Because I Like You… (Fan Fiction)

Standard

Because I Like You… (Fan Fiction)

4 edit

“Aku suka padanya.” Itu yang ada di kepalaku ketika aku melihatnya untuk pertama kalinya. Dia berdiri di balkon apartemennya, membiarkan angin malam kota Seoul menerpa rambut hitam sebahunya yang tergerai indah di bahunya. Ia tidak mengenalku, karena kami memang belum pernah berkenalan langsung. Gadis baru yang menempati apartemen sebelahku itu bernama Choi Hana, itu yang dikatakan salah seorang ahjumma yang biasanya menjadi sumber informasi di sekitaran apartemen ini, biasanya ia akan memberikan informasi tanpa lawan bicaranya meminta itu.

Lingkungan apartemen ini memang bukan lingkungan yang akrab, aku jarang sekali bertemu dengan penyewa apartemen yang lain, begitu pun sebaliknya, kesibukan masing-masing penyewa yang kebanyakan para pekerja muda, menjadikan kami jarang sekali bersosialisasi. Sesuatu yang tidak pernah menjadi masalah untukku, tapi belakangan aku menyesalkan keadaan itu, padahal sebelumnya aku termasuk orang yang enggan bersosialisasi, sama seperti kaum modern yang tinggal di gedung apartemen ini.

            Malam ini tanpa diperintah kakiku melangkah ke balkon apartemenku, berharap gadis itu akan berdiri di sana seperti malam sebelumnya, aku mendesah pelan, saat aku tidak menemukan siapa pun di balkon apartemen gadis itu, lampu apartemennya pun sepertinya belum menyala. Kemana dia sampai selarut ini? Pertanyaan itu langsung melintas di benakku, layaknya aku ini seseorang yang mengenalnya, dan mengkhawatirkannya, khawatir? Konyol sekali kalau sekarang aku mengatakan jika aku mengkhawatirkan seseorang yang aku kenal pun tidak.

“Lee Seok Hoon, sedang apa kau di sana?”

            Aku menoleh ke arah dalam aparetemenku, aku lupa pulang bersama Young Min hyeong untuk menyelesaikan beberapa bait lirik dari lagu untuk album baruku. Sekilas aku kembali melirik ke arah balkon apartemen sebelah, tersenyum saat merasa diriku ini memang benar-benar konyol.

*          *          *

            Seperti biasa aku keluar dari apartemen ini pagi-pagi sekali, jadwal rekaman dan menjadi bintang tamu dibeberapa acara televisi membuatku harus memulai hariku pagi-pagi sekali. Terkadang melelahkan terlebih sekarang ini aku melakukannya sendiri, tanpa kedua teman terbaikku, Kim Jin Ho dan Kim Yong Jun. Kami memutuskan untuk vakum beberapa bulan yang lalu, masalah internal di management kami terdahulu dan Kim Yong Jun yang memutuskan menjalani wajib militer setelah masalah yang dihadapinya, menjadi beberapa alasan kami untuk mengambil keputusan ini. Maka disinilah aku, bergabung dengan management baruku untuk kembali merintis karir soloku, tanpa SG Wannabe.

Annyeonghaseyo…

            Aku menoleh ketika mendengar ada yang menyapa, tanganku yang masih memegang pegangan pintu apartemen tergelincir, sementara mulutku mungkin sekarang ini sedang terbuka saking terkejutnya aku ketika melihat siapa yang menyapaku pagi ini.

“Oh annyeonghaseyo…” masih setengah terkejut aku membalas sapaannya.

            Dia tersenyum begitu manis, aku tidak menyangka ia akan terlihat begitu cantik pagi ini, sangat cantik dengan kemeja putih, mantel cantik berwarna merah muda, rambut dan riasan yang sempurna, aku tidak tahu dia bangun sejak jam berapa untuk menyiapkan diri sampai secantik itu. Aku kemudian memandang diriku sendiri, menyesalkan mengapa aku hanya mencuci mukaku saat keluar tadi, mantel yang aku gunakan saat ini  adalah mantel yang aku gunakan kemaren, dan dimana kaca mataku, mengapa aku tidak memakainya?… Ya Tuhan, aku pasti terlihat buruk di matanya sekarang ini.

“Aku baru pindah beberapa hari yang lalu ke apatemen sebelah, maaf aku belum sempat menyapa para tetangga.” Suaranya membuyarkan pikiranku, aku mengerjapkan pandanganku, tersenyum layaknya orang bodoh. “Senang sekali bisa tidak sengaja bertemu denganmu sepagi ini… Aku Choi Hana, mohon petunjuknya.”

            Gadis itu membungkuk singkat, dengan canggung aku kembali membungkuk, tanpa sadar aku menggerakkan tanganku ke arah rambut, tadi itu aku bahkan tidak menyisir rambutku.

“Senang bertemu denganmu juga, aku Lee Seok Hoon.” Dengan susah payah aku menormalkan nada bicaraku agar tidak terkesan canggung dan gugup di hadapannya, tanpa perintah yang jelas aku merasakan tanganku terulur ke arahnya, apa sekarang aku ingin menjabat tangan gadis itu?

“Mohon bimbingannya Seok Hoon ssi.” Dia menyambut tanganku, menjabat tanganku dengan tangan halusnya. Lagi-lagi aku hanya bisa membungkuk sopan, mengapa aku hanya bisa melakukan itu, segugup itu kah aku di hadapan gadis ini.

“Apa kau akan berangkat bekerja Seok Hoon ssi?” Choi Hana bertanya. Mengamatiku yang berdiri dengan tas ransel dipunggungku.

“Iya aku akan pergi bekerja.”

“Kau pasti salah satu staf junior di kantormu, sama sepertiku. Aku harus berangkat sepagi ini karena aku staf junior yang harus menyiapkan rapat penting di kantorku.”

            Staf junior, aku tertegun. Dia mengira aku salah satu staf junior sebuah perusahaan. Apa benar ia tidak mengenaliku sebagai seorang penyanyi? Ini saat dimana aku merasa gagal membangun karirku.

“Kalau begitu aku harus segera pergi Seok Hoon ssi, aku harap kita bisa sering bertemu dan bicara. Senang bisa memiliki tetangga sepertimu.” Gadis itu tersenyum lagi. “Sampai jumpa.”

            Aku hanya tersenyum kecil selesai membalas bungkukan sopan darinya. Mataku masih mengikuti gerak gadis itu yang berjalan terburu-buru menjauh dari tempatku berdiri. Pertemuan yang tak terduga tapi sangat menyenangkan, entah wajar atau tidak, aku berharap setiap pagi akan ada kejadian seperti ini.

*          *          *

            Aku berbaring dengan tubuh lurus di atas sofa panjang yang sengaja aku letakkan di depan tv ruang tengah. Lelah sekali rasanya hari ini, berbagai hal berkaitan dengan persiapan perilisan mini album keduaku yang rencananya akan di rilis, begitu melelahkan. Banyak hal yang harus disempurnakan sebelum album itu benar-benar di rilis dua minggu mendatang.

            Aku menoleh melihat jam dinding yang tertempel di atas tempat tidurku. Masih jam sembilan malam, tapi kelelahan ini membuat mataku sulit sekali untuk tidak terpejam lebih awal. Suara bel apartemenku membuka lebar mataku yang baru setengah terpejam. Dengan setengah malas aku menyeret kakiku mendekati pintu apartemen, tanpa melihat siapa yang datang terlebih dahulu karena yakin Ahn Young Min yang datang, aku langsung berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu untuknya. Demi Tuhan aku menyesalinya, karena yang berdiri di depan pintuku sekarang ini, dan yang melihat rambut acak-acakanku bukan Ahn Young Min.

“Hana ssi..” Kataku setengah terkejut, melihat Choi Hana berdiri di depan pintu.

“Maaf mengganggu Seok Hoon ssi.” Gadis itu mulai bicara, “Aku tidak tahu kalau kau sudah tidur.”

            Aku langsung merapikan rambutku yang pastinya acak-acakan, aku pasti terlihat seperti orang yang baru saja bergulung dengan selimut. Mengapa aku selalu bertemu dengan gadis ini dengan penampilan yang memalukan.

“Aku belum tidur, aku sedang menonton TV tadi… Ada apa kau mencariku Hana ssi?

“Boleh aku minta sedikit pertolonganmu.” Katanya sedikit ragu.

“Tentu saja, aku akan menolongmu, ada apa?”

“Aku baru kembali, dan lampu ruang tengahku mati, bisa tolong aku untuk menggantinya, aku tidak bisa melakukannya.”

            Pantas saja gadis itu masih memakai pakaian kerjanya, masih serapih pagi tadi, rupanya dia baru kembali.

“Aku akan membantumu.” Kataku akhirnya, senyum lebar menghiasi wajah Choi Hana, sangat cantik. Kalau hanya dengan membantunya mengganti lampu, aku mau membantunya mengganti lampu setiap hari agar aku bisa mendapat senyum itu darinya… Demi Tuhan, ini memang konyol.

“Selesai.” Kataku seraya turun dari tangga selesai mengganti lampu ruang tengah yang semula gelap.

“Terima kasih Seok Hoon ssi kau sangat membantu.” Kata gadis itu, “Duduklah aku akan membuatkan teh untukmu.”

            Aku mengangguk, melangkah ke arah sofa di ruang tengah, sementara Choi Hana beranjak ke dapur untuk membuat teh. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling apartemen Choi Hana, apartemen ini tidak terlalu rapih, beberapa potong pakaian tergeletak tidak beraturan di berbagai sudut apartemen, kardus-kardus barang pun masih menumpuk. Rupanya Choi Hana bukan tipe wanita yang mengilai kerapihan. Aku masih menatap ke sekeliling apartemen, tatapan berkelilingku terhenti pada meja kecil yang terletak di samping sofa yang aku duduki, ada beberapa figura yang terpajang di atas meja itu, figura yang membingkai foto Choi Hana yang sedang menggandeng tangan dan menyandarkan kepalanya ke bahu laki-laki muda yang mungkin sebaya denganku.

“Silakan tehnya Seok Hoon ssi.”

            Aku segera menoleh, tersenyum canggung mendapati Choi Hana sudah duduk di sampingku setelah meletakan cangkir teh untuk kami berdua di atas meja.

“Rumahku masih sangat berantakan, aku belum sempat membereskan semuanya.”

            Pernyataan Choi Hana tertangkap sama-samar saja di kepalaku, pikiranku masih dipenuhi pertanyaan siapa laki-laki yang berada di foto bersamanya, mungkinkah…

“Apa kau tinggal bersama seseorang di sini?” Aku tidak bisa untuk tidak bertanya.

“Oh itu.” Choi Hana mengerti maksudku, karena sejak bertanya aku selalu menatap ke arah figura itu. “Aku tinggal sendiri di sini.”

            Aku merasakan sedikit kelegaan tak terjelaskan terasa, tapi itu hanya sebentar karena Choi Hana kembali bicara.

“Orang dalam foto itu tunanganku, ia masih berada di Amerika.”

“Tunanganmu?” Suara yang keluar dari mulutku terasa hambar, karena tenggorokanku terlalu kering untuk mengucapkannya.

“Iya.. sejak lima tahun lalu kami kuliah dan menetap di sana. Aku kembali ke Korea untuk bekerja, sementara dia masih di sana untuk mengurus bisnisnya.”

“Dia tidak ikut bersama dengamu kembali ke Korea?” Aku kembali bertanya, entah untuk tujuan apa.

“Dia terlalu sibuk bekerja.” Jawab Choi Hana singkat, aku melihat wajahnya berubah murung, apa hubungan mereka tidak berjalan baik, atau hanya aku saja yang berharap demikian. “Sudahlah sebaiknya kita tidak membicarakan masalah ini sekarang.”

            Aku mengangguk setuju, aku juga tidak begitu suka dengan topik tentang laki-laki yang menjadi tunangan Choi Hana. Kami meminum teh ditemani cookies cokelat yang disuguhkan Choi Hana. Sambil menonton TV kami mengobrol, obrolan kami berjalan dengan akrab, gadis itu menceritakan banyak hal tentang dirinya, mulai dari tentang ia menetap selama betahun untuk bersekolah di Amerika, gadis itu bahkan mengatakan saat pertama kali kembali ke Korea ia sempat kebingungan dengan kondisi Korea yang sudah banyak berubah.

            Aku suka dengan caranya bicara, aku suka memperhatikan ekspresi wajahnya ketika mengungkapkan sesuatu, aku suka cara duduknya, cara ia menyibakkan rambut lurus sebahunya. Anehnya aku suka apa pun yang di lakukan, dan ini jelas tidak baik, terlebih setelah aku melihat foto itu.

“Astaga apa itu dirimu Seok Hoon ssi?”

            Aku tersentak ketika Choi Hana tiba-tiba memekik seraya menunjuk ke arah televisi. Aku menelan tegukan teh hangat dalam mulutku, mataku menatap layar televisi yang menampilakan diriku yang sedang menyanyi di konser amal beberapa hari yang lalu, rupanya acara itu baru disiarkan malam ini.

“Apa orang itu dirimu?” Choi Hana kembali bertanya, ia melihatku dari atas sampai bawah, “Tidak salah lagi itu dirimu, benarkan?”

Aku tersenyum, lucu sekali harus berada di situasi seperti ini.

“Iya itu aku.” Kataku, setengah geli melihat ekspresi terkejut gadis itu.

“Ya Tuhan, mengapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau ini pernyanyi terkenal di Korea ini.”

“Mengapa aku perlu mengatakannya, kalau kau tidak bertanya.”

“Aku terlalu banyak menghabiskan waktu di luar Korea, aku bahkan tidak menyadari kalau aku baru saja meminta seorang penyanyi terkenal mengganti lampu ruang tengahku… Maafkan aku Seok Hoon ssi.”

“Untuk apa kau meminta maaf, tidak ada yang berbeda aku ini apa dan siapa. Kita bertetangga sekarang, dan sebagai tetangga kita harus saling membantu.”

            Lagi senyum itu mengliarkan hawa menyenangkan dalam diriku, tak terjelaskan namun sangat membahagiakan.

“Kau memiliki suara yang bagus, suaramu terdengar sangat romantis di telingaku.” Kata Choi Hana, mata gadis itu menatap lurus diriku yang sedang bernyanyi di dalam televisi.

            Untuk pertama kalinya aku begitu bahagia menerima pujian atas suaraku, mungkin jika Choi Hana memberikan pujian tepat di saat kritikus musik paling kritis di Korea memujiku, aku akan lebih menyukai pujian darinya… Ya Tuhan, Lee Seok Hoon, kau benar-benar sudah tidak tertolong.

*          *          *

            Aku merasa sangat senang karena kedekatanku dengan Choi Hana berkembang menjadi kedekatan yang selama ini aku inginkan. Aku senang banyak waktu yang kami habiskan bersama, seperti mengobrol sambil minum dan menonton TV untuk melepaskan rasa lelah, setelah seharian kami melakukan banyak hal. Hanya hal-hal sederhana sebenarnya, hal sederhana yang membawa banyak rasa untukku.

            Aku tahu gadis itu sudah memiliki seseorang, ia bahkan sudah bertunangan, aku tahu dengan baik hal itu. Hanya saja aku merasa tidak ada yang salah dengan kedekatanku dan Choi Hana, selama ini kami hanya berteman, tidak ada hal lain, walaupun ada rasa yang berbeda dalam diriku, sampai sekarang aku masih dapat mengendalikan dan menyimpannya dengan rapih. Aku menikmati kedekatanku dengan Choi Hana, aku membiarkan semuanya dan aku akan memastikan diriku tahu kapan saatnya aku menarik diriku mundur dari kedekatan ini.

            Sekarang aku berdiri di depan pintu apartemen Choi Hana, tangan kananku memegang kantong plastik berisi box tteopokki yang aku beli disebuah kedai pinggir jalan sebelum aku naik ke gedung apartemen sepulang dari studio tadi. Akan sangat menyenangkan memakan ini sambil mengobrol dengan gadis itu. Dia selalu suka tteokpokki, walaupun ia sering mengatakan kalau ia harus segera berdiet, ia tidak akan pernah bisa menolak makanan ini.

            Aku menekan bel pintu apartemen Choi Hana, sudah jam 10 malam, tapi lampu ruang tengah apartemennya masih menyala, mungkin saja ia juga baru kembali dari kantornya. Tidak lama pintu apartemen Choi Hana terbuka, gadis itu muncul, seperti yang aku duga ia masih memakai setelan kerjanya.

“Hei… aku membeli ini tadi, tapi aku terlalu kenyang untuk menghabiskan ini seorang diri, apa kita bisa menghabiskan ini bersama?”

            Choi Hana tersenyum, aku menangkap ada kecangguan di wajahnya, ia bahkan tidak langsung mempersilahkan aku masuk seperti biasanya.

“Apakah di dalam sedang ada temanmu?” Aku bertanya, mengarahkan pandanganku ke dalam apartemen melalui pintu apartemen yang sedikit terbuka. “Apa kau sedang menerima tamu?”

“Siapa itu?”

            Tiba-tiba aku mendengar suara laki-laki dari dalam apartemen, Choi Hana menoleh.

“Hanya temanku.” Jawabnya, laki-laki itu menghampiri kami, ada sedikit senyum di wajahnya tapi aku tahu tatapan seperti apa yang diberikannya padaku saat ini.

Annyeonghaseyo…” Aku menyapa, sedikit membungkuk untuk memberi salam.

“Oh Annyeonghaseyo.” Balas laki-laki itu.

            Ia cukup tampan, tidak, ia memang tampan, aku mengakui itu, kemeja putih rapih, celana bahan, dasi yang terikat longgar di kerah kemejanya, menunjukkan kalau dia salah satu eksekutif atau kalau dilihat dari pakaian bermerk yang dipakainya dia mungkin salah satu orang penting di sebuah perusahaan.

“Aku tetangga Choi Hana ssi, aku hanya mampir untuk memberikan ini padanya.” Aku kembali bicara setelah mataku aku biarkan menilai laki-laki itu. “Kebetulan aku tadi membelinya sebelum kembali.”

“Biar aku perkenalkan kalian.” Choi Hana menyela, “Seok Hoon ssi ini tunangan yang pernah aku ceritakan, dia baru kembali ke Korea hari ini, jadi dia datang untuk mampir. Dan oppa ini Seok Hoon ssi, tetanggaku yang tinggal tepat di sebelah apartemenku.”

            Aku terdiam, jadi laki-laki ini adalah tunangannya itu. perasaan kosong tak terjelaskan tiba-tiba menyelubungi diriku. Mataku sekilas melihat laki-laki itu sudah mengulurkan tangannya ke arahku. Masih merasa setengah linglung aku menjabat tangannya.

“Senang bertemu denganmu Seok Hoon ssi.” Katanya yang hanya bisa aku balas dengan anggukan singkat.

*          *          *

Aku kembali terduduk di atas tempat tidurku, lampu kamarku sudah aku matikan sejak 2 jam yang lalu, demi Tuhan aku sudah memaksa diriku untuk tidur, tapi nyatanya usaha itu sia-sia. Mataku tetap tidak bisa terpejam, terlalu banyak hal yang memenuhi otakku, pikiranku bergerak ke suatu tempat, menuntutku untuk tetap terjaga walaupun sebenarnya tubuh lelahku meminta istirahat. Baiklah aku menyerah, aku bangun dari tempat tidurku, kembali menyalakan lampu kamarku, aku melangkah ke ruang tengah untuk mengambil sekaleng bir dari dalam lemari es.

Tegukan pertama masuk begitu saja tanpa rasa yang berarti ke tenggorokanku, aku mencoba untuk meneguk sekali lagi, rasanya tetap sama. Ini benar-benar sudah gila. Aku meremas kaleng yang aku pegang setelah meminum habis isinya, aku lempar kaleng itu ke arah tempat sampai di sudut kiri dapur, luput.

‘Sial.” Hardikku kesal.

            Kakiku bergerak membawaku ke arah sofa, berniat untuk duduk, menyalakan TV atau semacamnya. Namun kakiku terhenti, aku menoleh ke arah beranda apartemenku, aku lebih ingin berdiri di sana sekarang ini, dan aku tahu alasannya apa.

            Ternyata berdiri diberanda ini bukan pilihan yang baik, dinginnya angin malam terasa perih menyakiti kulitku ketika berhembus ke arahku. Aku menoleh ke arah beranda apartemen Choi Hana. Tentu saja aku tidak menemukan siapa pun di sana, tidak ada Choi Hana yang biasanya selalu melambaikan tangannya padaku dari arah berandanya.

“Apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang ini?” Aku berguman pelan, seraya menghembuskan nafas beratku.

            Apa dia sudah tidur? Apa laki-laki itu masih bersamanya? Apakah mereka menghabiskan waktu bersama malam ini? Pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar hampir membuatku nyaris berjalan keluar apartemen di jam 2 pagi hanya untuk mengetuk pintu apartemen gadis itu dan mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

            Aku tidak pernah menduga sebelumnya bahwa keberadaan seseorang di dekat Choi Hana akan begitu menggangguku seperti ini. Aku tidak pernah memperhitungkan ini akan terjadi, bodoh benar diriku ini. Aku sudah pernah mengatakan aku siap dengan keberadaan siapa pun di samping Choi Hana, sayangnya itu tidak mudah sekarang, aku tidak pernah membayangkan dadaku akan begini sesak ketika memikirkannya harus berada dengan laki-laki lain, rasa sesak yang menghimpit dadaku dan membuatku seperti ingin memecahkan sesuatu… Ya Tuhan ini gila.

*          *          *

“Selamt pagi Seok Hoon ssi… Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu pagi ini di sini.”

            Aku hanya berdiri diam di tempatku, sama seperti Choi Hana, aku pun tidak pernah mengira akan bertemu dengan dirinya di depan pintu masuk gedung apartemen kami, pagi ini.

“Apa kau baru saja selesai berolahraga?” Choi Hana kembali bertanya.

            Aku hanya menggangguk singkat, sebenarnya aku tidak habis berolahraga pagi atau pun semacamnya, aku hanya ingin berjalan-jalan untuk mengusir kepenatan karena semalaman ini aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku. Dan bertemu dengan seseorang yang menyebabkan semua kepenatan ini menggangguku sama sekali tidak aku rencanakan sebelumnya.

“Kau seharusnya mengajakku jika kau berniat untuk berolahraga pagi ini. Sudah lama sekali aku tidak berolahraga, akan sangat menyenangkan menghabiskan pagi hari liburku dengan berolahraga.”

“Kau sedang apa di sini?” sebenarnya bukan pertanyaan itu yang ingin aku tanyakan, sebenarnya aku ingin bertanya, “Mengapa kau ada disini? Mana tunanganmu? Dan apa yang kalian lakukan semalam?” tapi hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku.

“Aku baru saja membuang sampah.” Jawab Choi Hana seperti biasa memberikan senyum terbaiknya. “Sebenarnya pagi tadi aku mengetuk pintu apartemenmu, tapi tidak ada jawaban.”

“Kau mencariku tadi?” tanyaku mengangkat dahi dengan heran, “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memberikan beberapa potong roti bakar yang aku buat, sebagai balasan tteokpokki yang semalam kau berikan.”

            Lagi-lagi aku hanya memberi anggukan singkat untuk merespon perkataan Choi Hana, banyak hal yang membuatku seolah enggan bicara pada gadis itu, rasa marah kah?

“Maaf soal semalam, aku membuat situasinya menjadi tidak nyaman untukmu ketika bertemu dengan tunanganku.” Choi Hana berkata pelan.

“Mengapa kau harus meminta maaf, tidak ada yang salah dengan kejadian semalam, kami bertemu dengan sewajarnya, dan menyapa dengan sewajarnya pula. Aku yang seharusnya minta maaf karena tiba-tiba muncul dan mengganggu kalian. Aku sedikit khawatir tunanganmu itu salah paham tentang keberadaanku.”

            Entah kenapa aku tidak suka cara Choi Hana berbicara. Aku tidak ingin gadis itu merasa sungkan atau semacamnya padaku, karena kejadian semalam.

“Dia tidak salah paham, dia hanya sedikit bertanya tentang dirimu, dan aku mengatakan yang sebenarnya bahwa kita hanya berteman, dan dia mengerti.”

            Berteman, kata itu terdengar janggal untukku. Ya, kami memang hanya berteman, tidak lebih.

“Apa tunanganmu masih berada di sini?” akhirnya aku bertanya tentang itu juga.

“Tidak.” Choi Hana menggeleng cepat, “Tidak lama setelah kau meninggalkan pintu apartemenku, dia pergi, ada sesuatu yang harus kembali diurusnya.”

            Ada kelegaan tak terjelaskan yang merayapi diriku saat ini, membuat kepenatan yang aku rasanya sejak semalam seperti memuai dengan begitu cepat. Tapi sayangnya aku melihat suasana hati yang berbeda dari Choi Hana, ia terkesan murung ketika mengatakan itu.

“Dia selalu memiliki berbagai macam hal yang mengharuskannya untuk selalu pergi secara mendadak, aku mulai merasa…” Choi Hana tidak melanjutkan kata-katanya, kemurungan jelas sekali terlihat di wajahnya, gadis itu menghela nafas berat, seolah ia lelah menghadapi semuanya. “Apa kau mau sarapan bersamaku pagi ini?” Tanyanya kemudian.

*          *          *

            Aku tidak tahu ini benar atau tidak, membiarkan diriku sekali lagi merasa nyaman dengan kedekatanku dengan Choi Hana. Kepalaku selalu mengatakan bukan hal yang benar membiarkan diriku dekat dengan Choi Hana, aku menyadari sepenuhnya, membiarkan diriku semakin dekat dengan Choi Hana, dengan masih menyimpan apa yang aku rasakan, jelas akan menyakitiku nantinya. Tapi sayangnya semua pertimbangan itu mendadak semu, setelah perasaan senang yang membahagiakan itu kembali terasa ketika aku berada di dekatnya.

“Aku ini adalah wanita yang sudah bertunangan, tapi tidak pernah merasakan aku ini sudah bertunangan.” Choi Hana bicara, setelah sekali lagi ia meneguk bir dalam kaleng yang dipegangnya, “Kau tahu Seok Hoon ssi, terkadang sangat menyebalkan memiliki seorang kekasih tapi ia tidak pernah berada di sisimu ketika kau membutuhkannya.”

            Aku tidak pernah bisa memberi komentar apa-apa setiap kali Choi Hana mulai mengeluh tentang tunangannya yang dia katakan selalu sibuk dengan berbagai hal, aku hanya mengatakan dalam hati kalau laki-laki itu terlalu bodoh telah mengabaikan keberadaan Choi Hana, andai aku ini adalah tunangan Choi Hana, aku tidak akan membiarkannya merasa seperti itu, aku akan memastikan diriku selalu ada ketika dia membutuhkanku.

“Terkadang aku selalu iri pada wanita yang memiliki kekasih yang selalu ada bersamanya jika ia membutuhkan kehadirannya.” Choi Hana menghela nafas dalam, aku menangkap nada kecewa dalam setiap kata yang diucapkannya. Gadis ini terlalu banyak bicara malam ini, entah karena dia terlalu mabuk atau bagaimana, aku sendiri tidak begitu tahu alasannya.

“Seok Hoon ssi, kau baik sekali padaku, apa kau selalu sebaik ini pada tetanggamu?” aku dibuat terdiam dengan pertanyaan yang diajukan Choi Hana, sementara gadis itu masih tersenyum, ia sepertinya memang benar sudah mabuk, lihat pipi putihnya sudah memerah sekarang.

“Kau terlalu banyak minum Hana ssi, sebaiknya aku harus segera kembali ke apartemenku agar kau bisa segera tidur.” Aku sudah bangun dari sofa yang aku duduki, berniat untuk beranjak pergi ketika Choi Hana menarik tanganku dan berkata.

“Kau belum menjawab pertanyaanku Seok Hoon ssi. Apa kau memang selalu baik seperti ini pada siapa saja?”

            Aku menatap ke arah Choi Hana, tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukannya. Ada yang aneh dengan cara Choi Hana bicara padaku malam ini. Kami sudah sering sekali menghabiskan waktu untuk minum sambil mengobrol seperti ini di waktu senggang kami, hanya saja kali ini rasanya berbeda.

“Aku akan selalu bersikap baik pada siapa saja yang baik padaku, tidak terkecuali dirimu.” Aku menjawab akhirnya, “Kau benar-benar harus berhenti minum, sebaiknya kau tidur sekarang.”

            Aku mengambil kaleng bir yang masih dipegang gadis itu, dan meletakannya di atas meja. Tangan gadis itu masih memegangi sebelah tanganku, aku ingin menarik tanganku dari tangannya, tapi rasanya ada yang menghalangiku, aku suka cara ia memegang lenganku, seolah dia membutuhkanku dengan melakukan itu.

“Jangan dulu pergi, temani aku sebentar lagi.” Choi Hana menarik tanganku, memaksaku untuk kembali duduk di sofa tepat di sampingnya. Gadis ini benar-benar sudah mabuk, pikirku dalam hati. Aku sebenarnya enggan untuk kembali duduk, aku tahu batas kemampuan diriku, kemampuan untuk mengendalikan perasaanku.

“Baiklah aku akan menemanimu sampai kau menghabiskan satu kaleng yang sudah terlanjur kau buka tadi, tapi setelah itu aku akan pulang dan kau harus segera berhenti minum dan tidur.”

            Senyum di wajah Choi Hana merekah lebar, seakan ia sangat senang aku bersedia menemaninya lagi.

“Kau memang yang terbaik Seok Hoon ssi.” Kata Choi Hana, ia kembali mengambil kaleng bir yang tadi aku ambil darinya, meminum seteguk isinya. “Ketika bersamamu aku berpikir, akan sangat beruntung gadis yang nanti akan menjadi kekasihmu. Kau laki-laki yang sangat baik, untuk seorang teman pun kau selalu ada, apa lagi untuk orang yang kau cintai.”

            Aku tidak tahu harus mengatakan apa selesai Choi Hana mengatakan itu, terlalu banyak hal yang mengusikku sekarang ini. Kata-kata yang baru saja diucapkannya membuatku kembali berharap, kembali berpikir bahwa aku bisa menyampaikan perasaanku padanya.

            Gadis itu menatapku sekarang, entah tatapan apa yang diberikannya padaku, yang jelas tatapan itu berhasil mengunciku. Wajah kami begitu dekat sekarang, aku bisa menghirup bau alkohol yang diminum Choi Hana. Ini benar-benar di luar rencana, tubuhku jelas menolak perintah otakku sekarang ini, bukan menarik tubuhku menjauh, aku malah mendapati diriku semakin mendekati Choi Hana. Sekarang ini wajahku sudah bergerak mendekati wajah gadis itu, demi Tuhan aku berusaha untuk mencegahnya, tapi sayangnya aku kalah.  Kami sudah begitu dekat, aku bisa melihat Choi Hana memejamkan matanya, apa itu berarti dia mengijinkan aku untuk melakukannya?

            Rasanya begitu lembut ketika bibirku menyentuh bibirnya, sangat lembut. Ada luapan perasaan tak terjelaskan saat menciumnya, perasaan senang dan kelegaan terasa dalam waktu yang bersamaan, begitu nyaman, hingga aku berpikir aku tidak pernah ingin untuk melepaskan apa yang aku rasakan sekarang.

2 edit

To be continued…

Advertisements

One response »

  1. °•ŵĸ\=D/ŵĸ•°=D°•ŵĸ=))ŵĸ•° .. Ternyata adegan trakhr itu yg bikin sang penulis gak rela bwt Nulis Scenenya. .XD
    Btw Alurnya cepet bgt eon, kecepetan malah menurutku. . Kurang bnyak scene romantisnya yg bkin si cewe jatuh hati ke Abang. . Hahahaha pasti sengaja nih biar gak cemburu. . LoL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s