gambar terakhir untuk MV 4Men, mereka seperti kedua orang yang tidak saling mengenal. Jin Bora sama sekali tidak menyapanya, begitu juga dirinya, ia sama sekali tidak punya keinginan untuk menyapa atau mengajak Jin Bora bicara lebih dulu. Ada sedikit rasa sungkan atau semacamnya yang mencegah Won Joo untuk melakukan itu semua, ia berpikir jika Jin Bora tidak ingin menyapa dan bicara padanya, akan lebih baik jika ia menurutinya.

“Ada apa dengan kalian?” Shin Yong Jae, anggota termuda 4Men, langsung bertanya saat mereka menyelesaikan pengambilan gambar terakhir untuk MV mereka.

“Ada apa dengan apa?” Won Joo balik bertanya.

“Ada apa dengan dirimu dan Bora noona tentu saja?” Yong Jae melanjutkan, matanya terarah pada Jin Bora yang duduk sendiri di salah satu sudut lokasi, terlihat melamun.

“Memangnya apa yang terjadi antara kami, tidak ada apa-apa.” Jawab Won Joo, jelas berbohong, ia mengambil botol air mineral dari atas meja untuk menutupi ke canggungannya.

“Aku tidak bodoh hyeong… Lihat apa yang kalian lakukan sejak kalian tiba di lokasi hari ini, kalian saling menghindar. Biasanya kalian selalu mengobrol dan tertawa bersama,  selama proses shooting kau bahkan tidak pernah makan bersama kami, karena kau lebih memilih makan bersama Bora noona.”

            Baiklah, semua itu benar, Won Joo tidak punya kata untuk membantah apa yang baru saja dijabarkan Shin Yong Jae.

“Hanya ada sedikit masalah.” Jawab Won Joo akhirnya. “Bukan masalah besar, semua akan terselesaikan segera.”

            Won Joo segera menambahkan saat Shin Yong Jae sudah akan bertanya lebih dalam. Lagi-lagi Won Joo mendapatinya dirinya enggan bercerita tentang masalahnya dengan Jin Bora, entah mengapa ia lebih suka apa yang terjadi antara ia dan Jin Bora, hanya Jin Bora dan dirinya saja yang tahu.

“Baiklah kalau begitu.” Shin Yong Jae tidak banyak bertanya lagi, anak itu sepertinya mengerti, kalau Won Joo tidak ingin bercerita. “Aku akan mengganti pakaianku dulu, hari ini panas sekali.”

Shin Yong Jae mengibaskan setelan jas berwarna krem yang dipakainya, terlihat agak tidak nyaman dengan setelan itu di cuaca yang panas seperti hari in

“Pergilah, aku akan menyusul sebentar lagi.” Kata Won Joo, tersenyum sambil menepuk bahu Yong Jae, yang segera beranjak pergi.

            Won Joo bergerak mendekati sutradara video klip, melihat dari monitor kamera hasil pengambilan gambar yang baru saja dilakukannya. Awalnya Won Joo memang berniat untuk melihat hasil pengambilan gambar, tapi ia hanya mampu memfokuskan dirinya pada layar monitor itu lima menit saja, tanpa ia sadari matanya sudah menatap ke arah lain. Jin Bora masih terduduk di sudut itu, gadis itu terlihat sedikit muram hari ini, apa yang membuatnya begitu muram? Apa ia kembali bermasalah dengan seorang laki-laki? Atau, kalau Won Joo boleh berharap dan menebak, apa mungkin kemuraman Jin Bora karena apa yang terjadi diantara mereka.

            Jin Bora bangun dari duduknya, melangkah dengan kepala tertunduk lesu menuju ruang ganti di sudut kanan ruang pengambilan gambar. Dia terlihat tidak terlalu memperhatikan langkahnya, ia hampir membentur beberapa kru yang berjalan mondar-mandir dengan sibuk.

“Maaf.” Dari jarak beberapa meter Won Joo mendengar gadis itu meminta maaf pada beberapa orang yang hampir ditubruknya.

            Mata Won Joo tetap mengikuti gerak Jin Bora, ada kecemasan dalam sorot matanya sekarang. Dan kecemasan itu seperti beralasan, ketika lagi-lagi Jin Bora melakukan kesalahan. Kaki gadis itu yang menggunakan sepatu berhak tinggi tersangkut kabel-kabel di lokasi shooting. Won Joo merasakan dirinya sudah akan berlari menghampiri Bora, tapi ia batalkan ketika ia melihat Bora segera bangun dengan canggung dan malu, membawa kelegaan yang menjelaskan bahwa gadis itu baik-baik saja. Sialnya kelegaan itu hanya terasa beberapa detik saja, ada yang salah dengan cara gadis itu bangun dari jatuhnya. Sepatu yang dipakainya masih tersangkut ke kabel lampu-lampu tinggi di sekelilingnya, membuat Jin Bora mungkin saja akan tertimpa lampu-lampu itu jika ia melangkah.

            Belum selesai Won Joo memikirkan kemungkinan itu, tiang-tiang lampu mulai tertarik, bergoyang, siap menjatuhi siapa saja yang ada di dekatnya. Tanpa berpikir panjang Kim Won Joo segera berlari ke arah Jin Bora, memeluk erat tubuh gadis itu. Seketika saja sesuatu yang terasa begitu keras dan begitu berat menghantam punggung dan bagian belakang kepalanya, membuat pandangannya seketika mengabur. Hanya samar-samar suara jeritan keras yang terdengar di telinganya, sebelum semua hal di sekelilingnya menjadi gelap sepenuhnya.

*          *          *

            Ketika membuka matanya, Kim Won Joo langsung melihat orang-orang terdekatnya mengelilingi ranjang rawatnya. Anggota 4Men lainnya, seperti Shin Yong Jae dan Kim Young Jae, langsung berkata ‘Syukurlah kau sudah sadar’ dengan kelegaan terlihat jelas di wajah mereka. Lee Seok Hoon dan Lee Jin Sung juga ada disana, mereka membawa karangan bunga besar yang mewakili Kim Hyung Soo yang sekarang sedang tidak berada di Korea.

“Aku senang kau baik-baik saja.” Lee Seok Hoon mengatakan kalimat itu, diiringi anggukan Lee Jin Sung yang berdiri di sebelahnya. “Kau membuat kami semua cemas.”

            Semua orang terdekatnya memang berada disisinya saat Won Joo membuka matanya, tapi sosok yang diharapkannya sama sekali tidak terlihat.

“Apa Jin Bora baik-baik saja?” Pertanyaan pertama yang dikatakannya saat membuka matanya, setelah satu hari tidak sadarkan diri.

“Dia baik-baik saja, ia hanya sedikit terguncang.” Shin Yong Jae yang menjawab pertanyaannya, sementara yang lain lebih memilih keluar, agar Won Joo bisa lebih banyak beristirahat.

            Kim Won Joo berusaha mengangkat tubuhnya yang terbaring, berusaha mendudukkan dirinya dan bersandar ke kepala ranjang. Ada nyeri luar biasa yang menyerangnya seiring gerakan ceroboh yang dilakukannya.

“Apa yang kau lakukan.” Yong Jae langsung membantunya untuk kembali berbaring. “Dokter mengatakan kau tidak boleh terlalu banyak bergerak, ada sedikit masalah dengan tulang punggungmu.”

            Keringat dingin langsung merembes keluar di dahinya, saat rasa sakit itu menyiksanya. Ia mengerang pelan, seharusnya ia tahu untuk apa dokter membebat bagian dadanya dengan perban yang begitu tebal.

“Apa kau baik-baik saja, apa perlu aku memanggil dokter untukmu?”

            Kim Won Joo mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Yong Jae tidak perlu memanggil siapa-siapa.

“Aku baik-baik saja.”

            Kim Won Joo berusaha menormalkan nafasnya, setelah pelan-pelan sakit itu berangsur pergi.

“Apa Jin Bora benar baik-baik saja?” sekali lagi Won Joo mendapati dirinya bertanya.

“Berhenti mengkhawatirkannya hyeong, seperti yang aku katakan sebelumnya, dia baik-baik saja, ia hanya terkejut dan sedikit histeris saat mendapati kau terluka karena menolongnya.”

            Kim Won Joo mengangguk singkat, ia lega tidak terjadi apa pun pada Jin Bora, ia lega gadis itu tidak terluka.

“Pihak management memutuskan akan menunda comeback 4Men, mungkin sekitar dua minggu masa pemulihanmu.” Yong Jae menjelaskan.

“Maafkan aku, karena aku terluka semua jadwal kita jadi berantakan.” Kata Won Joo, ada sedikit nada penyesalan dalam kata-katanya.

“Untuk apa kau merasa bersalah, ini semua kecelakaan, kau jelas tidak pernah ingin ini terjadi… Kami senang kau baik-baik saja sekarang.”

            Memang tidak ada gunanya merasa bersalah sekarang ini, yang penting ia harus berusaha untuk segera pulih agar kerja keras mereka mempersiapkan album baru dan segala hal, bisa segera mereka tunjukkan pada para penggemar dan orang-orang yang selama ini menghargai musik mereka.

            Kim Won Joo memejamkan matanya, ada sedikit rasa tidak menyenangkan mengganggu dirinya. Ada sedikit kekecewaan terasa saat ia tidak melihat sosok Jin Bora diantara orang-orang yang mencemaskannya, padahal sebelumnya Won Joo berharap Jin Bora menjadi salah satu orang yang paling mencemaskan keadaannya, tapi nyatanya gadis itu tidak ada untuknya.

*          *          *

            Hampir satu minggu sudah Won Joo tinggal di rumah sakit untuk menerima berbagai perawatan. Dalam satu minggu itu pula orang-orang yang mengenalnya silih berganti menjenguknya, bahkan Kim Hyung Soo pun menyempatkan dirinya untuk kembali ke Korea hanya untuk menjenguknya. Mungkin hanya satu orang yang sampai sekarang belum menjenguknya, seseorang yang selalu Kim Won Joo harapkan kehadirannya.

            Jin Bora tidak pernah datang untuk menemuinya, ia bahkan tidak menelepon atau menjawab teleponnya, hanya karangan bunga yang terkirim atas namanya yang datang. Kim Won Joo tidak pernah mengerti mengapa gadis itu harus bersikap seperti itu, apa dia melakukan kesalahan dengan menolong Jin Bora. Won Joo selalu merasa kepalanya pusing jika memikirkan itu semua, ini terlalu rumit.

“Aku akan membereskan masalah administrasi sebentar.”

            Won Joo mengangguk, tersenyum singkat sambil memasukkan beberapa barang pribadi ke tasnya. Sementara Manager 4Men keluar dari ruang rawatnya, untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan kepulangannya hari ini. Hari ini Won Joo memang sudah diperbolehkan pulang, betapa bersyukurnya ia, suasana di rumah sakit ini hampir membuatnya mati bosan. Selesai memasukkan barang-barangnya, Kim Won Joo menatap ke arah salah satu sudut ruang rawatnya, tempat semua karangan bunga dari beberapa orang diletakkan, salah satu diantaranya karangan bunga dari Jin Bora. Won Joo mendekati karangan bunga mawar putih yang dikirimkan Bora, mengambil kartu ucapan yang datang bersamanya, kartu yang hanya berisi tulisan singkat. ‘Cepatlah pulih.’

            Kim Won Joo menghela nafas perlahan, ada yang terasa menyesakkan saat harus mendapati gadis yang dulu menjadi orang terdekatnya kini menarik diri darinya. Apakah perasaan yang dirasakan begitu membebani Jin Bora, hingga Bora perlu menarik diri sejauh ini darinya.

“Apa kau sudah menyelesaikan semuanya hyeong?” Won Joo bertanya saat ia mendengar ada yang masuk, sementara dirinya sedang membereskan beberapa barang dari laci rumah sakit, “Kalau sudah selesai, sebaiknya kita segera pergi, aku sudah sangat bosan berada disini.”

            Won Joo membalikkan tubuhnya, terkejut ketika melihat yang dia ajak bicara ternyata bukan managernya melainkan gadis yang selama berhari-hari ia harapkan kedatangannya.

“Bora…” Suara yang keluar dari mulut Won Joo terasa dalam dan berat, matanya menatap gadis yang berdiri di hadapannya. “Kau datang.”

            Jin Bora hanya berdiri diam, perlahan mata indahnya meneteskan setetes air ke wajahnya, membawa kebingungan bagi Won Joo.

“Kau menangis? Apa yang terjadi?”

            Alih-alih menjawab pertanyaannya dengan kata-kata, Jin Bora melangkah mendekatinya, menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk erat tubuh Won Joo.

“Aku senang kau baik-baik saja. Jangan pernah membuatku khawatir lagi dengan melakukan hal bodoh seperti itu.”

            Jin Bora terisak dalam pelukannya, tubuh gadis itu bergetar dalam pelukannya, gadis itu menangis. Masih begitu bingung, Won Joo menggerakkan tangannya untuk membelai rambut Jin Bora.

“Kau tahu betapa khawatirnya aku saat melihatmu terkapar tak sadarkan diri setelah tertimpa benda mengerikan itu.” Bora kembali bicara dalam pelukan Won Joo dengan suara sengaunya.

“Kau hanya perlu menjengukku, dan kau akan melihat aku baik-baik saja.”

            Jin Bora melepaskan pelukannya, wajah gadis itu sudah basah dengan air mata, seperti anak kecil yang menangisi mainan kesayangannya.

“Aku tidak berani melakukan itu, aku tidak pernah punya keberanian untuk melihat kondisimu.” Jawabnya, ia memalingkan wajahnya, seolah enggan bertatapan dengan Won Joo.

“Kenapa?” Won Joo mengerutkan keningnya.

“Aku terlalu takut melihat seberapa parah kau terluka, aku tidak ingin…”

“Tidak ingin merasa bersalah.” Won Joo melanjutkan perkataan Bora.

            Jin Bora mengeleng tegas, ia mengusap wajah basahnya dengan kedua telapak tangannya, menarik nafas sebelum lanjut bicara.

“Bukan itu.” Katanya pelan, “Sejak awal aku memang bersalah… Saat itu aku hanya takut kehilanganmu, aku takut kau akan membenciku.”

            Masih belum ada yang ingin dikatakan Won Joo sekarang, ia akan membiarkan Jin Bora mengatakan lebih dulu apa yang ingin dikatakannya.

“Kau mengatakan hal yang mengerikan saat kita bicara terakhir kali, kau mengatakan tidak ingin menjadi temanku lagi, kau bahkan mengatakan kau menyukaiku. Dan kau pergi meninggalkanku begitu saja setelah mengatakan semuanya.”

“Aku hanya menghindari situasi yang aneh diatara kita saat itu.” Jawab Won Joo singkat. “Maafkan aku membuat ini semua menjadi begitu membingungkan untukmu.”

“Apa kau akan menarik kembali kata-katamu kemarin jika aku minta.” Jin Bora menatap serius ke arahnya.

            Won Joo diam, apa Jin Bora benar-benar ingin Won Joo tidak menyukainya. Ternyata benar dugaannya, perasaan yang dimilikinya sangat membebani gadis itu.

“Jika kau meminta, aku akan menarik kalimat kalau aku menyukaimu.”  Kata Won Joo akhirnya.

Jin Bora menggeleng tegas, “Bukan kalimat itu yang aku ingin kau tarik.”

            Won Joo mengangkat alisnya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan gadis itu, isi kepalanya terlalu penuh untuk berpikir pintar saat ini.

“Jadi kau berharap aku menarik perkataanku yang mana?”

“Tarik kata-katamu yang mengatakan kau tidak ingin menjadi temanku lagi.” Jin Bora berkata tegas, “Kau tahu sangat menyakitkan mendengar itu semua darimu, itu sangat melukaiku… Kau tidak bisa pergi dariku, entah itu sebagai teman atau apa pun, kau harus selama berada di dekatku, selamanya.”

            Lagi, Won Joo mendapati dirinya tidak mengerti apa yang dikatakan Jin Bora, Perlukah ia bertanya apa sebenarnya maksud dari perkataan itu? Perlukah ia meminta gadis itu untuk membuat kata-katanya menjadi lebih sederhana? Agar isi kepalanya yang seakan sudah menyusut ini bisa mengartikan dengan benar.

“Bodohnya aku, membiarkan aku tersakiti begitu banyak cinta, sementara ada cinta yang begitu tulus di dekatku… Aku harus dibuat merasa kehilanganmu terlebih dulu sebelum aku menyadari betapa pentingnya dirimu untukku. Terima kasih sudah memiliki perasaan ini untukku Kim Won Joo.”

“Apa maksudmu kau…”

Jin Bora mengangguk singkat, wajahnya tersenyum begitu manis dan cantik.

            Kim Won Joo merasakan tangannya terasa kebas, wajahnya mendadak kaku. Apa mungkin yang baru saja di dengarnya… Apa mungkin Jin Bora sekarang. Masih dengan pemahaman yang seadanya, Kim Won Joo meraih Jin Bora ke dalam pelukannya, kelegaan langsung membanjiri dirinya, membawa ketenangan yang begitu nyaman untuk terasa.

“Terima kasih kau mau membalas perasaanku… Demi Tuhan aku tidak akan membiarkan dirimu tersakiti karena cintaku, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi, percayalah padaku.”

            Kim Won  Joo bisa merasakan ada anggukan pelan yang diberikan Jin Bora dalam pelukannya. Sekali lagi tangannya membelai rambut Jin Bora, ia akan sering membelai rambut itu sekarang, bukan untuk menenangkan gadis itu dari luka cintanya, seperti yang dulu sering dilakukannya, tapi untuk menunjukkan kasih sayang dan betapa bahagianya ia saat bisa merengkuh cintanya.

Advertisements

3 responses »

  1. kereennn.. ntah kenapa aku lbih suka bca ff yg pairnya artis dgn artis daripada artis dgn oc.. 🙂
    keren… gue tgguu ff lo yg lain..
    Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s