Story of Us – Only You (너 하나만) [Fan Fiction]

Standard

Only You (너 하나만) [Fan Fiction]

01-0130 edit

K.Will (Kim Hyung Soo)

Aku melihatnya bernyanyi dengan segenap jiwanya di atas panggung, itu yang selama ini selalu aku kagumi dari seseorang yang begitu dekat denganku. Ya dekat, sangat dekat, sampai-sampai aku tahu setiap detail dari diri orang itu. Aku begitu memahami sifatnya, begitu tahu apa yang dia suka dan ia tidak suka, aku memahaminya melebihi aku memahami diriku sendiri.

Hanya saja tidak seperti aku yang begitu memahaminya, ia seperti tidak pernah merasa perlu untuk memahamiku, karena mungkin aku hanya bagian kecil dari hidupnya, seseorang yang tidak begitu penting dalam kehidupannya.

“Kau melakukannya dengan sangat baik.” Seruku, seraya mengulurkan handuk kecil dan sebotol air mineral padanya yang baru saja turun dari atas panggung.

            Ia mengambil botol air mineral dari tanganku, meneguk hampir setengah isinya sekaligus. Aku mengelap keringat yang mengucur di dahinya dengan handuk yang aku pegang.

“Ya Tuhan, di atas sana panas sekali, aku hampir mati dibakar oleh lampu-lampu panggung itu.”

            Aku hanya tersenyum mendengar kalimat yang sering sekali aku dengar setiap kali ia turun dari atas panggung untuk mengekpresikan rasa lelahnya.

“Tapi kau senang bisa menyelesaikannya dengan baik bukan. Kau puas sudah memberikan yang terbaik untuk orang-orang di depan panggung yang mengagumimu.”

“Kau benar.” Senyum itu tersungging di wajah lelahnya, senyum yang membuatku bertahan hingga sekarang. “Semua berjalan sangat baik hari ini, terima kasih kau sudah bekerja keras.”

            Aku tahu wajah ini akan langsung mengguratkan sebuah senyuman, memang seperti itu yang terjadi setiap kali Kim Hyung Soo berkata seolah aku ini sudah membantunya atau semacamnya. Aku suka mendengarnya, aku suka jika Kim Hyung Soo merasa ia membutuhkanku.

*          *          *

“Manager Kim mengatakan, kau mendapat tawaran untuk mengisi acara musik populer di Jepang akhir pekan ini. Apa kau akan menerima tawaran itu?” Aku bertanya, sesaat setelah Kim Hyung Soo mengganti pakaian di ruang ganti.

            Laki-laki itu hanya menghela nafas panjang, ada kelelahan tergurat jelas di matanya. Tidak mengherankan memang jika gurat itu ada, ia bekerja layaknya mesin, tidak ada satu hari pun ia menjadwalkan dirinya untuk beristirahat. Sejak satu bulan lalu jadwal kerja gila yang ia setujui membuatnya hampir tidak pernah mengistirahatkan dirinya, sesuatu yang sangat membuat khawatir orang-orang di sekitarnya, terutama aku.

“Aku akan menerima pekerjaan itu, aku akan bernyanyi di acara itu.” Katanya.

“Apa kau tidak akan mengistirahatkan dirimu sebentar saja?” Kalimat ini terasa begitu sering aku ucapkan, aku merasa Kim Hyung Soo sudah terlalu keras dengan tubuhnya, aku hanya takut dia tidak akan bertahan.

“Sekarang ini kita sedang berada di Hongkong, jika kau menerima tawaran di Jepang itu, kita akan langsung terbang ke Jepang setelah ini.”

“Aku tahu, jadwal kita memang sangat padat akhir-akhir ini. Tapi lihat tawaran ini begitu bagus untuk karirku, jika aku sering tampil di acara-acara luar Korea seperti Jepang, akan semakin mudah untukku melebarkan karirku.”

            Kim Hyung Soo mendudukan dirinya di sofa kecil di ruang ganti, tatapannya tertuju lembut penuh senyum ke arahku. Dia memang seperti itu jika sedang mendebatkan sesuautu denganku, mungkin dia tahu tatapan matanya itu bisa melemahkanku.

“Kau sudah cukup terkenal di Jepang, jadi untuk apa lagi kau bersusah payah.” Aku hanya bisa bergumam seperti itu untuk menimpalinya.

“Ya, Kim Eun Joo… kau ini asisten yang akan selalu mendukung karirku bukan. Kau seharusnya gembira melihat penyanyi yang selalu kau dampingi bekerja begitu rajin, mengapa kau malah menyuruhku malas-malasan.”

            Seharusnya aku tahu perdebatan ini akan berakhir seperti ini, aku tidak pernah bisa menang melawan Kim Hyung Soo, ia selalu memiliki sejuta alasan untuk membenarkan apa yang menjadi keputusannya.

“Percuma aku bicara banyak untuk menasehatimu, kau terlalu keras kepala.” Aku bangun dari dudukku di atas sofa, sekilas menatap jengkel ke arah Hyung Soo yang malah tersenyum lebar seolah kemarahanku ini sesuatu yang lucu baginya. “Kau tahu, kau bisa mati lelah jika kau terus bekerja dengan cara seperti ini.”

            Dengan segala kekesalanku, aku berjalan keluar ruang ganti, meniggalkan Kim Hyung Soo aku yakin sekali ia masih mengguratkan senyumnya. Apa semua laki-laki di dunia ini tidak peka terhadap perasaan orang-orang di sekitarnya, atau hanya Kim Hyung Soo yang seperti itu.

“Hei kau mau kemana?” Hyung Soo berteriak dari belakang punggungku. “Apa kau marah padaku? Sekarang akan bertahan berapa lama?”

            Demi Tuhan ini membuatku sangat lelah, mendampingi seseorang yang sejak lama menyita tempat istimewa di hatiku rasanya mulai sangat melelahkan untukku. Aku sudah cukup lelah melihatnya begitu terluka dan terpuruk untuk seseorang yang dicintainya, saat sekarang aku kembali melihatnya menyiksa diri dengan pekerjaan menggila yang diterimanya untuk melupakan semua luka yang disimpannya, aku sepertinya mulai jengah (Baca à Story of Us part 1)

            Sudah 6 tahun aku mendampingi Kim Hyug Soo menapaki karirnya. Aku menerima tawaran Hyung Soo yang memang sudah lama bersahabat denganku, sebagai asistennya. Awalnya aku senang bisa mendampingi sahabatku, mendampinginya untuk meraih apa yang selama ini diimpikannya. Aku membantunya layaknya seorang sahabat, aku mengurusi segala keperluannya, jadwal kerja, hingga terkadang aku pun memberinya saran untuk menyelesaikan masalah cintanya. Tadinya aku melakukan itu tanpa beban, karena selalu menyenangkan mendampingi Kim Hyung Soo yang di dunia hiburan Korea lebih dikenal dengan nama K.Will.

Hanya saja semua terasa berubah, sejak aku merasakan ada sesuatu yang janggal dalam hatiku setiap kali aku bersama dengannya, rasa yang membuat semua cerita Kim Hyung Soo tentang gadis yang menarik perhatiannya terasa begitu membosankan, mendengar ia bercerita mulai menyukai seseorang, terasa menjengkelkan. Sekarang aku harus mendapatinya terluka begitu dalam karena seseorang yang dicintainya, dan melihat dirinya terluka karena cintanya, ternyata menyakitkan untukku.

*          *          *

            Dia benar-benar tidak datang, Kim Eun Joo, wanita itu benar-benar marah padaku rupanya. Ia bahkan menolak untuk menemaniku pergi ke Jepang. Aku tahu ini sangat melelahkan untuknya, ia pasti jengah mengikuti semua hal yang aku lakukan belakangan ini. Aku memang membuat diriku bekerja layaknya mesin, menerima semua tawaran kerja yang ditawarkan padaku, bukan karena aku ingin menerima semua, tapi lebih karena aku ingin semua kesibukan menggila ini dapat membuatku lupa akan apa yang aku rasakan, menghilangkan kesedihan yang terkadang masih menyakitkan untuk kembali teringat. Sayangnya di tengah usahaku untuk memulihkan diri, aku lupa jika aku melibatkan orang lain di dalamnya, aku tidak pernah memperhitung seberapa kesal dan lelahnya Kim Eun Joo mengikuti dan mengurus semua jadwalku.

            Aku kembali memijat pelan dahiku, rasa nyeri ini kembali terasa. Sejak turun dari pesawat tadi aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku, biasanya jika Kim Eun Joo ada di sampingku ia akan langsung mengingatkanku untuk meminum berbagai macam vitamin agar aku mampu bertahan, namun sekarang di saat gadis itu tidak ada… Terkadang konyol sekali harus menerima kenyataan jika aku benar-benar sudah tergantung padanya.

“Hyeong.. 30 detik lagi, giliranmu.” Seorang asisten junior bernama Hyun Woo, yang diminta Eun Joo menggantikan tugasnya untuk sementara, memberi isyarat agar aku bersiap-siap di belakang panggung.

            Aku mengangguk pelan, menghela nafas dalam sebelum naik ke atas panggung. Aku harus dapat menyelesaikan pekerjaan ini selelah apa pun tubuh ini. Bait terakhir berhasil aku nyanyikan dengan sangat baik, keringat dingin mulai terasa menetes di dahiku. Apa ini saat dimana aku perlu mengistirahatkan tubuhku? Mungkin memang sudah saatnya, karena aku merasakan pandangan mataku mulai mengabur, tubuhku seperti melayang dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi setelahnya.

“Kim Eun Joo, tolong berikan aku air mineral.” Hanya kalimat itu yang terlintas di benakku saat ketidaksadaran menyelubungiku.

*          *          *

“Apa kau baik-baik saja?” kalimat itu langsung aku tanyakan pada Kim Hyung Soo yang terbaring di kamar hotelnya, selesai pertunjukan musik di Jepang, “Sudah aku katakan, kau akan mati lelah jika terus seperti ini.”

            Aku merasakan kecemasan masih menyergap diriku, bukan main tidak tenangnya aku sesaat setelah menjejakkan kakiku di bandara negara ini, berbagai bayangan seperti apa lemahnya Kim Hyung Soo terus bergerak di benakku.

“Ini salahmu.” Kim Hyung Soo berkata pelan dengan suara dalamnya, masih ada keringat dingin terlihat di dahinya. “Aku seperti ini karena kesalahanmu.”

“Mengapa ini menjadi kesalahanku?” tanyaku, bingung dengan apa yang dikatakan Hyung Soo.

“Kau marah padaku dan pulang ke Korea meninggalkanku. Kau membiarkan orang lain untuk menggantikanmu, dan mereka tidak melakukan pekerjaan mereka dengan benar.”

            Aku mendengus pelan, tidak percaya kalimat itu keluar dari seorang laki-laki dewasa yang usianya sudah melewati 30 tahun.

“Apa kau ini balita? Kau sudah terlalu tua untuk tergantung pada seseorang.”

            Kim Hyung Soo menjatuhkan pandangannya lurus ke arahku, tatapan mata itu terkesan sangat dalam membuatku merasa begitu tidak nyaman menerima tatapan itu.

“Kau yang telah membuatku tergantung padamu. Bertahun-tahun kau membiasakan diriku dengan bantuanmu, jadi jangan salahkan aku jika sekarang aku tergantung padamu.”

            Aku hanya terdiam mendengar apa yang baru saja dikatakan Kim Hyung Soo, benarkah selama ini aku sudah membuat Kim Hyung Soo begitu tergantung padaku, atau laki-laki yang terbaring di hadapanku sekarang hanya sedang linglung karena demam.

“Sudahlah berhenti bicara yang bukan-bukan. Aku minta maaf karena tidak menemanimu dalam pekerjaan kali ini… Aku marah padamu hanya karena aku ingin kau berhenti menggila, aku ingin kau bertoleransi pada tubuhmu.”

            Aku duduk di sisi tempat tidur Kim Hyung Soo, tersenyum kaku seraya merapikan selimut tebal yang menutupi tubuh laki-laki itu.

“Sekarang istirahatlah, aku akan membereskan beberapa hal. Dan aku minta kali ini kau tidak keberatan jika aku meminta pada pihak management untuk memberimu waktu istirahat.”

            Senyum di wajahku tergurat semakin lebar, saat aku melihat anggukan tanda setuju dari Kim Hyung Soo, ternyata ia lebih menurut saat ia sedang sakit.

“Aku senang kau mau mengerti… Tidurlah, aku akan kembali dengan makanan kesukaanmu nanti.”

            Aku bangun dari sisi tempat tidur, sementara Kim Hyung Soo masih terbaring di atasnya.

“Tunggu sebentar.” Kim Hyung Soo secara tiba-tiba meraih tanganku, mencegahku untuk beranjak. “Jangan pernah marah dan meninggalkanku seperti yang kau lakukan kemarin, itu membuatku merasa kehilanganmu, dan aku tidak suka itu.”

            Tenggorokan ku seperti tercekat sesuatu saat mendengar kalimat yang dikatakan Kim Hyung Soo, andai saja laki-laki ini tahu seperti apa berpengaruhnya kalimat yang baru saja ia ucapkan padaku, tentu dia tidak akan begitu gegabah mengucapkannya. Andai saja dia tahu apa yang aku rasakan padanya telah berubah.

*          *          *

            Keputusan Kim Eun Joo dengan memaksaku untuk menghentikan semua aktivitas dan beristirahat total di rumah selama satu minggu, membuatku seperti hampir mati bosan. Tidak ada yang aku lakukan selain menonton TV dan tidur, benar-benar gaya hidup yang gila menurutku. Lebih baik aku melakukan tour ke sepuluh Negara, ketimbang aku harus berada di rumah dengan menit-menit penuh kebosanan.

            Setelah gagal menganjak Lee Seok Hoon yang sedang sibuk mempersiapkan mini album keduanya, untuk makan siang. Gagal mengajak Lee Jin Sung & Kim Won Joo bertemu karena mereka sedang berlatih untuk konser tahunan mereka. Akhirnya di hari ketigaku beristirahat, aku yang sudah tidak tahan dengan kebosanan yang ada, memutuskan untuk pergi ke kantor management, sepertinya akan menyenangkan bertemu senior dan junior yang aku kenal di sana. Aku juga merasa perlu mencari Kim Eun Joo, dia tidak pernah datang mengunjungiku selama aku berada di rumah, seharusnya sebagai orang yang memintaku beristirahat, ia bertanggung jawab untuk membuatku tidak bosan dalam masa istirahatku, tapi apa yang dilakukannya, ia bahkan tidak pernah datang untuk menemaniku mengobrol.

            Meja kerja Kim Eun Joo kosong, dalam ruangan itu hanya ada beberapa pekerja yang serius menghadap layar komputer di meja kerja masing-masing. Aku berjalan mendekati meja Kim Eun Joo.

“Kemana gadis itu pergi?” Aku bertanya dalam hati.

“Apa kau tahu asisten Kim dimana?” akhirnya aku bertanya pada seoarang staf.

“Dia pergi ke ruang meeting beberapa menit yang lalu.”

            Aku mengangguk mengerti, rupanya Kim Eun Joo memang sibuk akhir-akhir ini. Ternyata selain menjadi asistenku, Kim Eun Joo punya banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikannya, pantas saja dia selalu terlihat lelah. Sambil menunggu, aku mendudukkan diriku di kursi kerja Kim Eun Joo, rasanya aneh sekali duduk bermalas-malasan seperti ini sementara yang lain sibuk bekerja, jika Kim Eun Joo melihat aku duduk seperti ini di kursi kerjanya dia pasti akan marah. Aku mulai mengamati barang-barang yang ada di atas meja kerja Kim Eun Joo. Meja kerja ini terlalu rapih untuk ukuran orang yang sangat sibuk seperti dirinya, buku-buku, alat tulis, semua tertata rapih pada tempatnya. Mataku tertarik melihat agenda tebal berwarna hitam, ada lembaran seperti foto keluar dari sela-sela halaman agenda. Penuh ketertarikan aku menarik keluar lembar foto itu, bingung saat melihat foto seorang laki-laki tampan bersetelan jas warna hitam. Siapa laki-laki ini? seingatku Kim Eun Joo tidak punya kakak laki-laki, aku membalik foto yang aku pegang, ada tulisan kecil nama sebuah restoran terkenal di kota Seoul di balik foto itu, lengkap dengan tanggal dan waktu.

“Apa ini?… Ini seperti…” Aku terdiam saat kemungkinan itu terlintas di benakku, “Kim Eun Joo akan melakukan kencan buta.”

            Pintu ruang kerja terbuka, tanpa banyak pertimbangan aku segera mengembalikan foto itu ke dalam agenda, tersenyum salah tingkah saat Kim Eun Joo menatap curiga padaku.

*          *          *

“Apa yang sedang kau pikirkan malam ini hyeong?” Lee Seok Hoon menggeser duduknya, mendekatiku. Dari tatapan wajahnya aku tahu dia sedang penasaran akan sesuatu, dan sayangnya sesuatu malam ini itu aku. “Kau terlihat tidak bersemangat, apa kau masih memikirkan tentang Min Hyo Jin?”

            Aku hanya menghela nafas pelan, mengambil gelas bir-ku meminum seteguk, membiarkan pertanyaan yang diajukan Seok Hoon menggantung tanpa jawaban.

“Kau tidak ingin bercerita padaku hyeong?… Tadinya setelah melakukan banyak pekerjaan di luar Korea dan kembali ke sini, aku kira kau sudah sedikit pulih.”

            Ada gurat kekecewaan di wajah anak itu, Seok Hoon mungkin merasa aku terlalu menutup diri padanya, tidak nyaman juga melihatnya seperti itu.

“Aku baik-baik saja, seperti yang kau kira aku sudah pulih dari rasa sakit itu sekarang.” Aku tersenyum singkat saat mengatakan kalimat itu, ragu apa benar aku sudah pulih.

“Benar kah? Aku senang untuk itu hyeong, aku merindukan kau yang kembali bersemangat dan tegar.” Kelegaan langsung tersirat di wajah yang malam ini bebas dari hiasan kaca mata. “Kami semua ingin kau kembali sebagai hyeong kami.”

            Seok Hoon menebarkan pandangannya ke arah kedua sahabatnya Lee Jin Sung dan Kim Won Joo yang sepertinya sedang sibuk dengan obrolan mereka.

“Tapi kau masih terlihat murung malam ini, apa ada hal lain yang mengganggu pikiranmu hyeong?”

            Aku tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan Seok Hoon, mungkin memang ada yang mengganggu pikiranku sekarang ini, hanya saja aku masih belum yakin kalau aku benar-benar terganggu dengan hal itu. Aku tidak pernah memperhitungkan sebelumnnya jika apa yang aku lihat tadi siang mengusik diriku, atau aku hanya mencoba untuk menyangkal kalau kenyataan bahwa Kim Eun Joo akan bertemu dengan seorang pria, menggangguku… Ini jelas konyol.

“Lee Seok Hoon, apa kau pernah merasa memiliki seseorang hingga kau tidak ingin orang itu memiliki kehidupan lain selain kehidupan yang berkaitan dengan dirimu?”

            Seok Hoon terlihat mengerutkan keningnya, ia sepertinya bingung dengan pertanyaan yang aku ajukan padanya.

“Maksudmu hyeong?”

“Maksudku… Misalkan ada seseorang yang sudah sangat dekat denganmu, dia selalu ada bersamamu, menemanimu, mengurusmu, hingga membuatmu merasa sangat tergantung padanya. Tiba-tiba orang itu seperti mencoba memiliki kehidupan di luar dirimu, dengan mencoba memiliki seorang kekasih, apa kah wajar jika dirimu merasa tidak rela ia melakukan itu.”

            Aku tidak tahu seberbelit apa penjelasan yang aku berikan, aku hanya berharap Seok Hoon mengerti apa yang aku jelaskan.

“Apa sebelumnya mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, seperti hubungan cinta?”

            Aku segera menggeleng, aku jelas tidak memiliki hubungan apa pun dengan Kim Eun Joo, kami hanya bersahabat.

“Mereka hanya bersabahat, dan kebetulan mereka terlibat dalam ikatan kerja.”

            Seok Hoon mengangguk-anggukan kepalanya, mulai mengerti permasalahan yang ada.

“Kalau memang sekarang ini sang pria merasa tidak rela jika sang wanita yang sebelumnya begitu dekat dengannya, menjalin kedekatan dengan orang lain, itu berarti ada yang berubah dengan perasaan sang pria terhadap sang wanita.”

“Maksudmu dengan perasaan yang berubah?”

“Sangat mudah sekali menebaknya… Sang pria mulai menyukai sang wanita.”

            Aku menelan ludah saat Seok Hoon menyelesaikan kalimatnya dengan cara yang sangat dramatis. Banyak hal yang berputar di kepalaku sekarang ini, apa benar yang dikira Seok Hoon? Apa mungkin aku sudah menyukai Kim Eun Joo, sahabat dan asistenku sendiri. Aku kembali mengingat perasaan kehilangan saat ia tidak bersamaku, perasaan menyenangkan saat ia berlari dengan kecemasannya untuk sakitku, dan perasaan kosong yang tidak menyenangkan ketika aku mengetahui ia berusaha mencari kebahagian bersama orang lain… Apa mungkin sekarang ini aku sudah mulai melupakan Min Hyo Jin, dan menyadari keberadaan cinta lain di dekatku.

“Kau kenapa hyeong? Jangan katakan kalau pria itu adalah dirimu?” Seok Hoon menatapku dengan tatapan curiga, dan tak berapa lama ia menemukan jawabannya sendiri, “Astaga, pria itu benar dirimu.”

*          *          *

“Kau mau kemana dengan pakaian seperti itu?” aku langsung bertanya, ketika melihat penampilan Kim Eun Joo yang terlihat lebih rapih dan cantik dari biasanya.

“Aku ada janji dengan seseorang sore nanti.” Jawabnya “Oh iya, di hari pertamamu mulai bekerja sabtu nanti, kau akan bernyanyi dalam sebuah acara drama award, di sana kau akan menyanyikan dua single soundtrack.”

            Kim Eun Joo terus fokus pada layar iPad yang di pegangnya, sementara ia terus bicara.

“Besoknya kau harus melakukan pemotretan untuk produk pasta gigi yang kau iklankan… Aku tidak pernah mengira jadwalmu akan begini padat setelah satu minggu kau beristirahat, kau bahkan harus kembali ke Jepang.”

“Dengan siapa kau ada janji sore ini?” mengabaikan rentetan jadwal yang dirinci Kim Eun Joo, aku langsung melontarkan pertanyaan yang sedari tadi sudah berada di ujung mulutku.

            Kim Eun Joo menatap heran ke arahku, ia melepaskan kaca mata yang di pakainya, sepenuhnya fokus menatapku.

“Mengapa kau ingin tahu dengan siapa aku membuat janji sore nanti?” dahi Kim Eun Joo mengerut, sementara matanya masih tertuju lurus padaku.

            Tatapan mata itu membuatku salah tingkah sekarang, aku harus mengatakan apa untuk menjawab Kim Eun Joo.

“Aku hanya ingin tahu, itu saja.” Jawabku salah tingkah.

“Oh begitu…” Kim Eun Joo melepaskan tatapannya dariku dan kembali menatap layar iPad, “Aku hanya akan bertemu dengan seseorang yang menurut pendapat ibuku sangat serasi untuk aku jadikan suami.”

“Kau akan pergi ke sebuah perjodohan.” Sergahku, padahal aku sudah tahu Kim Eun Joo akan pergi kemana sore ini, tanggal di balik foto itu, jatuh pada hari ini.

            Kim Eun Joo mengangguk santai, ia bahkan tidak melihat wajahku saat mengiyakannya, seolah masalah ini hanya masalah sepele untuknya.

“Kau tidak pernah suka dijodohkan, bukan?”

“Aku memang tidak pernah suka dijodohkan.”

“Lalu mengapa kau sekarang mau.” Seperti orang bodoh aku terus bicara.

“Kali ini mungkin aku harus mempertimbangkan banyak hal.” Kim Eun Joo berkata datar.

“Mempertimbangkan apa?”

“Usiaku sudah tidak muda lagi, dan dengan kesibukan yang selalu mengelilingiku aku merasa tidak punya kesempatan untuk mencari laki-laki yang cocok untuk aku nikahi. Maka dari itu aku merasa tidak ada salahnya bertemu dengan laki-laki yang ibuku rekomendasikan padaku.”

            Kim Eun Joo tersenyum kecil selesai menjelaskan semuanya, aku tidak suka melihat senyum di wajahnya kali ini, aku tidak suka dengan caranya berpikir kali ini.

“Aku tidak akan mengijinkanmu untuk pergi.” Kalimat itu akhirnya keluar dari mulutku.

“Mengapa kau tidak mengijinkan, tidak ada yang harus aku kerjakan untukmu hari ini dan aku akan memastikan apa yang harus aku kerjakan terselesaikan sebelum aku pergi.”

            Kim Eun Joo salah, gadis itu tidak mengerti apa yang aku maksud, ia tidak memahami perasaan apa yang aku rasakan padanya sekarang.

“Kau tetap tidak boleh pergi, kau harus menemaniku sore ini.” Kataku, ada ketegasan mengalir dalam kalimatku.

            Kim Eun Joo tertawa pelan, seolah apa yang baru saja aku katakan hanya lelucon.

“Berhentilah bersikap seperti anak kecil Kim Hyung Soo… Jika kau memang membutuhkan teman bermain sore nanti, aku akan menghubungi asisten junior itu untuk menemanimu, kalian bisa bermain bersama sementara aku tidak ada.”

            Untuk pertama kalinya dalam hidup ini aku tidak suka cara Kim Eun Joo tersenyum padaku, senyuman itu terkesan begitu melecehkan, begitu meremehkan. Ada kemarahan sekilas muncul di benakku. Gadis ini sudah membuatku merasa pusing berhari-hari dengan pergulatan perasaan aneh yang terasa setiap kali aku bersamanya, dan lihat sekarang apa yang dilakukannya, ia malah menganggap seolah aku ini artis manja.

“Baiklah… Aku harus kembali ke kantor, aku akan kembali besok untuk membawakan beberapa setelan yang akan kau pakai dalam acara drama award itu.” Kata Kim Eun Joo seraya memasukkan iPad ke dalam tasnya, “Kau tidak perlu khawatir, aku akan memastikan asisten junior itu menemuimu sore ini, agar kau tidak kesepian di sini… sampai jumpa besok kalau begitu.”

            Kim Eun Joo berjalan keluar kamar apartemenku, setelah mengusap pelan rambutku layaknya ia itu kakak perempuanku. Kali ini aku benci cara Eun Joo melakukannya, padahal biasanya aku selalu merasa nyaman jika ia mengusap rambutku. Ingin rasanya aku melempar sesuatu untuk melampiaskan kekesalanku saat ini, sayangnya tidak ada gelas kosong atau apa pun yang layak dilempar di kamarku sekarang, menjadikanku hanya bisa mendesah keras, sebelum menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur dengan emosi yang tertahan dalam diriku.

            Kesalahan besar memang merubah perasaanku pada gadis itu, seharusnya ini tidak pernah terjadi. Kau terlalu bodoh Kim Hyung Soo, kau terlalu bodoh untuk sekali lagi mencoba tersakiti karena cinta.

*          *          *

            Aku mengangkat cangkir teh yang baru saja tersaji di hadapanku, sekedar untuk mengatasi kecangguan yang aku rasakan. Laki-laki itu terkesan sangat sopan, wajahnya tampan, walaupun tidak setampan Kim Hyung Soo. Ia seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit besar di Seoul, tubuhnya terlihat bersih dan terawat sekali, menunjukkan ia sangat rajin berolahraga dan mandi. Ia berpenampilan sangat rapih, kemeja licin dengan dasi mahal yang menghiasi kerah kemejanya, sepatu kulit yang dipakainya bahkan bisa dipakai untuk berkaca saking mengkilapnya. Secara keseluruhan pria ini tidak kalah menarik dari Kim Hyung Soo yang merupakan penyanyi terkenal. Sama sekali bukan teman kencan yang buruk, sangat baik malah.

“Aku senang kau mau menemuiku hari ini.” Pria bernama Lee Seung Hun itu berkata dengan suaranya yang berwibawa, membuatku berpikir jika ia bernyanyi mungkin ia akan lebih bagus dari Kim Hyung Soo. Ya Tuhan mengapa aku selalu mengingat Kim Hyung Soo. “Senang bertemu denganmu hari ini.”

“Senang bertemu denganmu juga Seung Hun ssi.” Kataku, tersenyum sopan.

            Percakapan antara aku dan Lee Seung Hun terjalin sangat baik, banyak kesamaan yang kami temukan dalam diri kami, jujur aku bisa mengatakan bahwa laki-laki yang dijodohkan denganku saat ini cukup menarik. Ia tampan, berpenampilan baik dan bermasa depan cerah, jika dipikir-pikir dia adalah calon terbaik untuk aku jadikan suami, tapi entah mengapa masih ada yang mengganggu diriku. Kim Hyung Soo, andai aku bisa mendorong keluar sosok itu dari pikiranku sekarang ini.

*          *          *

            Ini memalukan, sangat memalukan. Aku tidak percaya sekarang aku duduk di sini, mengamati dari kejauhan kencan buta yang dilakukan Kim Eun Joo, seharusnya aku mengikat diriku sendiri, agar tubuhku tidak mengikuti perintah otakku untuk datang ke tempat ini. Baiklah, aku terpaksa mengakui jika sekarang aku berada di salah satu meja di restoran tempat kencan buta Kim Eun Joo dilakukan, dengan segala pemikiran gila yang terus menggangguku aku membenarkan keberadaanku di sini untuk memata-matai pertemuan mereka.

            Aku membetulkan posisi topi dan kaca mata hitam yang aku pakai, akan menjadi hal yang tidak menyenangkan jika ada yang mengenaliku dan tahu keberadaanku di tempat ini untuk mengawasi sebuah kencan buta. Aku duduk beberapa meja di belakang meja Kim Eun Joo dan pasangan kencannya, membuatku dapat melihat dengan jelas wajah laki-laki itu dan apa yang mereka lakukan.

“Dia terlihat seperti pekerja asuransi.” Aku berkomentar sinis untuk menilai penampilan laki-laki itu.

            Ternyata berada di tempat ini untuk melihat semuanya dari kejauhan bukan pilihan yang baik. Melihat mereka saling bicara, tertawa, membuatku rasanya ini memecahkan sesuatu seperti sebelumnya. Aku meremas kertas kecil yang aku temukan di atas meja saat sekali lagi aku melihat Kim Eun Joo tertawa, entah apa yang dikatakan laki-laki itu hingga bisa membuat Kim Eun Joo tertawa begitu lepas dan terlihat gembira. Semenyenangkan itu kah laki-laki yang sedang bersamanya, hingga ia tertawa dan tidak berhenti mengguratkan senyum di wajahnya. Ya Tuhan, aku hampir mati kesal melihat ini semua, ada yang memanas dalam diriku ketika melihat keakraban mereka, rasa cemburu kah ini?

            Habis sudah rasanya sisa pengendalian diriku, tawa laki-laki itu yang terdengar samar, namun menusuk telingaku, seperti mengusik ego-ku. Aku bangun dari kursi dudukku, tidak peduli lagi ada yang mengenaliku atau tidak di tempat itu. tanpa banyak berpikir, aku merasakan kakiku sudah melangkah ke arah meja Kim Eun Joo dan pasangan kencan butanya.

“Ikut aku!” aku berkata lugas sesaat setelah aku sampai di meja mereka.

            Baik Kim Eun Joo dan pasangan kencan butanya menatapku dengan bingung, seolah mereka tidak pernah menyangka akan terganggu oleh kehadiranku.

“Dia siapa? Apa kau mengenalnya Eun Joo ssi?” laki-laki berkacamata itu bertanya bingung, matanya tetap lurus menatapku.

“Tentu saja dia mengenalku, kau akan terkesima jika kau tahu seberapa dekatnya kami.” Aku membelalakkan mataku saat mengeluarkan kalimat itu, laki-laki itu sedikit cemberut, masih ada kebingungan di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan? Untuk apa kau di sini?” Kim Eun Joo mendesih marah, ia sudah bangun dari duduknya dan berdiri tepat di sampingku, “Jika kau menganggap ini lucu, cepat berhenti dan pergi.”

            Aku menoleh, mata Kim Eun Joo langsung memicing penuh kemarahan padaku.

“Aku akan pergi jika kau ikut pergi bersamaku.” Kataku tegas.

“Jangan main-main Kim Hyung Soo, ini bukan saatnya kau bertingkah seperti anak kecil.”

            Beberapa tamu restoran sudah memperhatikan kami, beberapa dari mereka terdengar bergumam, ‘Bukan kah itu K.Will, penyanyi ballad itu.’ Kim Eun Joo sepertinya menyadari sudah banyak yang memperhatikan kami dan tentu ini tidak baik untukku. Akhirnya Kim Eun Joo menyerah, ia menundukkan tubuhnya sedikit, agar bisa berbicara dengan nada pelan pada laki-laki yang bersamanya.

“Aku harus pergi sekarang, nanti aku akan meneleponmu untuk menjelaskan ini semua… Maafkan aku Seung Hun ssi.”

            Meninggalkan laki-laki itu yang hanya terdiam di tengah kebingungan yang melandanya. Kim Eun Joo menarik tanganku keluar restoran.

“Apa kau sudah gila Kim Hyung Soo? Apa yang membuatmu muncul di sini sekarang?” Kim Eun Joo bertanya nyaris berteriak, saat kami sudah masuk ke dalam mobilku untuk bicara.

            Jujur, ini untuk pertama kalinya aku melihat Kim Eun Joo begitu marah, ternyata sangat mengerikan, wajahnya terlihat memerah, nafasnya naik turun penuh emosi.

“Aku sudah mengatakan padamu aku tidak mengijinkanmu datang ke kencan buta itu.”

            Kim Eun Joo menarik ujung bibirnya, untuk membentuk sebuah seringai tidak percaya.

“Apa yang ada bersamaku sekarang adalah Kim Hyung Soo yang aku kenal selama ini, atau ada roh orang lain yang masuk ke dalam tubuhnya.”

            Putus asa rasanya menghadapi rententan kalimat yang dilontarkan Kim Eun Joo padaku, mungkin ini saat dimana aku harus mengatakan padanya kalau aku melakukan ini semua karena aku memiliki perasaan lain untuknya.

“Aku melakukan ini semua karena aku…” Mulutku berhenti mengeluarkan kata-kata, sesuatu dalam diriku seperti menahan kalimat yang ingin aku katakan pada Eun Joo.

“Karena apa… kau melakukan ini karena apa?” Tanya Kim Eun Joo dengan nada keras.

“Karena… Karena aku tidak ingin kau berhenti menjadi asistenku.” Aku benar-benar tidak percaya kalimat itu yang keluar dari mulut bodoh ini.

“Berhenti menjadi asistenmu?”dahi Kim Eun Joo mengerut semakin dalam. “Mengapa kau mengira aku akan berhenti menjadi asistenmu.”

“Ya… Jika semua berjalan baik antara dirimu dan laki-laki itu, kau akan menikah dengannya, dan setelah kau menikah, aku menyangka kau akan meninggalkanku.”

            Ini memang bukan penjelasan yang aku rencanakan akan terkatakan, demi Tuhan tadinya aku ingin mengakui perasaanku padanya.

“Mungkin kau benar.” Kim Eun Joo tiba-tiba berkata datar, seakan emosinya berhasil teredam dalam sekejap. “Aku mungkin akan berhenti bekerja menjadi asistenmu setelah aku menikah nanti. Tidak akan ada suami yang akan mengijinkan istrinya berada bersama laki-laki lain selama 24 jam walaupun untuk alasan pekerjaan.”

“Jadi kau akan meninggalkanku?”

            Aku mengarahkan mataku pada mata gadis itu, ada yang perlu aku lihat dari sorot matanya.

“Kau tidak mungkin berharap selamanya aku akan selalu bersamamu bukan? Akan tiba saatnya kita membangun kehidupan masing-masing dengan pasangan kita nantinya. Kau akan berhenti mengeluh tentang kekasihmu, kau akan berhenti marah karena mereka, rasa sakitmu akan pulih nanti dan kau akan menemukan kembali cintamu. Disaat itu tiba, kau mungkin tidak akan membutuhkanku lagi.”

            Aku hanya menunduk mendengar semua perkataan Kim Eun Joo, kata-kata itu seperti menekan punggungku. Ini kah saatnya aku melepaskan Kim Eun Joo, dan membiarkannya mencari kebahagian tanpa harus terbebani oleh keberadaanku.

“Apa kau begitu ingin terlepas dariku?” kalimat tanya itu keluar dari mulut keringku.

“Aku hanya ingin semua berjalan baik, baik untukmu dan baik untukku.” Jawab Kim Eun Joo, ada senyum samar di wajahnya, senyum yang membersitkan keperihan untukku.

*          *          *

            Aku tahu dia tidak akan datang, aku tahu itu. Beberapa hari ini terjadi banyak sekali perubahan dalam kehidupanku, terutama dalam hubungan kerjaku dengan Kim Eun Joo. Setelah apa yang terjadi dalam acara kencan buta itu, Kim Eun Joo memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai asistenku, ia lebih memilih bekerja di belakang meja kantor kami. Aku seharusnya tahu ini akan terjadi, Kim Eun Joo jelas mengatakan ia akan meninggalkanku untuk membangun kehidupan masa depannya, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini ia menarik mundur dirinya.

“Apa kau yakin Asisten Kim tidak akan pergi bersama kita?” aku kembali bertanya pada asisten junior yang menggantikan posisi Kim Eun Joo beberapa hari ini.

“Eun Joo seonbanim mengatakan ia tidak dapat ikut ke Jepang bersama kita, dia bilang ada masalah pribadi yang harus dia urusi. Aku rasa kabar perjodohannya dengan seorang dokter bedah itu berjalan baik, aku rasa sebentar lagi akan ada sebuah pernikahan.”

            Asisten junior bernama Choi Hyun Woo itu mengatakan semuanya dengan santai, seolah dia tidak tahu dampak mengganggu apa yang ditimbulkan oleh kata-katanya. Aku tahu sudah saatnya bagiku untuk menerima bahwa Kim Eun Joo sudah memutuskan untuk menggapai masa depannya dengan menjauh dari sisiku, semestinya aku dapat menerima itu, hanya saja ada yang terasa salah dari ini semua, aku merasa semua tidak seharusnya berjalan seperti ini.

“Aku rasa Eun Joo seonbanim akan benar-benar bekerja di belakang meja setelah menikah nanti, dia bahkan sudah memintaku untuk menjagamu menggantikannya. Kau lihat buku ini?”

            Choi Hyun Woo menggerakkan buku, seperti buku agenda bersampul hitam, yang sedari tadi dipegangnya.

“Eun Joo seonbanim memberikan buku ini padaku, isinya semua tentang dirimu. Mulai dari kau yang tidak suka minum susu, sampai kau yang jika mandi terkadang suka lupa membawa handuk atau pakaian ganti, semua tertulis lengkap di sini. Aku memang belum membaca semuanya, tapi aku yakin sekali semua tentangmu sudah ada dalam buku ini.”

            Tanpa banyak pertanyaan aku langsung meraih buku di pegangan Choi Hyun Woo, dengan segera membuka isinya. Buku itu berisikan tulisan tangan Kim Eun Joo yang aku kenali. Benar yang dikatakan Hyun Woo, buku ini berisikan semua tentang diriku, semua hal tentangku, mulai dari apa saja yang aku suka dan apa saja yang tidak aku sukai, semua tertulis dengan sangat detail dalam buku ini. Dalam hidupku aku tidak pernah membayangkan akan ada yang begitu mengenal diriku seperti orang menulis di buku ini, dia bahkan tahu, jika ada telur rebus di atas ramenku, aku hanya akan memakan bagian tengahnya saja dan membuang bagian luarnya.

            Aku terus membuka lembar-lembar buku yang ditulis Kim Eun Joo tentangku, aku hanya membacanya selewat saja, hingga aku sampai pada lembar terakhir buku itu. rentetan kalimat di paragrap terakhir yang ditulis Kim Eun Joo tentangku menarik perhatianku, kalimat-kalimat yang semestinya aku baca sejak dulu.

“Jika memiliki perasaan apa pun padanya, entah itu kau marah, kau senang, katakan langsung padanya. Jangan pernah berharap dia akan menyadari apa yang kau rasakan padanya tanpa kau mengatakannya… Kim Hyung Soo bukan orang yang peka, jadi jangan buat dirimu menjadi bodoh seperti aku yang bertahun-tahun menunggu Kim Hyung Soo untuk menyadari apa yang aku rasakan padanya.”

 

“Aku kurang mengerti kalimat terakhir yang dituliskan Eun Joo seonbanim di buku itu… Apa itu berarti, jika aku sedang marah padamu, aku boleh memarahimu secara langsung hyeong?”

            Choi Hyun Woo melirik lugu ke arah halaman buku yang sedang aku baca, entah dia terlalu lugu atau pikirannya terlalu dangkal untuk mengartikan kalimat itu, aku tidak peduli. Yang jelas aku tahu dengan baik arti di balik kalimat yang ditulis Kim Eun Joo… Ya, aku tahu.

“Kau mau kemana hyeong?” Choi Hyun Woo segera bertanya saat melihatku tiba-tiba menutup buku dan bangun dari kursi di bandara.

“Aku harus pergi ke suatu tempat.” Kataku lugas.

“Kemana? Sebentar lagi pesawat kita akan berangkat, manager Yoon sedang mengurus semuanya di dalam sana.”

“Aku tidak akan lama. Sampaikan pada manager Yoon jika aku tidak ada di sini saat pesawat lepas landas nanti, aku akan menyusul kalian dengan penerbangan berikutnya.”

Hyeoooong.”

            Aku tidak punya banyak waktu untuk menghiraukan Choi Hyun Woo yang menahanku, yang ada di kepalaku saat ini hanya bagaimana caranya aku segera menemukan Kim Eun Joo. Aku tidak ingin jadi keledai bodoh yang jatuh ke lubang yang sama dua kali, dulu aku sudah pernah membiarkan seseorang yang aku cintai berada di altar bersama dengan orang lain, dan aku sangat tahu betapa menyakitkan itu. Sekarang, demi Tuhan aku tidak ingin itu terjadi lagi, tidak di saat aku tahu Kim Eun Joo juga mengharapkan perasaan tulusku.

*          *          *

            Aku menghela nafas panjang, entah sejak kapan menghela nafas seperti ini menjadi kebiasaanku, langkah kaki lelah ini bergerak membawaku ke arah mobil yang aku parkir pagi tadi lantai basement kantor. Seharusnya aku mempercepat langkahku, aku sudah hampir terlambat menghadiri pertemuan keluarga antara keluargaku dan keluarga Lee Seung Hun. Setelah kencan buta itu, hubungan kami memang berjalan baik, Lee Seung Hun bahkan menyarankan agar kami segera bertunangan dan menikah, dan seperti orang bodoh aku mengiyakan semua sarannya.

 Seperti yang aku katakan di hari Kim Hyung Soo datang ke acara perjodohan itu, aku mulai menarik diriku dari sosok Kim Hyung Soo, aku berusaha tidak terlibat lagi dalam kehidupannya. Ini aku lakukan bukan karena aku ingin membangun masa depan seperti yang aku katakan padanya, ini semata-mata karena aku lelah dia tidak pernah menyadari apa yang aku rasa untuknya.

            Langkahku ini masih terasa berat, ingin rasanya aku tetap berada dalam ruang kerjaku, hanya untuk diam dan memikirkan banyak hal, ketimbang aku harus berada di tengah banyak orang yang merencanakan masa depanku. Kim Hyung Soo, mungkin laki-laki itu sudah tidak berada di Korea sekarang ini, aku yakin sekali pesawat yang dia tumpangi sudah membawanya menuju Jepang.

            Sekali lagi aku menghela nafas panjang, udara musim dingin terasa begitu menyesap masuk ke rongga penafasanku. Aku merindukan Kim Hyung Soo, aku jelas merasakan itu, dan sialnya kerinduan ini pelan-pelan menyesakkan dadaku. Aku tidak pernah tahu kalau akan begini sulit melepaskan diri dan menarik mundur diriku dari kehidupannya. Terlalu banyak hari yang aku habiskan bersamanya.

“Ya Tuhan, ini terlalu sulit.” Ratapku dalam hati.

             Aku mendongakan kepalaku, menatap langit-langit usang basement, berharap aku bisa mengontrol semua perasaan yang memenuhi benakku, aku berharap aku dapat melupakan Kim Hyung Soo.

            Aku menghentikan langkahku, terkejut saat sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di hadapanku. Aku hanya menatap lurus ke arah mobil di depanku penuh kebingungan, tercengang saat melihat Kim Hyung Soo keluar dari arah kursi pengemudi. Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, aku terlalu terkejut sampai lupa cara untuk bicara.

            Ia hanya menatapku, dengan tatapan tajam yang teramat dalam, tatapan yang entah ia lakukan dengan maksud apa. Kim Hyung Soo mulai bergerak pelan menghampiriku, di tengah kebingungan yang aku rasakan, aku hanya berharap kakiku ini mau bergerak mundur untuk menghindari Kim Hyung Soo yang mendekat, sayang lagi-lagi mereka membantah perintahku, hingga membuatku hanya terpaku diam di tempatku semula berpijak.

            Tatapan mata itu semakin terasa menusuk batinku saat ia hanya berjarak beberapa senti di hadapanku. Aku menahan nafas, ya Tuhan, apa yang sedang dilakukan Kim Hyung Soo sekarang ini, apa yang diinginkannya?

“Apa yang kau… mengapa kau…”

            Aku tidak berhasil melanjutkan kata-kataku. Karena Kim Hyung Soo secara mengejutkan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Seluruh tubuhku terasa menegang dalam rengkuhan tangan Kim Hyung Soo. Apa yang terjadi, mengapa Kim Hyung Soo memelukku seperti ini?

“Kim Hyung Soo.. apa yang kau lakukan, lepaskan aku.” Aku kembali menemukan suaraku, tubuhku bergerak, mencoba untuk melepaskan diri dari pelukannya. Namun Kim Hyung Soo menolak upayaku, ia tetap memeluk tubuhku dengan sangat erat.

“Aku tidak akan melepaskanmu sekarang ini. Aku tidak akan begitu bodoh melepaskan cintaku untuk yang kedua kalinya.”

            Tenggorokan seperti tercekat sesuatu saat Kim Hyung Soo mengatakan itu semua.

“Maafkan aku, membuatmu menunggu begitu lama hingga aku bisa menyadari semuanya. Maafkan aku Kim Eun Joo, selama ini aku sudah membuatmu begitu lelah dengan berada di sisiku, aku sudah menyakitimu selama ini. Maafkan aku.”

            Ada yang terasa memanas di kelopak mataku, sesuatu yang menggenang, air mata kah itu?

“Aku membutuhkan dirimu, aku tidak mungkin bisa tanpamu, jangan pernah tinggalkan aku.”

            Kim Hyung Soo melepaskan pelukannya perlahan. Matanya tetap tearah lurus padaku, membuatnya dapat melihat dengan jelas setetes air mata yang tanpa aba-aba turun jatuh ke pipiku.

“Aku mencintaimu Kim Eun Joo.”

            Luruh sudah upayaku untuk menahan air mata yang semula coba aku tahan, entah mengapa aku harus menangis, karena kelegaan kah? Kebahagian kah? Aku tidak tahu, semua rasa itu seperti bercampur dalam diriku.

“Berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku.”

            Layaknya orang bodoh, di tengah air mata yang mulai mengaburkan pandanganku, aku hanya mengangguk untuk menanggapi permintaan Kim Hyung Soo. Kim Hyung Soo tersenyum lembut, tangannya bergerak mendekati wajahku, ia mengusap perlahan air mata di pipiku.

“Terima kasih Kim Eun Joo.” Kata Kim Hyung Soo lirih, sebelum wajahnya mendekat dan aku merasakan sentuhan lembut bibirnya di keningku.

            Aku tersenyum samar, seiring kelegaan, kenyamanan yang aku rasakan. Tangan Kim Hyung Soo menggenggam hangat tanganku sekarang ini, hingga aku dapat merasakan perasaan tulusnya padaku. Aku tidak pernah menyesal harus melewati banyak hal untuk menggapai dan merasakan apa itu cinta, karena keindahan cinta memulihkan segalanya.

02-0264 edit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s