Story Of Us (final) – Lost In Bali (fan fiction)

Standard

Story of Us – Lost In Bali

SOU - lost in bali

Keempatnya berjalan dengan penuh percaya diri, kaca mata gelap dari berbagai merk terkenal menutupi mata mereka dengan begitu kerennya, semua yang mereka pakai dari ujung kepala hingga ujung kaki mencirikan kelas tersendiri bagi mereka. Mungkin ini yang sering disebut airport fashion yang belakangan populer di kalangan selebritis Korea.

            Kim Hyung Soo, Lee Seok Hoon, Lee Jin Sung dan Kim Won Joo. Baru saja menjejakkan kaki mereka di bandara Internasional ‘Ngurah Rai’ Denpasar, Bali, Indonesia. Keempatnya berdiri berjajar dengan menarik koper masing-masing, mata di balik kaca mata gelap bermerk yang mereka pakai menebar ke sekeliling bandara. Kalau boleh disamakan mungkin gaya mereka sekarang hampir mendekati kuartet terkenal dunia F4, tapi sayang ada yang kurang dari semua ini… ada yang kurang.

“Apa tidak ada orang yang mengenali kita di sini?” Lee Seok Hoon tiba-tiba bertanya setelah langkah penuh percaya diri mereka terhenti saat beberapa orang pramugari berseragam biru tua dengan menarik koper, berjalan melewati mereka.

            Seok Hoon melepas kaca matanya, menebar pandangan ke sekeliling bandara.

“Aku tidak melihat segerombolan wanita, atau remaja berseragam yang membawa karton besar bertuliskan nama kita di sekitar sini.” Tanyanya heran, menatap bergantian antara Kim Hyung Soo yang berdiri di sebelahnya, sampai Kim Won Joo yang berdiri diujung sebelah kanannya. “Seharusnya sudah ada yang menghampiri kita, atau berteriak dari jauh untuk menyambut kedatangan kita.”

“Kau pikir siapa kau, tidak akan ada yang mengenalimu di tempat ini.” Lee Jin Sung segera bicara, ia juga sudah melepas kaca matanya, mendesah pelan setelah beberapa saat. “Ini bukan tempat dimana penyanyi-penyanyi ballad seperti kita dikenali.”

“Aku seharusnya menulis sesuatu di twitter sebelum aku pergi berlibur kesini. Ada kemungkinan salah satu followers-ku ada yang yang tinggal di sekitar sini dan menjemput kita, sepi sekali rasanya keluar dari bandara tanpa teriakan para fans.” Kim Hyung Soo berkata datar, ikut mendesah, ia masih tetap mempertahankan kaca mata yang dipakainya.

“Mengapa kau tidak sekalian saja melakukan jumpa pers sebelum pergi dan katakan kau akan berlibur ke Bali.” Jin Sung menimpali, “Kita sudah sepakat tidak akan ada tahu kita berlibur kemana kali ini.”

“Ya aku tahu, tapi tetap saja aku merasa sangat janggal harus keluar seperti ini dari sebuah bandara, apa seharusnya tadi aku berdandan seperti Daesung Bigbang, banyak yang mengatakan kami mirip, dan mungkin saja Bigbang lebih dikenal di tempat ini. atau seharusnya sebelum pergi kita mewarnai rambut kita dengan warna yang mencolok, seperti kebanyakan idol Korea.”

“Sudahlah hyeong, berhenti bertingkah seperti top star.” Seok Hoon ikut bicara, “Apa akan ada yang menjemput kita di sini?”

“Tentu saja akan ada yang menjemput.” Won Joo menjawab tidak sabar. “Akan ada seseorang dari hotel yang akan menjemput kita.”

            Kim Won Joo mulai mencari-cari sosok orang yang mungkin akan menjemput mereka, di tengah keramaian aktifitas bandara.

“Apa kau yakin tidak apa-apa kita berlibur di tempat ini tanpa bantuan guide sama sekali.” Lee Seok Hoon, melangkah mendekati Won Joo, wajahnya terkesan sangat serius saat menanyakan itu semua. “Aku khawatir ini akan menjadi masalah untuk kita.”

            Kim Won Joo menghela nafas pelan, menebar pandangan jengkel ke arah tiga orang pria yang menatapnya dengan tatapan seolah bertanya ‘Apa kau yakin?’

“Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada kalian. Saat kita merencanakan ini semua tidak ada yang berwajah ragu seperti yang sekarang kalian tunjukkan, kalian begitu bersemangat, begitu menggebu-gebu mengatakan akan sangat menyenangkan melakukan ini semua. Tapi lihat apa yang terjadi pada kalian sekarang, apa sekarang kalian ingin membatalkannya dan kembali ke Seoul?”

“Ah tentu saja tidak.” Nyaris bersamaan, Lee Jin Sung, Kim Hyung Soo dan Lee Seok Hoon berkata, mereka bertiga segera merangkul bahu Kim Won Joo.

“Kami mana mungkin membatalkan liburan ini, kau tau bukan sangat sulit bagiku menemukan waktu kosong untuk ini semua.” Kim Hyung Soo bicara, ada nada kebanggaan seperti biasa dalam kalimatnya. “Kita merencanakan ini bersama, mana mungkin kita membatalkannya… Ayo kita memulai liburan kita.”

            Untuk meredam kekesalan sang magnae yang akhir-akhir ini cendrung meledak-ledak, Kim Hyung soo berjalan lebih dulu ke area lobi luar bandara, diikuti Jin Sung.

“Ingatanmu tentang liburan terakhirmu di sini masih sangat baik bukan?” Seok Hoon bertanya lagi, masih ada kekhwatiran di wajahnya.

            Kim Won Joo mengerling jengkel, entah untuk keberapa kalinya Seok Hoon mengajukan pertanyaan yang sama pada Won Joo.

“Baiklah aku percaya padamu.” Kata Seok Hoon setelah melihat wajah Won Joo yang mulai kesal. “Kita pasti akan bersenang-senang di tempat ini. Bukan begitu?”

            Kim Won Joo menarik kopernya, kembali memakai kaca mata hitamnya, sebelum mengikuti langkah ketiga hyeong-nya. Ini mungkin keputusan paling spontan yang pernah mereka ambil selama hidup mereka. Di saat kejenuhan dan berbagai masalah menghampiri mereka, ide gila ini tercetus. Ide gila yang membawa mereka ke sebuah pulau di kawasan Asia Tenggara yang dikatakan begitu banyak orang Korea sebagai pulau layaknya Surga, sekarang mereka menjejakan kaki mereka di Bali, tempat yang mereka harapkan dapat sedikit memberi jeda menyenangkan dalam hidup mereka.

*          *          *

            Mereka sudah berada di kamar Hotel sekarang, keempatnya sengaja menyewa satu kamar di hotel ini, menyewa satu kamar akan lebih memudahkan mereka dalam berkomunikasi selama liburan yang mereka rencanakan ini. Lee Seok Hoon terlihat duduk bersandar di atas tempat tidur sibuk mengotak-atik kamera kesayangannya. Kim Hyung Soo membaringkan diri di samping Lee Seok Hoon, tangannya bergerak menyentuh layar tablet PC, sesekali mengumpat keras untuk mengomentari sesuatu. Sementara Lee Jin Sung tengah sibuk membongkar kopernya, mengeluh keras saat ia mendapati dirinya lupa membawa apa yang harus dia bawa.

            Sementara itu Kim Won Joo, lebih memilih berdiri di beranda kamar Hotel, menebarkan pandangan ke arah hamparan lautan di malam hari yang begitu indah terlihat dari tempatnya berdiri sekarang. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia datang ke tempat ini, tempat indah yang dulunya menyisakan banyak kenangan di masa remajanya.

            Kim Won Joo mengalihkan pandangannya ke arah dalam kamar, melihat sahabat-sabahatnya dengan berbagai hal yang mereka lakukan masing-masing. Won Joo tersenyum singkat, lucu sekali mendapati mereka benar-benar berlibur dengan cara seperti ini. Lee Seok Hoon yang kesal dengan kekasihnya yang kurang perhatian. Lee Jin Sung sebaliknya, ia lelah dengan semua perhatian berlebih yang diberikan kekasihnya. Sementara Kim Hyung Soo, ia mengatakan kekasihnya tetap mengaturnya seperti seorang asisten seperti sebelumnya. Dan Kim Won Joo, ia baru saja bertengkar dengan kekasihnya Jin Bora, karena Jin Bora lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kenalan barunya yang rata-rat berjenis kelamin laki-laki, membuatnya merasa ada yang perlu dipikirkan tentang hubungan mereka.

            Semuanya memiliki alasan masing-masing untuk setuju merencanakan liburan ini, untuk melepaskan semua beban, meninggalkan rutinitas melelahkan, termasuk untuk melakukan jeda sesaat dalam hubungan cinta mereka.

*          *          *

“Aku benar-benar tidak percaya dia sama sekali tidak menghubungiku.” Keluh Seok Hoon, di pagi sesaat setelah mereka siap untuk keluar kamar. “Dia hanya mengirimkan pesan singkat ‘Selamat bersenang-senang kalau begitu’ Park Hye Jin ini benar-benar.”

“Kau lebih baik dariku, kekasihku saat aku meneleponnya semalam hanya mengatakan, ‘dimana pun kau berada sekarang, kau harus kembali sabtu nanti, ada jadwal yang sangat penting untukmu.’ Tidak bisa dipercaya.” Kim  Hyung Soo menggeleng putus asa.

“Aku sudah mematikan ponselku sejak tadi malam, Kim Yoo Bin itu nyaris membuat ponsel meledak dengan teleponnya yang berkali-kali.” Lee Jin Sung ikut mengeluh.

            Kim Won Joo tidak banyak komentar menanggapi semua keluhan yang dikeluarkan teman-temannya. Ia menatap ponsel yang dipegangnya, ponselnya bahkan tidak berdering sama sekali sejak malam tadi. Jin Bora benar-benar tidak berniat meneleponnya.

“Tinggalkan semua ponsel kalian disini, tinggalkan juga benda apa pun yang dapat menghubungkan kalian dengan semua hal yang kita tinggalkan di Korea. Hari ini kita akan bersenang-senang tanpa gangguan dan beban pikiran.”

*          *          *

“Aku merasa ini salah.” Seok Hoon bicara sesaat setelah mereka berjalan bersama keluar Hotel. “Apa benar kita akan berlibur di sini tanpa panduan seorang guide, kita tidak mengenal tempat ini, jadi kita mungkin saja tersesat di sini.”

“Kita hanya akan berjalan sedikit saja, tidak akan jauh dari hotel ini. Kau lihat laut di depan sana kita akan main di sekitar situ saja.” Jelas Kim Won Joo.

            Seok Hoon mengangguk pelan, masih ada keraguan di wajahnya, tapi ia tidak lagi bicara, melanjutkan langkah dengan camera besar di tangannya, sesekali membidikkan lensa kameranya pada sebuah obyek yang ia rasa menarik.

“Jangan terlalu memikirkan banyak hal. Kalau pun kita nanti tersesat di tempat ini, mungkin ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tersesat atau tidak kita nantinya, yang penting kita membawa cukup uang.” Timpal Kim Hyung Soo, “Kim Won Joo, kau sudah menukarkan uang kita bukan?”

“Aku sudah menukarkannya, dan sudah aku berikan pada Jin Sung hyeong, setahuku dia yang paling pandai memegang uang.”

“Kalian tenang saja, uang itu sudah aman di sakuku sekarang.” Jin Sung berkata setengah bangga, seraya menepuk saku belakang celana pendek berwarna krem yang dipakainya.

“Ya sudah mari kita mulai liburan kita.”

            Kim Hyung Soo berjalan lebih dulu mendahului mereka, diikuti yang lainnya, sementara Seok Hoon berjalan di posisi paling belakang. Masih ada keraguan atas ini semua, menurutnya akan lebih baik jika mereka menyewa seseorang untuk memandu mereka di tempat asing ini. Tapi sudahlah mungkin tanpa melibatkan orang lain, liburan mereka akan terasa lebih menyenangkan.

“Hei… Tunggu aku, mengapa kalian berjalan cepat sekali.” Seru Seok Hoon, seraya melangkah cepat menyusul teman-temannya.

*          *          *

            Mereka berdiri berjajar dengan pemandangan hamparan laut yang sangat indah, angin kencang berhembus menyegarkan menerpa wajah mereka. Tempat ini sangat indah, itu yang ada di benak Seok Hoon saat menebarkan pandangannya ke hamparan laut di hadapannya. Ia tidak menyangka ada laut sebagus ini yang terletak tidak jauh dengan tempat mereka menginap. Kemarin mereka datang terlalu sore hingga tidak memperhatikan ini semua.

            Seok Hoon mengangkat kameranya, mengambil beberapa gambar, tersenyum kecil saat melihat hasilnya.

“Aku suka tempat ini, tidak terlalu ramai dan sangat indah.” Seru Seok Hoon, tetap mengamati pemandangan di sekitarnya.

“Kita datang disaat yang tepat, ini bukan musim liburan jadi tidak banyak pengunjung yang biasanya banyak mengunjungi tempat ini.” Kim Won Joo menjawab.

“Para seniorku berkata, banyak orang Korea yang sering datang ke tempat ini, mereka bilang ini tempat yang sangat cocok untuk berbulan madu.” Kim Hyung Soo bicara, sama seperti Seok Hoon ia menebarkan pandangannya ke sekeliling, “Mungkin aku akan memilih tempat ini jika aku berbulan madu nanti.”

“Aku dengar di sini ada jasa pijat di tepi pantai. Apa ahjumma-ahjumma di sana yang yang melakukannya?”

            Lee Jin Sung langsung menatap tertarik ke arah ibu-ibu yang sedang memijat seorang turis asing di bawah pohon kelapa.

“Kau bisa melakukannya, tapi jangan salahkan kami jika nanti kau kami tinggal ke tempat lain.” Kim Hyung Soo menyahut, “Sebaiknya kita ke arah sana, pemandangan di sana terlihat lebih bagus.”

            Kim Hyung Soo menunjuk ke arah sebelah kanan tempat mereka berdiri, tempat yang terkesan lebih sepi. Keempatnya berjalan menyusuri pantai, Lee Seok Hoon menangkap semua keindahan pantai dengan kameranya. Lee Jin Sung senang sekali berjalan di sisi laut, membasahi kakinya dengan air laut yang menghempas lembut ke sisi laut. Sementara Kim Hyung Soo dan Kim Won Joo sedikit tertinggal di belakang, karena mereka berjalan sambil mengobrol dan sesekali tertawa. Mereka terlihat begitu menikmati liburan mereka, berjalan dengan santai bersama orang-orang terdekat mereka, melupakan semua beban dan rutinitas yang biasa membebani mereka.

“Kita sudah berjalan sejauh apa?” Kim Won Joo menghentikan langkahnya, diikuti tiga yang lainnya, ketika sadar mereka sudah tidak berada di kawasan pantai lagi.

            Sekarang ini mereka sudah berdiri di tepi sebuah jalan yang ramai dengan kendaraan bermotor yang lalu-lalang. Entah sudah sejauh apa mereka meninggalkan hotel tempat mereka menginap.

“Kita ada dimana sekarang?” Lee Jin Sung menjajari Kim Won Joo, menatap berkeliling, dengan tatapan bingung. “Apa kau pernah ke tempat ini saat kau liburan beberapa tahun yang lalu?”

            Kim Won Joo tidak menjawab, saat liburannya dulu ia pergi bersama beberapa temannya dan ikut rombongan tur ketika itu, dan rasanya ia tidak pergi ke tempat ini saat itu.

“Apa kita tersesat?” Lee Seok Hoon segera bertanya dengan wajah khawatirnya.

“Tenang saja, kita tidak akan tersesat.” Kim Hyung Soo menimpali, “Aku rasa kita belum jalan terlalu jauh, kita hanya perlu berjalan ke arah sama yang sebelumnya kita lewati tadi.”

            Ketiganya mengangguk, apa yang dikatakan Kim Hyung Soo memang masuk akal, mereka hanya perlu kembali berjalan menyusuri jalan yang sebelumnya mereka lewati untuk kembali ke hotel.

“Kalian lihat di seberang sana, itu sepertinya pasar yang menjual barang-barang untuk oleh-oleh.” Kim Hyung Soo menunjuk tangan ke seberang jalan tempat dimana banyak sekali berjajar toko-toko cinderamata, tempat ini sepertinya memang tempat untuk membeli souvenir dan semacamnya. Banyak juga turis-turis asing yang ada di sana.

“Kita ke sana.” Lee Seok Hoon langsung berkata sigap, kameranya sudah siap kembali di tangannya. Tidak ada lagi keraguan yang semula terlihat di wajahnya, keraguan itu sudah tergantikan dengan raut ketertarikan.

            Mereka menyeberangi jalan menuju tempat yang mata mereka tangkap dengan penuh ketertarikan. Won Joo sempat menatap ke belakang melihat jalan yang tadi mereka lalui, ada sedikit kecemasan saat ia ikut sahabat-sahabatnya ini melangkah, berjalan semakin jauh meninggalkan tempat sebelumnya.

“Kim Won Joo, apa yang kau lakukan, cepat jalan.” Jin Sung memanggilnya, menggerakkan sebelah tangannya agar Won Joo segera menyusulnya.

            Baiklah ini bukan saat untuk mengkhawatirkan sesuatu, tujuan mereka untuk berlibur adalah bersenang-senang. Mengusir semua kekhawatiran dan berbagai pikiran lain yang masih berputar di kepalanya, Kim Won Joo melangkah cepat menyeberangi jalan menyusul ketiga sahabatnya yang sudah lebih dulu masuk ke area tempat penjualan souvenir atau semacamnya.

            Berada di area penuh barang-barang yang menarik mata mereka, keempatnya sibuk mengamati barang-barang di beberapa kios kecil yang terdapat di pasar kecil itu, mulai dari ukurin, patung-patung pahatan, guci-guci, lukisan dan beberapa cinderamata kecil seperti gelang, kalung yang bernuansa etnik kebudayaan setempat, memanjakan mata para turis yang berada di tempat ini.

“Patung kayu berukiran itu akan sangat bagus jika aku hadiahkan untuk ayah Kim Eun Joo. Beliau sangat suka sekali barang-barang seperti ini.” Kim Hyung Soo menatap tertarik ke arah sebuah patung kayu berukir yang berbentuk seperti manusia setengah burung itu.

“Akan sangat merepotkan membawa benda sebesar itu kembali ke Korea.” Lee Seok Hoon berkomentar, ia mengangkat kameranya untuk mengambil gambar patung ukiran itu, “Bentuknya aneh, tapi sangat artistik.”

“Iya… akan sangat merepotkan membawanya ke Korea, mungkin aku harus mencari yang ukurannya lebih kecil.”

“Kita harus segera menemukan oleh-oleh yang tepat untuk kita beli, lihat Lee Jin Sung, sudah banyak sekali kantung belanja yang dibawanya.”

            Baik Seok Hoon dan Hyung Soo tersenyum geli saat melihat Lee Jin Sung sudah membawa begitu banyak kantong belanja, bersama Kim Won Joo yang terlihat ikut repot membantu membawakan. Dengan kemampuan bahasa inggris yang sangat terbatas, Lee Jin Sung berusaha menawar harga dari barang yang ingin dibelinya, melihat gayanya, Lee Jin Sung mengingatkan mereka pada ahjumma yang sedang berbelanja sayur di pasar.

“Kau baik-baik saja hyeong?” Kim Won Joo tiba-tiba bicara dengan nada panik, saat Jin Sung tertubruk seorang laki-laki berjaket hitam, hingga jatuh terduduk.

            Seok Hoon dan Hyung Soo segera menghampiri Jin Sung.

“Kau tidak apa-apa?” tanya mereka nyaris bersamaan.

            Lee Jin Sung hanya menggerakkan tangannya pelan untuk menyatakan ia baik-baik saja.

“Kenapa orang itu begitu terburu-buru.” Seok Hoon mengamati orang yang baru saja menubruk Jin Sung, dengan cepat berlari menjauh. Sementara Hyung Soo dan Won Joo membantu Jin Sung berdiri.

“Benar kau tidak apa-apa?” Hyung Soo bertanya sekali lagi.

“Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit terhuyung tadi.” Kata Jin Sung seraya memberikan senyumnya. “Beruntung sekali dia tidak memecahkan guci cantik yang baru saja aku beli untuk Kakekku.”

            Ketiganya mendengus tertawa melihat tingkah Jin Sung dengan berbagai tas belanja yang dipegangnya.

“Kalau kau sudah selesai dengan urusan oleh-olehmu, bisa kita segera pergi untuk mencari tempat untuk makan siang, aku sudah sangat lapar.” Kata Hyung Soo

“Iya benar, aku sudah sangat lapar, seharian ini kita hanya berjalan, aku bahkan tidak sarapan dengan benar pagi tadi di hotel.” Won Joo menambahkan, diikuti anggukan Seok Hoon.

“Berapa sisa uang yang kau bawa?” Seok Hoon bertanya pada Jin Sung, ada kekhwatiran di wajahnya atas persediaan uang yang dipegang Jin Sung, mengingat begitu banyak barang yang dia beli.

“Kau tidak usah khawatir, persediaan uang kita masih sangat cukup untuk kita pakai makan di restoran mana pun di tempat ini. Barang-barang yang aku beli ini tidak menghabiskan terlalu banyak uang, aku sangat pandai menawar dalam hal ini.” Kata Jin Sung bangga, seraya merogoh saku celana pendek yang dipakainya. Tapi seperti Jin Sung tidak menemukan apa-apa di saku belakang celananya, ia mulai merogoh saku depan celananya, dan mulai ada kepanikan terlihat di wajahnya saat ia tidak menemukan apa yang dicarinya.

“Kepana? Kau tidak menemukan uang itu?” Kim Hyung Soo segera bertanya.

“Aku jelas memasukannya ke kantong belakang celana ini, setelah aku mengambil uang untuk membayar guci yang aku beli. Aku yakin sekali itu, bahkan Kim Won Joo pun melihatku memasukan amplop uang itu.” Kim Won Joo mengangguk membenarkan.

“Jadi kemana perginya uang itu? Apa mungkin orang tadi itu…” Lee Seok Hoon langsung mengingat laki-laki berjaket hitam yang berlari setelah menubruk Lee Jin Sung.

“Astaga.. benarkah orang itu mengambil uangnya.” Lee Jin Sung berkata dengan raut wajah kaget dan tidak percaya. “Ya Tuhan, bagaimana sekarang?”

*          *          *

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Seok Hoon bertanya dengan nada putus asa.

            Keempatnya sekarang sudah duduk di bawah pohon besar, mendudukkan tubuh lelah mereka di sebuah tempat duduk atau entah apa, sesuatu yang terbuat dari batu-batu bersemen yang melingkari pohon besar yang menyejukkan mereka.

“Aku lapar sekali sekarang.” Seok Hoon kembali bicara sambil memegang perutnya, kamera yang semula terangkat di depan wajahnya kini sudah menggantung lesu di lehernya. Sepertinya keinginan untuk memotret sudah hilang seiring rasa lapar yang dirasakannya.

“Hayuh, disini panas sekali, tenggorokanku sampai sakit karena kehausan.”

“Berhenti mengeluh. Mengapa di Korea kau selalu diet, tapi mengapa di sini kau jadi selalu ribut soal makanan.” sergah Lee Jin Sung memberikan tatapan kesal pada Lee Seok Hoon.

“Kenapa kau membawa-bawa masalah dietku di sini.” Seok Hoon membalas lantang, “Kau yang seharusnya disalahkan untuk ini, jika kau tidak ceroboh menghilangkan uang itu, kita semua bisa makan dan kembali ke hotel dengan mudah.”

“Berhenti bertengkar.” Kim Hyung Soo bicara tegas, ketika ia melihat baik Lee Seok Hoon maupun Lee Jin Sung sudah siap bertengkar. “Menggelikan sekali kalau liburan ini membawa cerita kalian bertengkar hanya karena uang yang hilang. Kalian tidak akan menyelesaikan masalah dengan bertengkar.”

            Keduanya menunduk, masing-masing berusaha meredam kembali kemarahan yang sebelumnya sempat meluap.

“Kim Won Joo, apa kita masih bisa kembali ke hotel dengan kembali berjalan ke arah sebelumnya?” Hyung Soo bertanya.

            Kim Won Joo tidak langsung menjawab, sementara ketiga sahabatnya menatap padanya seakan berharap ia akan mengatakan bisa. Tapi sayangnya ia hanya menggeleng.

“Aku rasa kita sudah berjalan terlalu jauh, aku tidak yakin kita bisa kembali dengan cara itu. Aku yakin sekali tidak ada satu pun dari kita yang mengingat jalannya.”

            Memang sepertinya tidak ada yang mengingat, karena mereka hanya diam.

“Apa kita tidak bisa kembali dengan taksi, kita akan membayar nanti saat kita sampai di hotel.” Lee Seok Hoon menyarankan.

“Aku rasa tidak bisa hyeong.”

“Kenapa tidak bisa? Kita akan membayar saat sampai di hotel nanti.” seru Seok Hoon tidak terima.

“Aku lupa nama hotel tempat kita menginap.” Kata Won Joo pelan.

“APA…” Ketiganya berkata bersamaan. Ketiganya memberi tatapan tidak percaya sekaligus kesal pada Kim Won Joo.

“Kau mana mungkin lupa, kau bertugas mengurus semuanya mulai dari tiket pesawat, hotel dan sebagainya, mana mungkin kau tidak tahu nama hotel tempat kita menginap. Kau ini benar-benar…” Jin Sung berkata kesal.

“Bukan aku sebenarnya yang mengurus ini semua, aku meminta bantuan seorang teman untuk melalukannya. Aku tidak mengingat nama hotel tempat kita menginap karena nama hotel itu panjang dan dari bahasa asing. Kalian tahu bukan, ingatanku ini sangat lemah… Dan kalian, apa kalian tahu nama hotel tempat kita menginap?”

            Ketiganya tidak menjawab, membuat senyum kemenangan tergurat di wajah Kim Won Joo.

“Kalian saja tidak mengingatnya, jadi jangan salahkan aku.”

            Baik Kim Hyung Soo, Lee Seok Hoon, Lee Jin Sung dan Kim Won Joo hanya diam sekarang, keempatnya terduduk lemas di bawah pohon yang menaungi mereka, membiarkan terpaan angin menyejukkan tubuh mereka yang kepanasan. Derungan kendaraan bermotor dan suara aktivitas warga sekitar menjadi backsound untuk keputusasaan yang mereka rasakan.

“Apa salah satu diantara kalian tidak ada yang membawa uang sedikit pun?” Kim Hyung Soo membuka mulutnya setelah mereka sudah lama diam.

“Tunggu sebentar! Aku sepertinya memiliki satu.” Seok Hoon segera merogoh saku celananya, tersenyum saat menemukan selembar uang berwarna biru dari dalamnya. “Aku sempat meminta selembar pada Jin Sung pagi tadi, untuk aku simpan sebagai koleksi.”

            Kim Hyung Soo mengambil uang yang dipegang Seok Hoon, melebarkan uang itu.

“Ini 50.000, ini cukup besar.” katanya tersenyum lebar, penuh kelegaan.”

“Aku rasa tidak terlalu besar hyeong, 50.000 yang kau pegang itu jika dibandingkan dengan mata uang Negara kita hanya bernilai sekitar 5000 won saja.” Lee Jin Sung menjelaskan.

“Benarkah, hanya sebesar itu.” Kim Hyung Soo terlihat kecewa. “Jadi apa yang bisa kita dapatkan dengan uang ini, apa kita masih bisa membeli makanan di tempat ini?”

“Aku rasa kita bisa membeli makanan-makanan di kedai kecil atau makanan pinggir jalan dengan uang itu.” Kata Won Joo, matanya mulai menebarkan tatapan ke sekeliling mulai mencari-cari makanan apa yang bisa mereka beli dengan uang yang mereka miliki.

“Kita coba ke sana.” Kim Won Joo menunjuk ke arah dimana terlihat orang-orang berkumpul dan ada beberapa yang duduk di kursi panjang di tepi jalan, dengan piring makan di tangan mereka.

“Ayo kita ke sana.” Seok Hoon langsung berdiri dengan sigap, lapar membuatnya begitu bersemangat.

*          *          *

            Belum ada yang berani memesan apa pun, keempat penyanyi ballad itu hanya menatap berbagai sajian makanan dalam sebuah gerobak kecil yang dijaga seorang ibu paruh baya. Makanan yang mereka lihat memiliki bentuk yang sebenarnya tidak terlalu asing bagi mereka, beberapa makanan yang tersaji ditusuk-tusuk dengan bambu, sama seperti omuk (kue ikan) yang biasa mereka lihat di kedai pinggir jalan Korea, hanya saja ukuran mereka jauh lebih kecil dan terlihat begitu berbumbu. Wanita paruh baya yang sepertinya pemilik tempat makanan ini hanya tersenyum melihat mereka berempat, sementara tangannya dengan cekatan membuka bungkusan kecil nasi yang dibungkus dengan daun, sebelum memasukkan lauk yang diminta pembeli padanya.

“Apa kita bisa memakan ini?” Kim Hyung Soo bertanya ragu, sementara matanya menatap ke arah orang-orang yang duduk di kursi kayu panjang sambil menyantap dengan lahap makanan mereka. “Mereka keliatan begitu lahap… apa nama makanan ini? Apa kau bisa menanyakannya.” Ia berbisik pada Won Joo yang berdiri di sampingnya.

What is this?” Won Joo bertanya pada ibu penjual, berharap sekali wanita ini mengerti apa yang dikatakannya. Sayang wanita itu hanya tersenyum lebar tanpa menjawab, menyatakan bahwa ia tidak mengerti bahasa Inggris.

This is Nasi Kucing.” Kata salah seorang pelanggan laki-laki membantu menjelaskan, ibu penjual itu mengangguk membenarkan.”

What… Nasi Kucing.” Won Joo mengulang apa yang dikatakan pelanggan itu, nama yang aneh untuk sebuah makanan.

In english ‘Nasi Kucing’ means Cat Rice.” Jelas pelanggan itu lagi.

“Astaga, Cat Rice… apa mereka memasukkan daging kucing ke makanan ini.” Sergah Lee Seok Hoon, mulai terlihat panik, “Aku tidak mau makan itu.”

            Lee Seok Hoon melangkah mundur, padahal sebelumnya ia yang berdiri paling dekat dari gerobak makanan itu. Melihat keterkejutan dan ketakutan di wajah keempatnya, pelanggan itu kembali menjelaskan bahwa Nasi Kucing itu bukan terbuat dari kucing, disebut Nasi Kucing karena porsinya yang sedikit hingga mirip dengan porsi makan kucing. Penjelasan yang membawa kelegaan dan nafsu makan kembali dari keempat orang turis Korea itu.

“Apa yang kau makan?” Jin Sung bertanya pada Seok Hoon setelah mereka berempat duduk di kursi panjang tanpa meja, dengan menopang piring berisi makanan yang mereka pesan.

“Nama makanan di tempat ini lucu dan aneh. Ini namanya sate kikil.” Seok Hoon menunjuk makanan berwarna kuning yang tertusuk bambu, terlihat seperti lembaran karet yang diiris dadu. “Yang ini tempe, sepertinya terbuat dari kacang, rasanya sedikit aneh, tapi lumayan enak.”

“Lalu apa itu?” Lee Jin Sung menunjuk setumpuk besar seperti gilingan cabai di sudut piring Seok Hoon.

“Kata pelanggan yang tadi, aku harus memakan ini semua dengan sambal ini, dia bilang rasanya akan sangat luar biasa.”

            Jin Sung mengangguk mengerti, apa yang ada dipiring Seok Hoon kurang lebih sama dengan apa yang ada di piringnya, kecuali tumpukan cabai halus itu, ia tidak terlalu suka masakan pedas, dan ia tidak ingin bermasalah dengan perutnya di tempat asing ini.

            Mereka berempat makan dengan lahapnya, warga sekitar yang kebetulan membeli makanan di tempat yang sama dengan mereka, menatap mereka dengan bingung dan penuh ketertarikan. Yang mereka sukai dari warga sekitar tempat ini, mereka selalu tersenyum ramah. Mungkin bagi mereka sangat aneh melihat orang asing makan di pinggir jalan alih-alih makan di restoran, cafe atau hotel.

            Selesai makan keempatnya meninggalkan tempat makan mereka, kembali melanjutkan perjalanan tanpa arah yang mereka lalukan.

“Benar-benar ide yang buruk datang ke tempat asing untuk berlibur tanpa panduan seorang guide, kita benar-benar tersesat sekarang.” Kim Hyung Soo bicara, keringat sudah mengalir pelan dari dahi ke wajahnya, terlihat sekali sangat lelah.

“Aku dengar banyak orang Korea yang berlibur di tempat ini, tapi mengapa kita tidak menemukan satu pun.” Jin Sung berkata setengah mengeluh, tangannya mengusap keringat yang bermunculan di dahinya.

“Ini jelas bukan musim liburan, mereka sedang sibuk mencari uang di bulan-bulan seperti ini.” jelas Won Joo, ia pun sama lelah dan kepanasannya seperti yang lain.

“Hah sial.” Jin Sung menngumpat keras. “Jadi mau sampai kapan kita berjalan tanpa tujuan seperti ini?”

“Aku tidak tahu.” Kim Hyung Soo menjawab, seraya menebarkan pandangannya berkeliling, mereka sekarang berada di semacam lorong penuh toko-toko pakaian, souvenir dan lukisan, sementara jalan raya terlihat tidak jauh ada di depan pandangan mereka. “Hah, aku mulai merindukan asisten terbaikku, dia pasti akan mengurusku dalam keadaan melelahkan seperti ini. Aku merindukan Kim Eun Joo… Kenapa aku sampai mengikuti saranmu untuk tidak membawa ponselku.” Kim Hyung Soo sedikit mengerling kesal ke arah Kim Won Joo.

“Andai Han Yoo Bin ada di sini dan melihatku seperti ini, dia pasti akan membawakanku wadah berisi air es yang dingin untuk mengompres kakiku yang jari-jarinya nyaris copot ini.” Jin Sung menimpali, tubuhnya sudah ia sandarkan di sisi tembok sebuah toko lukisan, sementara barang-barang yang baru saja ia beli sudah tergeletak tidak terurus di sisinya. “Yoo Bin aku bersalah padamu.”

            Kim Won Joo mendengus kesal menatap kedua orang yang berumur lebih dari 30 tahun dan nyaris 30 tahun ini bisa bersikap begitu manja seperti ini. Sebelum mereka sepakat dengan liburan ini, mereka terlihat sangat berani, tapi lihat semua keluhan yang mereka keluarkan. Mereka itu benar-benar tidak tertolong.

            Tapi mau tidak mau dalam situasi seperti ini Kim Won Joo juga merasakan kekosongan yang sama dengan kedua sahabatnya. Jin Bora, wajah gadis yang dicintainya itu terlintas jelas di benaknya sekarang, pertengkaran yang terjadi sebelum ia memutuskan untuk merencanakan liburan ini terasa begitu konyol sekarang, ketika ia merasa begitu ingin melihat Jin Bora tersenyum padanya, dan ia tidak bisa membohongi dirinya jika ia tidak merindukan gadis itu sekarang.

“Kemana Seok Hoon hyeong?” Won Joo tiba-tba tersentak saat ia sadar Lee Seok Hoon belum mengeluarkan keluhannya, karena Lee Seok Hoon tidak bersama mereka.

“Kemana dia? Bukankah tadi dia berjalan di belakangmu?” Kim Hyung Soo balik bertanya.

“Aku tidak tahu, tadi dia memang berjalan di belakangku, tapi aku tidak tahu dia tertinggal dimana.” Jawab Jin Sung.

            Kim Won Joo, dengan cepat berjalan ke arah yang sebelumnya dia lalui bersama yang lain, ada kekhawatiran menyelinap di benaknya, ada yang terlihat tidak baik tadi dilihatnya dari Lee Seok Hoon, ia terlihat sedikit pucat. Ketika Won Joo bertanya, saat itu Seok Hoon menjawab, perutnya terasa sedikit sakit, dan menyatakan dirinya baik-baik saja, tapi tampaknya tidak seperti itu.

            Dan benar kekhawatiran Won Joo, saat ia berbelok ke sebuah jalan kecil yang sebelumnya mereka lewati, ia melihat Lee Seok Hoon sudah terduduk bersandar di jalan sepi, dengan kondisi yang sama sekali tidak terlihat baik. Won Joo berlari diikuti yang lain menghampiri Lee Seok Hoon yang sepertinya sudah nyaris tergeletak di jalan.

Hyeong…”

            Kim Won Joo langsung menyambar tubuh lemas Lee Seok Hoon, sebelum tubuh itu tergeletak di atas jalan setapak. Wajah Lee Seok Hoon sudah sepucat kertas, keringat dingin terlihat membasahi wajahnya, sementara matanya hanya terbuka sedikit saja.

“Astaga ada apa dengannya?” Kim Hyung Soo berkata panik. “Ya Lee Seok Hoon, sadarlah, apa kau baik-baik saja?”

Hyeong bangun hyeong.” Lee Jin Sung menepuk pipi Lee Seok Hoon dengan sama paniknya.

            Lee Seok Hoon hanya membuka matanya perlahan, ia membuka mulutnya tapi tidak mengatakan apa-apa, seolah ia tidak terlalu kuat untuk bicara.

“Kenapa dia?” Kim Hyung Soo kembali bertanya di tengah kepanikannya.

“Dia tadi mengeluh sakit perut, ini mungkin gara-gara makanan yang tadi ia makan.” Won Joo coba menjelaskan. “Kita harus mencari bantuan.”

            Kim Won Joo menatap putus asa ke jalan kecil ini yang begitu sepi, kemana mereka harus meminta bantuan, kemana perginya orang-orang yang mungkin bisa mereka mintai bantuan.

“Angkat dia.” Perintah Won Joo, “Kalian bopong dia ke jalan raya di depan sana. Aku akan berlari lebih dulu untuk mencari kendaraan yang akan membantu membawa Seok Hoon hyeong.”

            Tanpa menunggu kesediaan dua hyeong-nya Kim Won Joo langsung berlari menuju jalan raya. Di tengah kepanikannya ia harus berusaha mencari sesuatu yang bisa membawa Lee Seok Hoon kemana pun yang diperlukan. Bila perlu ia akan membaringkan tubuhnya di tengah jalan jika tidak ada kendaraan yang mau menolong mereka di sana.

            Sampai di tepi jalan, Kim Won Joo dilanda kebingungan, kebanyakan yang melintas di jalan raya kecil ini adalah kendaraan roda dua entah itu sepeda atau sepeda motor, membuatnya semakin putus asa.

“Ya Tuhan tolonglah.” Gumam Kim Won Joo. Kim Hyung Soo dan Lee jin Sung yang membopong tubuh Lee Seok Hoon sudah terlihat, tapi ia belum menemukan kendaraan apa pun.

            Di tengah kepanikan dan keputusasaannya Kim Won Joo melihat sebuah minibus, melaju beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang, rasanya ia pernah melihat mobil itu, rasanya ia pernah membaca tulisan yang ada di depan mobil itu, tapi dimana… Seketika itu ia ingat, ia membaca itu ketika mereka meninggalkan hotel pagi tadi, mobil itu terparkir di lobi hotel pagi tadi.

            Mobil itu melaju semakin mendekat, begitu pun tubuh lemas Lee Seok Hoon yang dibopong Lee Jin Sung dan Kim Hyung Soo. Tidak ada pilihan lagi, Kim Won Joo berjalan ke tengah jalan, berdiri di tengahnya, siap untuk menghadang mobil itu, ia tidak akan mungkin membiarkan mobil itu melaju begitu saja, tidak di saat Lee Seok Hoon mungkin sedang dalam kondisi yang berbahaya.

            Kim Won Joo memejamkan matanya, saat hanya beberapa meter saja mobil besar itu menuju tempatnya berdiri. Suara keras klakson mobil terdengar begitu kencang di telinganya. Andai mobil itu tidak berhenti dan malah menabraknya, mungkin ia akan mati. Ya Tuhan benarkah ia siap mati dalam keadaan konyol seperti ini?

*          *          *

“Ya Lee Seok Hoon, kau ini gila, kau nyaris membuat kami mati ketakutan.” Lee Jin Sung segera bicara saat Lee Seok Hoon membuka matanya setelah diperiksa dan diberikan obat oleh dokter yang disediakan hotel tempat mereka menginap. “Kau tahu punggungku ini sakit sekali setelah berlari dan membopong tubuh beratmu itu.”

“Bukan hanya kau yang membopong dia, aku pun melakukan hal yang sama.” Kim Hyung Soo tidak mau kalah. “Lee Seok Hoon, jangan pernah membuat kami panik seperti itu tadi. Kau tahu Kim Won Joo nyaris menabrakkan dirinya hanya untuk membawamu kembali ke tempat ini.”

            Wajah Lee Seok Hoon yang masih pucat mengguratkan senyum kecil, mata sayunya menatap bergantian pada sahabat-sahabatnya.

“Terima kasih kalian mau mengurusku tadi, aku tidak tahu akan seperti apa jika kalian tidak membantuku.”

“Tentu saja kami akan mengurusmu, kami tidak ingin pulang ke Korea dengan beban menjelaskan pada kedua orangtuamu bahwa anaknya tidak bisa kembali karena makan sembarangan.” Kim Won Joo berkata, setengah meledek. “Dokter mengatakan perutmu keram karena makanan yang kau makan. Tumpukan cabai giling yang ada di piring makanmu siang tadi, nyaris membuatmu tidak kembali ke korea dalam keadaan baik-baik saja. Tapi syukurlah, dokter mengatakan kau akan baik-baik saja.”

“Aku tidak tahu makanan itu tidak bisa diterima dengan baik oleh tubuhku.” Seru Lee Seok Hoon pelan.

            Ponsel Lee Seok Hoon di atas meja sisi tempat tidur berbunyi, Lee Jin Sung meraih ponsel itu, tersenyum saat menatap layar ponsel.

“Ini Park Hye Jin. Dia sudah 10 kali menelepon saat kau tertidur tadi, ia begitu mencemaskanmu hyeong.”

            Lee Seok Hoon kembali tersenyum. Mendengar Park Hye Jin begitu mengkhawatirkanya, ada semacam kehangatan yang menyelubungi dirinya. Walaupun kejadian ini nyaris membahayakan hidupnya, ia senang dengan ini semua ia bisa merasakan kekhawatiran dan kepedulian Hye Jin untuknya. Kenyataan ini membuat kerinduaannya pada Park Hye Jin semakin memenuhi benaknya.

“Biarkan ia menerima telepon dari kekasihnya, mungkin ia ingin mengadu sambil menangis pada kekasihnya tanpa di ganggu kehadiran kita.” Seru Kim Hyung Soo, sambil mengajak Jin Sung dan Won Joo meninggalkan Seok Hoon yang terbaring di atas tempat tidur.

“Terima kasih atas pengertian kalian.” kata Seok Hoon sebelum bicara dengan Park Hye Jin di telepon.

            Kim Won Joo tersenyum melihat Seok Hoon bicara di telepon dengan kekasihnya, ia yakin sekali Lee Seok Hoon sedang menceritakan apa yang hari ini dilewatinya, dan betapa menderita dirinya hari ini.

“Aku juga akan menelepon Han Yoo Bin.” Kata Lee Jin Sung, dengan bersemangat melangkah keluar kamar. “Aku akan menelepon sambil minum kopi di cafe hotel ini, kalian jangan ada yang mengikutiku.”

“Kalau kau bagaimana hyeong?” Won Joo bertanya setelah Lee Jin Sung berjalan kelua kamar. “Aku mungkin akan berjalan-jalan di sekitar hotel ini, sambil menelepon seseorang tentu saja.”

             Kim Hyung Soo mengikuti Lee Jin Sung keluar kamar Hotel. Tidak seperti kedua sahabatnya Kim Won Joo lebih memilih tinggal, setelah seharian berjalan ia merasa akan lebih baik jika ia tetap berada di kamar ini. Menemani Lee Seok Hoon.

            Seok Hoon terlihat masih bicara di telepon, sesekali ia terlihat tertawa, terkesan begitu bahagia. Kim Won Joo membuka pintu menuju beranda hotel, angin malam yang menyejukkan langsung menerpa wajahnya. Kim Won Joo berdiri di sisi beranda menatap ke pemandangan di bawahnya. Hamparan laut di dekat hotel ini terkesan begitu indah dengan ombak lembut yang bergerak ke sisi laut. Seperti yang dikatakan kebanyakan orang tempat ini memang indah, andai ia bisa berjalan di malam hari di sisi laut itu sambil menggenggam tangan seseorang yang begitu dicintainya tentu akan sangat menyenangkan.

            Kim Won Joo mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia tidak bisa lagi menahan kerinduannya pada seseorang, ia harus mendengar suara orang itu jika ingin tidur dengan nyenyak.

“Apa kau sedang bersama teman laki-laki lagi?” Won Joo langsung mengatakan itu ketika Jin Bora menjawab teleponnya. Senyum lebar langsung tergurat di wajah Kim Won Joo ketika telinganya langsung menangkap berbagai kata tidak sabar penuh kejengkelan dari Jin Bora, ia selalu suka cara Jin Bora bicara sambil mengomel seperti ini, satu hal yang biasa selalu menyulut pertengkaran diantara mereka, tapi kali ini menjadi hal yang begitu dirindukannya.

“Apa kau merindukanku?” Won Joo bertanya, memotong kata-kata cepat yang dikatakan Jin Bora di telepon. Bora tidak mengatakan apa-apa, tapi tanpa gadis itu katakan, Won Joo bisa tahu jawabannya apa.

“Aku sangat merindukanmu.” Kata Won Joo pelan. Dan di seberang telepon Jin Bora berkata lirih. “Cepat kembalilah, aku juga sangat merindukanmu.”

            Kalimat yang berhasil membuat gurat senyum di wajah Won Joo merekah semakin lebar, seiring rasa hangat menyenangkan yang memenuhi dirinya.

*          *          *

“Hei apa yang terjadi?” Lee Seok Hoon langsung menghentikan langkahnya sesaat ketika mereka sampai di ruang tunggu kedatangan internasional bandara Incheon. “Mengapa begitu banyak orang menyambut kita?”

            Entah ada berapa puluh orang gadis muda yang berdiri berjajar di sana bahkan diantara mereka ada yang membawa kartun besar bertuliskan nama mereka berempat.

“Untuk apa mereka seperti ini?” Lee Jin Sung menjajari Lee Seok Hoon, melepaskan kaca mata gelap yang dipakainya. “Hei lihat ada yang membawa posterku.”

            Jin Sung menunjuk seorang gadis yang memang membawa posternya, wajahnya terlihat senang melihat itu.

“Bagaimana kalian suka dengan sambutan ini?” Kim Hyung Soo bertanya, dia tidak terlihat kaget sama sekali, ia malah terkesan menikmati situasi ini.

“Ini pasti pekerjaanmu hyeong.” Won Joo mencoba menerka.

“Aku hanya membuat sebuah tweet malam tadi, aku mengatakan bahwa jika ada yang menyambut kepulangan kita hari ini dengan membawa poster, atau apa pun, aku akan membagikan oleh-oleh istimewa untuk mereka. Dan ternyata mereka benar-benar datang, aku ini memang memiliki banyak pengemar yang setia.”

“Untuk apa kau melakukan itu?” Seok Hoon bertanya, setengah geli setengah tidak percaya dengan apa yang dilakukan Kim Hyung Soo.

“Aku hanya tidak suka keluar bandara tanpa teriakan, seperti beberapa hari yang lalu.” kata Hyung Soo, sebelum melanjutkan langkahnya sambil melambaikan tangan pada para penggemarnya.

            Ketiganya hanya tersenyum menanggapi kelakuan Kim Hyung Soo, kakak tertua yang sama sekali jauh dari sikap yang dewasa. Di liburan kali ini mereka memang banyak melewati hal tidak menyenangkan, tapi lewat liburan ini pula mereka menyadari bahwa apa yang mereka tinggalkan dan memiliki adalah satu hal yang sangat berharga untuk mereka, satu hal yang walaupun tidak sempurna tetap berarti untuk mengisi kehidupan mereka.

SOU - lost in bali

 – The End –

Advertisements

One response »

  1. Sabar bang. . Kalau u ngetwit mau datang ke Indo,kantor gw gak gtu jauh dari Bandara kok, tak bawain Marawis deh. . Lengkap sama Ondel2nya. . XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s